PERSIBA BANTUL : Pemain Dihantui Kebingungan

Rabu, 15 April 2015 23:40 WIB
PERSIBA BANTUL : Pemain Dihantui Kebingungan

JIBI/Desi Suryanto Pemain Persiba Bantul berjibaku untuk menyarangkan bola ke gawang Pro Duta FC yang dikawal Dennis Romanovs pada laga Indonesian Premier League 2013 di Stadion Sultan Agung, Bantul, DI. Yogyakarta, Sabtu (07/092013). Persiba unggul dengan kemenangan tipis 1-0 atas Pro Duta FC.

Persiba Bantul masih menanti kabar dari PT Liga Indonesia.

Harianjogja.com, BANTUL - Pemain Persiba Bantul mulai merasakan kebingungan sebagai imbas ketidakjelasan kompetisi yang akan mereka ikuti. Hingga kini para pemain hanya bisa pasrah menunggu kabar baik dari PT Liga Indonesia selaku operator kompetisi.

Penggawa Laskar Sultan Agung khawatir kisruh antara PSSI dengan Badan Olahraga Profesional Indonesia (BOPI) ini bakal memupus kelanjutan karier mereka sebagai pesepak bola. Bagaimana pun kelangsungan kompetisi menjadi lahan para pemain dalam mencari sumber penghidupan. Sementara para pemain sudah lebih dari empat bulan meninggalkan keluarga karena harus mengikuti pemusatan latihan agar bisa dikontrak klub.

Kapten Persiba Wahyu Wijiastanto pun mengaku bingung dan resah melihat kondisi sepak bola Tanah Air saat ini.

"Jelas kami bingung, hingga kini belum ada kejelasan kompetisi. Jika belum ada kejelasan seperti itu, kontrak kan semakin tertunda juga," ujarnya kepada Harianjogja.com, Selasa (14/4/2015).

Padahal lanjut dia, kepastian kontrak yang paling ditunggu pemain guna menafkahi keluarga di rumah. Kendati mengalami kebingungan, beruntung para pemain masih bisa mengendalikan pikiran sehingga tidak ada yang mengalami stres.

Beragam kesibukan dia lakukan bersama para pemain lainnya agar masalah ketidakjelasan kompetisi tidak selalu membayangi.

"Di mess saya dan pemain lainnya mencoba membuat beragam kegiatan untuk mengusir rasa suntuk," tandas pemain asal Karanganyar, Jawa Tengah itu.

Permainan karambol menjadi wahana mengasikkan yang dilakukan para pemain untuk membuang kejenuhan. Selain karambol, permainan remi juga menjadi sarana penghilang suntuk.

Best player Divisi Utama 2011 itu sendiri punya kesibukan khusus sehingga masalah ketidakjelasan kompetisi tak lagi mengganjal di pikirannya. Tanto, sapaan akrabnya, sengaja memelihara burung di Mess Persiba.

"Saya beli burung di Pasty [pasar hewan] dan saya pelihara di mess. Daripada suntuk mending pelihara burung untuk menghindari stres," tandas Tanto.

Pelatih Didik Listiyantara menyadari anak asuhnya kini tengah mengalami kebingungan akibat kompetisi yang tak kunjung ada titik terangnya. Merasa ikut bertanggung jawab, Didik pun tidak terlalu mengekang apa saja yang ingi dilakukan para pemainnya, selagi itu tidak menyebabkan penurunan fisik.

"Saya berikan kebebasan kepada pemain. Mereka [pemain] bisa melakukan refreshing selagi tidak pada jam latihan," terang Didik terpisah.

Niat Didik sebenarnya ingin memberikan libur kepada pemain agar bisa pulang ke rumah masing-masing dulu. Namun dia merasa dilema. Eks pelatih Persis Solo itu khawatir apabila secara tiba-tiba ternyata kompetisi jadi kick off pada 26 April nanti.

"Jika itu terjadi dan saya terlanjur memberikan libur kan bahaya buat tim. Sudah susah-susah menaikkan performa pemain, akhirnya harus kembali ke nol lagi. Dalam situasi serba tidak jelas ini meliburkan pemain juga berisiko," jelas Didik.

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Share

Mediani Dyah Natalia
Mediani Dyah Natalia Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online