Suarez Menangis karena Jadi Biang Kekalahan Uruguay
Tingkah laku Luis Suarez di lapangan sepak bola memang tidak selalu positif. Dia pernah menggigit lawannya, berbuat rasialis kepada pemain kulit hitam, hingga berseteru dengan wasit.
Josep Guardiola (Reuters-Carl Recine)
Harianjogja.com, MANCHESTER –Manchester City tinggal selangkah lagi menjadi juara Liga Inggris. Menjadi jawara Liga Inggris tak bisa dilepaskan dari tangan dingin Josep “Pep” Guardiola. “Saya tidak punya konsep awal datang ke Inggris atau sepak bola Liga Premier. Saya ingin belajar sebanyak mungkin. Saya tidak punya ide bagaimana kami akan bermain.”
Begitulah pengakukan Guardiola ketika diperkenalkan sebagai manajer baru Manchester City dua tahun silam. Saat itu, Guardiola diwawancarai secara eksklusif pesohor yang juga fans berat City, Noel Gallagher, di Manchester City TV sebelum pelatih asal Spanyol tersebut menginjakkan kakinya di daratan Inggris.
Guardiola datang ke Inggris dengan reputasi sebagai pelatih top yang mengantongi 22 trofi hanya dalam tujuh tahun kariernya bersama Barcelona dan Bayern Munich. Tapi, tidak sedikit pun dia menunjukkan kalimat kesombongan seperti ketika Jose Mourinho kali pertama tiba di Inggris pada 2004 silam.
Pria berjuluk Filsuf itu mengaku datang ke Inggris untuk “belajar”. Guardiola bisa jadi mengatakan demikian karena dirinya masih awam tentang sepak bola Inggris. Dia hanya mengetahui kerasnya Liga Premier itu dari orang-orang yang pernah berkarier di Liga Premier.
“Saya tahu bagaimana kerasnya Liga Premier dan orang-orang mengatakan saya akan menemukan itu, sulit bermain sepak bola seperti di Inggris, jadi saya katakan ke diri sendiri, mengapa tidak [dicoba]? Itu alasannya saya berada di sini, karena saya ingin mencoba,” ujarnya di situs resmi City kala itu.

Guardiola akhirnya benar-benar membuktikan betapa kerasnya persaingan di Liga Premier Inggris. Pada musim pertamanya, bisa dikatakan dia gagal total. Sebab, tidak ada satu pun trofi yang berhasil dimenanginya bersama City.
Barulah di musim kedua, Guardiola mampu menaklukkan Liga Premier. Dia membawa The Citizens unggulan 16 poin atas Manchester United dalam tujuh laga tersisa. City menjadi tim tersubur dengan 88 gol, sekaligus paling minim kebobolan, hanya 21 kali, dalam 31 pertandingan sejauh ini. Dan hanya Liverpool, satu-satunya tim yang mampu mengalahkan Kevin de Bruyne dkk. di Liga Premier 2017/2018.
Guardiola pun bisa memastikan City sebagai juara Liga Premier musim ini dengan cara berkelas. Yakni ketika City berjumpa rival bebuyutan mereka pada derby Manchester di Etihad Stadium, Sabtu (7/4) pukul 23.30 WIB. Kemenangan di Derby Manchester akan membuat City unggul 19 poin atas United dalam enam pertandingan tersisa. Artinya, poin City mustahil disalip rival sekota mereka itu hingga pertandingan penutup musim.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Sumber : JIBI/Solopos
Tingkah laku Luis Suarez di lapangan sepak bola memang tidak selalu positif. Dia pernah menggigit lawannya, berbuat rasialis kepada pemain kulit hitam, hingga berseteru dengan wasit.
KPK mendalami dugaan aliran uang kepada Bupati Tulungagung nonaktif Gatut Sunu Wibowo lewat pemeriksaan sembilan saksi.
Anwar Ibrahim mendesak Israel segera membebaskan aktivis Global Sumud Flotilla yang ditahan saat membawa bantuan kemanusiaan ke Gaza.
Polresta Sleman kembali membuka peluang restorative justice dalam kasus Shinta Komala terkait dugaan penggelapan iPhone 14.
Kasus kekerasan seksual santri di Lombok Tengah mengungkap penggunaan aplikasi khusus gay oleh tersangka berinisial YMA.
Transformasi ekonomi DIY dinilai tak bisa dipisahkan dari budaya lokal yang menjadi fondasi pengembangan ekonomi kreatif Yogyakarta.