Piala Dunia 2026 Diramaikan 310 Pemain Diaspora, Curacao Terbanyak

Jumali
Jumali Kamis, 04 Juni 2026 12:27 WIB
Piala Dunia 2026 Diramaikan 310 Pemain Diaspora, Curacao Terbanyak

Pesepak bola tim nasional Indonesia Elkan Baggott (kanan) berebut bola dengan pesepak bola Tim Nasional Curacao Rangelo Maria (kiri) pada pertandingan Fifa Match Day di Stadion Gelora Bandung Lautan Api, Bandung, Jawa Barat, Sabtu (24/9/2022) / ANTARA FOTO- Raisan Al Farisi

Harianjogja.com, JOGJA—Fenomena pemain diaspora semakin mewarnai panggung sepak bola internasional. Pada Piala Dunia 2026, ratusan pemain yang tampil membela tim nasional ternyata lahir di negara berbeda dari negara yang mereka wakili.

Data yang dirilis FIFA menunjukkan terdapat 310 pemain kelahiran luar negeri dari total 1.248 pemain yang berlaga pada turnamen tersebut. Angka itu setara dengan hampir seperempat dari seluruh peserta Piala Dunia 2026.

Keberadaan pemain diaspora menjadi salah satu faktor yang membuat kompetisi sepak bola modern semakin beragam. Banyak negara memanfaatkan keturunan warga negaranya yang lahir dan berkembang di luar negeri untuk memperkuat kualitas tim nasional.

Salah satu contoh paling mencolok adalah Curacao. Tim ini disebut memiliki 25 pemain yang lahir di Belanda dari total 26 pemain dalam skuadnya. Kondisi tersebut menjadikan Curacao sebagai salah satu negara dengan ketergantungan terbesar terhadap pemain diaspora.

Sementara itu, Republik Demokratik Kongo juga mengandalkan banyak pemain kelahiran luar negeri. Sebagian besar pemain mereka lahir dan berkembang di negara-negara Eropa seperti Prancis, Belgia, Inggris, dan Swiss.

Di kawasan Asia, Qatar menjadi salah satu tim dengan latar belakang pemain paling beragam. Skuad mereka disebut terdiri atas pemain yang lahir di sejumlah negara berbeda, termasuk Brasil, Ghana, Portugal, Senegal, dan Somalia.

Fenomena ini menunjukkan bahwa mobilitas penduduk global turut memengaruhi perkembangan sepak bola internasional. Banyak pemain yang memiliki hak membela lebih dari satu negara karena faktor keturunan, tempat lahir, maupun kewarganegaraan.

Di sisi lain, sejumlah negara tetap mempertahankan skuad yang seluruh pemainnya lahir di dalam negeri. Negara-negara tersebut antara lain Brasil, Republik Ceko, Austria, Swedia, Kolombia, Panama, Afrika Selatan, dan Arab Saudi.

Brasil menjadi salah satu contoh menarik. Meski mayoritas pemainnya berkarier di kompetisi elite Eropa, seluruh anggota skuad tetap lahir di Brasil. Kondisi serupa juga terlihat pada Arab Saudi yang mengandalkan pemain-pemain kelahiran lokal dengan mayoritas bermain di kompetisi domestik.

Penggunaan pemain diaspora selama ini menjadi perdebatan di dunia sepak bola. Pendukung kebijakan tersebut menilai pemain diaspora membantu meningkatkan daya saing negara-negara yang memiliki keterbatasan sumber daya pemain.

Sebaliknya, sebagian pihak mempertanyakan kedekatan emosional pemain dengan negara yang dibela, terutama jika pemain tersebut lahir, besar, dan berkarier sepenuhnya di negara lain.

Meski demikian, aturan FIFA memperbolehkan pemain membela negara tertentu sepanjang memenuhi syarat kewarganegaraan dan ketentuan perpindahan asosiasi yang berlaku.

Piala Dunia 2026 pun menjadi gambaran bagaimana sepak bola telah berkembang menjadi olahraga yang semakin global. Di tengah perbedaan latar belakang dan tempat lahir, para pemain tetap bersatu untuk memperjuangkan warna dan lambang negara yang mereka wakili di panggung dunia.

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Share

Jumali
Jumali Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online