Piala Dunia 2026 Jadi Panggung Kebangkitan Sepak Bola Afrika

Jumali
Jumali Minggu, 28 Juni 2026 13:07 WIB
Piala Dunia 2026 Jadi Panggung Kebangkitan Sepak Bola Afrika

Hasil pertandingan RD Kongo melawan Uzbekistan/ Fifaworldcup


Harianjogja.com, JOGJA— Piala Dunia 2026 menjadi panggung kebangkitan sepak bola Afrika. Delapan negara dari benua tersebut dipastikan melaju ke babak 32 besar, menciptakan rekor baru sebagai jumlah wakil Afrika terbanyak yang berhasil menembus fase gugur sepanjang sejarah turnamen.

Rekor itu dipastikan setelah RD Kongo menaklukkan Uzbekistan 3-1 pada laga terakhir Grup K. Kemenangan tersebut mengantar RD Kongo lolos sebagai salah satu tim peringkat ketiga terbaik sekaligus melengkapi dominasi Afrika di fase grup.

Delapan negara Afrika yang telah memastikan tempat di babak 32 besar adalah Maroko, Afrika Selatan, Senegal, Pantai Gading, Ghana, Tanjung Verde, Mesir, dan RD Kongo. Jumlah tersebut melampaui rekor sebelumnya ketika Afrika hanya mampu mengirim dua wakil ke fase gugur pada edisi 2014 dan 2022.

Rekor bersejarah bagi Afrika

Keberhasilan delapan negara lolos sekaligus menjadi bukti meningkatnya daya saing sepak bola Afrika di level dunia. Tidak hanya negara-negara yang sudah mapan seperti Maroko, Senegal, dan Pantai Gading, sejumlah tim yang selama ini kurang diperhitungkan juga mampu mencuri perhatian.

Tanjung Verde dan RD Kongo menjadi dua kisah paling menarik di turnamen kali ini. Keduanya berhasil menembus fase gugur Piala Dunia untuk pertama kalinya dalam sejarah.

Bagi RD Kongo, pencapaian tersebut terasa semakin spesial karena mereka baru kembali tampil di Piala Dunia setelah penantian selama 52 tahun.

RD Kongo tulis kisah inspiratif

Kemenangan atas Uzbekistan tidak diraih dengan mudah. RD Kongo sempat tertinggal lebih dahulu sebelum bangkit dan membalikkan keadaan melalui dua gol Yoane Wissa serta satu gol dari Fiston Mayele.

Mayele mengaku bangga bisa menjadi bagian dari sejarah sepak bola negaranya.

"Ini benar-benar bersejarah bagi negara kami, Kongo. Ini kemenangan pertama dan babak gugur pertama," kata Fiston Mayele dikutip dari BBC.

Sementara itu, Yoane Wissa menilai keberhasilan timnya merupakan hasil dari perjalanan panjang yang penuh tantangan.

"Sekarang setiap tim Afrika bisa bermimpi besar. Di Piala Dunia terakhir, Maroko mencapai semifinal. Kini ada delapan tim Afrika di babak gugur," ujarnya.

Maroko tetap jadi panutan

Di antara seluruh wakil Afrika, Maroko masih menjadi tolok ukur keberhasilan kawasan tersebut. Setelah mencatat sejarah sebagai negara Afrika pertama yang mencapai semifinal Piala Dunia pada 2022, mereka kembali tampil kompetitif pada edisi 2026.

Maroko mengakhiri fase grup sebagai runner-up Grup C di bawah Brasil. Salah satu hasil terbaik mereka adalah menahan imbang Brasil 1-1 pada pertandingan pembuka.

Keberhasilan itu semakin penting mengingat Maroko akan menjadi salah satu tuan rumah Piala Dunia 2030.

Masa depan Afrika semakin cerah

Pencapaian delapan wakil di fase gugur menunjukkan bahwa kesenjangan kualitas antara Afrika dan kawasan tradisional kuat seperti Eropa maupun Amerika Selatan semakin mengecil.

Munculnya generasi baru pemain berbakat dari berbagai negara juga menjadi modal penting bagi perkembangan sepak bola Afrika. Keberhasilan negara-negara seperti RD Kongo dan Tanjung Verde membuktikan bahwa peluang untuk bersaing di level tertinggi kini semakin terbuka.

Jika tren positif ini terus berlanjut, Piala Dunia 2026 bisa dikenang sebagai titik balik kebangkitan sepak bola Afrika di panggung global.

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Share

Jumali
Jumali Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online