Suarez Menangis karena Jadi Biang Kekalahan Uruguay
Tingkah laku Luis Suarez di lapangan sepak bola memang tidak selalu positif. Dia pernah menggigit lawannya, berbuat rasialis kepada pemain kulit hitam, hingga berseteru dengan wasit.
Franco Armani/Reuters-Edgard Garrido
Harianjogja.com, JOGJA - Franco Armani bermain sangat buruk saat Argentina disingkirkan Prancis 3-4 di perdelapan final Piala Dunia 2018. Dia sangat lamban dan dengan mudah dipecundangi Kylian Mbappe, Antoine Griezmann, dan Benjamin Pavard. Namun, di Copa America 2019, kiper 32 tahun itu menyelamatkan muka Argentina dari aib.
Armani menatap tajam pemain Paraguay, Derlis Gonzalez, yang berancang-ancang menendang bola dari titik putih. Jika bola dari titik penalti itu menembus gawang Argentina, maka langkah timnya bisa jadi sudah habis di Copa America 2019 ini. Pasalnya, kedudukan saat itu 1-1 pada menit ke-63. Kekalahan bisa membuat Argentina di ambang angkat koper lebih cepat dari rumah rival abadi mereka, Brasil.
Armani pun membuat suporter timnya lega karena akhirnya berhasil menyelamatkan gawang Argentina lewat tepisannya. Penyelamatan Armani pada laga kedua Grup B di Stadion Mineirao, Belo Horizonte, Kamis (20/6/2019) dini hari WIB, itu sangat berharga bagi Tim Tango, julukan Argentia, untuk bertahan di Copa America.
Penjaga gawang River Plate sekaligus memberi bukti bahwa dirinya layak dijadikan kiper nomor satu La Albiceleste, julukan Argentina, pada Copa America kali ini. "Kami percaya Franco. Dia kiper kami. Dia menyelamatkan sebuah penalti dan membuat kami tetap hidup. Saya sangat senang dengan sebuah performa bagusnya," ujar Scaloni, seperti dilansir onefootball.com.
Beberapa waktu lalu, Scaloni memang berani memberi jaminan kiper berusia 32 tahun tersebut masuk skuat Argentina untuk Copa America 2019 ini. Karteker pelatih Tim Tango itu lebih memilih Armani ketimbang nama-nama beken lainnya, termasuk kiper langganan Argentina, Sergio Romero.
Penyelamatannya atas tendangan penalti Derlis Gonzalez itu membuat Armani menjadi kiper kedua Argentina setelah Romero yang menyelamatkan penalti di Copa America. Menurut catatan Opta Javier, sebelumnya, Romero juga membukukan penyelamatan dari tendangan titik putih saat menghadapi pemain Venezuela, Luis Seijas, pada Copa America 2016 silam.
"Kami sangat beruntung kami masih bertahan di turnamen ini," lanjut Scaloni.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Sumber : JIBI/Solopos
Tingkah laku Luis Suarez di lapangan sepak bola memang tidak selalu positif. Dia pernah menggigit lawannya, berbuat rasialis kepada pemain kulit hitam, hingga berseteru dengan wasit.
Satpol PP Bantul menertibkan puluhan spanduk dan rontek liar yang dipasang melintang di jalan dan dekat lampu lalu lintas.
Meta memakai AI untuk mendeteksi akun anak di bawah 13 tahun di Facebook dan Instagram tanpa verifikasi dokumen.
Jakarta Garuda Jaya menghadapi Foolad Sirjan Iranian pada perempat final AVC Champions League 2026 Putra malam ini di Pontianak.
Amerika Serikat membebaskan deposit visa bagi sebagian penonton Piala Dunia 2026 dari negara tertentu pemegang tiket resmi.
Meta menguji fitur Meta AI di Threads yang memungkinkan pengguna bertanya langsung soal tren dan berita viral seperti Grok di X.