OLIMPIADE 2016 : Atlet Transgender Tak Perlu Operasi Kelamin saat Berlaga di Olimpiade

Jumali
Jumali Selasa, 26 Januari 2016 19:35 WIB
OLIMPIADE 2016 : Atlet Transgender Tak Perlu Operasi Kelamin saat Berlaga di Olimpiade

logo olimpiade 2016 (ist)

Olimpiade 2016 bakal digelar di Brasil. Berbeda dengan olimpiade sebelumnya, pada ajang multieven tertinggi kali ini, atlet transgender tidak perlu operasi kelamin saat berlaga.
Harianjogja.com, RIO DE JANEIRO — Pejabat medis Komite Olimpiade Internasional (IOC) telah membuat panduan yang kotroversial, di mana atlet transgender tidak perlu melakukan operasi kelamin sebelum mengikuti Olimpiade 2016.

Direktur medis IOC Richard Budgett, mengatakan mereka mengubah kebijakan untuk beradaptasi pada perubahan sosial, hukum dan keilmuan dalam isu transgender.

Meski demikian, Budgett menyatakan bahwa panduan tersebut berbentuk rekomendasi dan bukanlah regulasi. Ke depan, federasi olahraga internasional dan badan-badan olahraga, harus mengikuti dan mengimplementasikannya di Olimpiade 2016 di Rio de Janeiro.

"Saya tidak berpikir banyak federasi memiliki peraturan, dalam menentukan transgender. Ini (panduan) dapat memberi mereka keyakinan dan stimulus, untuk menambahkannya dalam peraturan," kata Budgett, dikutip dari New York Times, Selasa (26/1/2016).

Sementara berdasarkan panduan IOC sebelumnya yakni pada 2003, para atlet yang mengubah identitas gender dari pria menjadi wanita atau sebaliknya, harus melakukan operasi kelamin. Diikuti juga dengan terapi hormon setidaknya dua tahun.

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Share

Jumali
Jumali Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online