Hujan Angin Terjang Berbah Sleman, Pohon Bertumbangan, Rumah Rusak, Baliho Ambruk
Hujan lebat dan angin kencang menerjang kawasan Kalitirto, Berbah, Sleman, Jumat (26/1/2024) siang.
Robert Lewandowksi/Reuters-Kacper Pampel
Harianjogja.com, JOGJA—Robert Lewandowski gagal memenuhi harapan banyak orang untuk mempertontonkan kehebatan di Piala Dunia 2018. Dia adalah satu dari beberapa bintang yang menderita di turnamen kali ini.
Jejak yang ditinggalkan Lewandowksi di Rusia bahkan lebih tipis daripada Mohamed Salah, sesama pemain top yang tak bisa sendirian membawa timnya melaju jauh. Salah sudah bikin dua gol, sedangkan Lewandowski masih nihil. Apa yang membuat pemain tertajam dalam sejarh Timnas Polandia ini menjadi tumpul? Berikut laporan wartawan Harianjogja.com Budi Cahyana yang diolah dari berbagai sumber.
Mengincar Keabadian
Lewandowski datang ke Rusia dengan kepercayaan diri tinggi. Dia menyunggi harapan khalayak Polandia untuk bersinar di Piala Dunia 2018, menyamai pencapaian Grzegorz Lato di Jerman Barat 1974 dan Zbginiew Boniek di Spanyol 1982.
Lato adalah rujukan utama Lewandowski, sekaligus monumen terpenting dalam sejarah sepak bola Polandia. Pada 1972, Lato dan Jan Tomaszewski merebut emas di Olimpiade Munich. Dua tahun kemudian Lato membawa The Eagles mengakhiri Piala Dunia sebagai peringkat ketiga dan menjadi top scorer dengan tujuh gol.
Boniek menapak jalan nyaris serupa, memimpin Polandia mejalu hingga semifinal Piala Dunia 1982 sebelum dihentikan dua gol Paolo Rossi. Boniek cukup bersinar, meski tak secemerlang Lato, dengan catatan empat gol, setara torehan Zico dari Brasil dan lebih sedikit dua gol dari Rossi yang menjadi top scorer.
“Mengulang apa yang sudah mereka lakukan merupakan impian besar dan saya ingin menulis ulang sejarah sepak bola Polandia. Sebagai tim, kami bisa melakukan hal spesial di Rusia,” ujar dia sebagaimana dikutip dari The Guardian.
Lewandowski terlihat akan mampu mengikuti jejak tersebut. Dengan 55 gol dari 95 pertandingan internasional, Lewandowski adalah pencetak gol terbanyak di Timnas Polandia. Dia sangat buas di Kualifikasi Zona Eropa dengan 16 gol dari 10 pertandingan dan tujuh gol Lato di 1974 bukan rekor musykil untuk dipatahkan.
“Catatan seperti itu akan memberi Anda keabadian. Tetapi sekarang waktu sudah berubah, lebih sulit bergerak di kotak penalti karena pertahanan lebih rapat. Mencetak enam atau tujuh gol di Piala Dunia adalah tugas sangat berat. Di Euro 2016, saya hanya mendapat dua atau tiga peluang bagus dan hanya bisa mencetak satu gol.”
Di Prancis dua tahun lalu, satu-satunya gol Lewandowski dibuat di perempat final melawan Portugal. Polandia kalah lewat adu penalti dari tim yang kemudian menjadi juara.
“Bek menaruh perhatian khusus kepada saya di Euro 2016 dan itu sangat mungkin terulang di Rusia. Jika itu yang terjadi, mudah-mudahan tim kami bisa mengambil keuntungan. Kami ingin dikenang karena keberhasilan,” ucap dia
Monoton & Lambat
Lewandowski benar. Di dua laga awal Grup H Piala Dunia 2018, dia dipepet dan dikurung. Pada partai pembuka, kala Polandia kalah 1-2 dari Senegal, Lewandowski yang musim lalu membuat 49 gol dalam 56 laga di semua kompetisi bersama Bayern seolah menghilang.
