Remaja di Berbah Dibacok Saat Pulang Mancing, Ini Kronologinya
Remaja 17 tahun di Berbah, Sleman, dibacok celurit saat pulang memancing. Polisi menangkap dua pelaku yang diduga salah sasaran.
PSS Sleman./Istimewa
Harianjogja.com, SLEMAN—Markus Madjar masih menanti kesempatan mencatatkan menit bermain bersama PSS Sleman di Liga 1. Hingga tiga pertandingan yang dijalani Super Elja, pemain tersebut belum sekalipun diturunkan.
Di tengah penantiannya, Madjar terus berusaha meningkatkan daya tahan fisik sekaligus beradaptasi dengan atmosfer kompetisi kasta tertinggi. Ia juga membangun chemistry dengan para pemain senior PSS.
Madjar mengakui proses adaptasi dengan tim sempat tidak mudah. Namun, seiring waktu, ia mulai menemukan konektivitas dengan rekan-rekannya yang lebih senior.
"Saya sudah mulai beradaptasi dengan tim juga ya. Pada saat awal-awal mungkin agak sedikit susah ya untuk beradaptasi, tapi dengan berjalannya waktu ini sudah, ya puji Tuhan sudah cukup mendapatkan chemistry dengan senior-senior di sini," kata Madjar usai latihan di Stadion Maguwoharjo pada Jumat (2/10/2026).
Fokus Tingkatkan Daya Tahan
Dari tiga laga yang telah dimainkan PSS, Madjar memang belum mendapatkan menit bermain. Ia mendapat instruksi khusus dari pelatih untuk meningkatkan daya tahan fisiknya.
Instruksi tersebut coba dijalankan Madjar dengan memaksimalkan latihan dari hari ke hari. Ia percaya kesempatan bermain akan datang ketika waktunya tiba.
"Instruksi khusus dari pelatih ya mungkin saya tingkatkan daya tahan lagi ya, karena saya daya tahannya agak kurang begitu bagus ya," ujarnya.
Madjar mengaku telah berusaha maksimal dalam beberapa pekan terakhir. Ia menyerahkan keputusan mengenai kesempatan bermain kepada pelatih.
"Ya dalam beberapa pekan ini saya sudah berusaha yang semaksimal mungkin dan puji Tuhan mungkin kalau Tuhan menghendaki, saya bisa main dan itu semua [keputusan] dari pelatih juga ya," imbuh Madjar.
Belajar dari Pemain Asing
Musim ini menjadi pengalaman pertama bagi Madjar berkompetisi di Liga 1. Dari pengamatannya, kompetisi tersebut memiliki intensitas permainan yang lebih tinggi dibandingkan Liga 2.
Kondisi itu membuat pemain harus mampu mengambil keputusan dengan cepat. Madjar pun memanfaatkan kesempatan tersebut untuk banyak belajar, terutama dari para pemain asing yang dinilainya memiliki kualitas bagus.
"Mungkin yang saya ambil dari sini [Liga 1] kan banyak pemain asingnya dengan kualitas yang cukup bagus, terus dengan permainan mereka dengan intensitas yang tinggi sekali. Ya dari situ juga saya belajar dari mereka ya agar bisa bermain cepat, berpikir dengan cepat dalam mengambil keputusan," ujarnya.
Menurut Madjar, tuntutan tersebut menjadi salah satu pembeda antara Liga 1 dan Liga 2.
"Itu yang membuat beda ya antara Liga 1 dan Liga 2, karena Liga 1 intensitasnya lebih tinggi," lanjut Madjar.
Bidik Poin Pertama PSS
Kesempatan berikutnya bagi PSS akan datang saat menghadapi PSM Makassar. Madjar berharap timnya mampu meraih poin pertama dalam pertandingan tersebut.
Harapan itu disampaikan karena PSS belum berhasil mendapatkan satu poin pun dari tiga laga terakhir yang dijalani.
"Harapan saya ya harus mendapatkan tiga poin ya, karena itu juga poin pertama juga buat kami ya karena dalam tiga kali pertandingan beruntun ini kami tidak mendapatkan hasil yang baik. Ya dari saya itu saja. Harus mendapat poin," pungkasnya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Remaja 17 tahun di Berbah, Sleman, dibacok celurit saat pulang memancing. Polisi menangkap dua pelaku yang diduga salah sasaran.
Pemerintah menargetkan jalan tol bebas truk ODOL mulai 1 Januari 2027 dengan integrasi data dan pengawasan berbasis teknologi.
Ingin mengambil Paket C? Simak syarat dokumen, cara daftar, proses pembelajaran, hingga ketentuan penilaian dan ujian Paket C.
Memasuki usia ke-270, Kota Jogja didorong terus memodernisasi kota dengan tetap berpijak pada budaya, sejarah, lingkungan, transportasi publik, dan kawasan rend
Partisipasi Pilur Serentak 2026 Bantul mencapai 73,7%. DPMK menyiapkan evaluasi dan sosialisasi untuk meningkatkan partisipasi pada 2028.
Menko PMK meminta Menpora menghitung tambahan bonus atlet peraih medali emas Asian Games dan Olimpiade serta menyiapkan dana pensiun.