OJK Catat Pembiayaan Investasi Multifinance Rp167,89 Triliun
OJK mencatat pembiayaan investasi multifinance turun 5,33% menjadi Rp167,89 triliun pada semester I/2026.
Pemain PSS Asmi Azwibi (hijau, tengah) berebut bola dengan pemain Persinga Ngawi pada laga uji coba di Stadion Maguwoharjo, Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta, Selasa (17/2/2015) malam. Laga kedua kesebelasan berakhir dengan skor 3-3. (JIBI/Solopos/Harian Jogja)
PSSI dibekukan, pemain akan kehilangan mata pencaharian jika kompetisi dihentikan.
Harianjogja.com, SLEMAN—PSSI memutuskan untuk menghentikan kompetisi di semua level melalui rapat Komite Eksekutif (Komeks) PSSI, Sabtu (2/5/2015). Pemain pun kena getahnya.
Penghentian Divisi Utama 2015 membuat pikiran kiper PSS Sleman Syamsidar waswas. Alasannya cukup realistis, tanggungan beban keluarga. Punya istri dan tanggungan dua anak jelas menjadi beban bagi mantan kiper Timnas Indonesia itu ketika kompetisi tidak jelas pelaksanaannya.
“Anak saya dua, yang pertama usia tiga tahun, sementara yang kedua masih berusia tiga tahun. Saya bermain bola demi mencukupi kebutuhan keluarga,” ujar kiper berumur 32 tahun tersebut, Kamis (30/4/2015).
Jika kompetisi belum jelas, klub urung menggaji pemain. Dia menyadari dengan kondisi itu mengingat semua klub merasakan hal serupa. Pesepak bola tamatan SMA itu pun tak bisa berbuat banyak. Pasrah sembari berdoa, hanya itu yang bisa Syamsidar lakukan.
Kondisi saat ini merupakan situasi terburuk sepanjang kiprahnya mengais rezeki di lapangan hijau. Berkecimpung di dunia sepak bola profesional sejak 2004, pemain kelahiran Makassar itu belum pernah merasa khawatir seperti sekarang.
Meski kondisi serba sulit, Syamsidar tetap bersikap profesional. Dia tetap semangat dalam melakukan latihan.
“Sepak bola adalah pekerjaan saya dan tentu saya harus menghargai pekerjaan ini. Bentuk penghargaan tentu saja dengan tetap semangat berlatih, apapun kondisinya,” ujar dia.
Wawan Widiyantoro, pemain gaek PSS Sleman juga mengungkapkan kecemasan serupa.
“Sekarang pengelola sepak bola Indonesia banyak masalah, akhirnya mengorbankan klub dan pemain,” tutur pemain berusia38 tahun yang sudah merasakan bermain di berbagai klub di penjuru Nusantara itu.
Dia mengharapkan agar para pengurus sepak bola Indonesia duduk satu meja dan menurunkan ego masing-masing demi kemajuan. Salah satu pemain PSIM Jogja, Eko Budi Santoso, menyatakan sepak bola Indonesia semakin tidak jelas.
“Dibandingkan dengan musim lalu, tentu kali ini lebih buruk. Kami sudah berlatih dan menyiapkan diri, tiba-tiba kompetisi tidak dihentikan karena permasalahan PSSI dan Kemenpora,” ujar gelandang bertahan ini.
Menurut Eko, konflik PSSI dan Kemenpora yang berlarut-larut memakan korban cukup banyak. Namun dia masih menyimpan keyakinan.
“Sejauh ini saya masih memiliki semangat untuk tetap menjadi pemain sepak bola profesional,” imbuh Eko yang mulai menekuni profesi sebagai pemain sepak bola sejak 1999 ini.
Mengenai kemungkinan suspensi dari FIFA akibat intervensi pemerintah, Eko enggan banyak berkomentar. Bapak satu anak ini berharap kompetisi tetap berjalan. Eko menuturkan selama ini penghasilan dari menjadi pemain sepak bola profesional dirasa sudah mencukupi untuk kehidupan sehari-hari. Meskipun enggan mengungkapkan nilai kontrak dengan PSIM, pemain yang telah beberapa musim membela Laskar Mataram ini mengaku bisa hidup dan menafkahi istri dan anaknya dari bermain bola.
“Sekarang anak saya sudah berusia delapan tahun. Alhamdulillah, sejauh ini tidak kekurangan. Memang tidak cepat kaya dengan bermain bola,” jelas Eko.
Hal yang hampir sama juga diungkapkan oleh Supri Andriyanto. Pemain berusia 31 tahun ini melihat kondisi sepak bola Indonesia makin buruk.
“Kalau kompetisinya tetap jalan sih enggak masalah. Lha kalau stagnan seperti ini, bagaimana nasib kami nanti?” ucap pemain tengah PSIM ini.
Jika kompetesi tak selesai, Pemain asal Blondo, Magelang, Jawa Tengah ini khawatir mendapat revisi sampai pemutusan kontrak.
“Tentu kami tidak ingin. Apalagi sampai dihukum FIFA, mau jadi apa nanti?” ujar ayah satu anak ini.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
OJK mencatat pembiayaan investasi multifinance turun 5,33% menjadi Rp167,89 triliun pada semester I/2026.
Dokter menjelaskan miom dan kista tertentu dapat ditangani dengan operasi tanpa mengangkat rahim melalui teknik bedah minimal invasif.
Harga buyback emas Antam hari ini Rp2,505 juta per gram, naik 6,14% sejak awal 2026 namun masih di bawah rekor Januari.
Bagi Pemerintah Provinsi Jawa Tengah, pembangunan infrastruktur dalam beberapa tahun terakhir menjadi modal penting untuk mengakselerasi pertumbuhan ekonomi
Pembangunan ruas Kretek-Girijati yang dikenal sebagai Kelok 23 ditargetkan selesai pada akhir Agustus 2026. Meski konstruksi segera rampung.
mpatkan kesejahteraan guru sebagai salah satu perhatian pemerintah. Salah satunya melalui pengangkatan guru menjadi Pegawai Pemerintah dengan Perjanjian Kerja