Rekan-rekannya 21 kali berusaha mengirim umpan kepada sang striker, tetapi hanya satu yang berhasil dia terima. Dia cuma punya kesempatan menembak dua kali sepanjang 90 menit dan tanpa gol tentu saja. Lewandowski langsung dibanjiri kritik. Dia dianggap tak banyak membantu rekan-rekannya yang kerepotan menghadapi tekanan Senegal.
“Lewandowski bahkan tidak berada di lapangan di babak pertama, sementara tim secara keseluruhan bergerak sangat monoton, seperti kereta dari Pilawa menuju Tluszcz,” ujar Maciej Sczesny, eks kiper Polandia yang kini menjadi komentator di Polish TV.
Maciej adalah ayah Wojciech Szczesny, kiper utama Polandia di Rusia, sedangkan Pilawa dan Tluszcz adalah dua kota kecil dengan penduduk kurang dari 10.000 jiwa di Polandia yang dihubungkan kereta yang bergerak lambat.
Polandia memang kekurangan determinasi saat menghadapi Senegal, skema 4-4-1-1 yang diterapkan Adam Nawalka tak berjalan lancar.
Di pertandingan kedua melawan Kolombia, Lewandowski sama nelangsanya. Kesempatannya menembak lebih banyak, sampai lima kali. Tetapi dua diblok, satu melenceng, dua mengenai sasaran, tetapi tetap tanpa gol. Polandia kalah 0-3 dan secara mengenaskan tersingkir. Tim yang datang ke Rusia sebagai penghuni peringkat kedelapan FIFA tak bisa mencatat kemenangan. Figur utama mereka, salah satu striker tertajam di dunia, tidak bisa mencetak gol.
“Banyak hal yang berjalan semestinya di Piala Dunia kali ini,” ucap Lewandowski seusai Polandia dipermak Kolombia, sebagaimana dikutip dari Reuters.
Lewandowski insaf, sebagai striker tunggal yang menjadi tumpuan utama untuk mendulang gol, dia sangat terisolasi dan harus bermain dalam kesunyian di lini depan, tanpa banyak suplai bola dari rekan-rekannya.
“Saya sendirian. Saya berjuang dan mengerahkan semua kemampuan, tetapi perjuangan tidak cukup untuk memenangi pertandingan di Piala Dunia. Anda harus punya kualitas dan kami hanya sedikit memilikinya.”
Tak Dilayani
Di dua laga pertama, kualitas gelandang Polandia sangat payah. Jakub Blaszczykowski, Kamil Grosicki, dan Arkadiuzs Milik tak bisa menyervis Lewandowski secara layak. Di laga kedua, ketika Adam Nawalka mengubah formasi dari 4-4-1-1 menjadi 3-4-3 dan menempatkan gelandang serang Piotr Zielinski serta Dawid Kownacki sebagai sayap, Lewandowski tetap tak mendapat pelayanan yang bagus, sebagaimana sering dia peroleh dari Franck Ribery, Arjen Robben, Thomas Muller, Thiago Alcantara, hingga James Rodriguez di Bayern.
Bialo Czerwoni tak punya gelandang dengan karakter playmaker. Arkadiuzs Milik yang sejatinya striker dengan atribut yang sangat mirip dengan Lewandowski dipaksa menjadi gelandang serang di belakang striker saat menghadapi Senegal. Hasilnya gagal total karena dia cuma sekali berusaha mengirim operan ke Lewandowksi dan meleset.
Lewandowski bukan pemain dengan tipe serupa Mohamed Salah, Cristiano Ronaldo, atau Lionel Messi yang lihai membawa bola dari luar kotak penalti, piawai mengecoh pemain belakang lawan, dan tahu ke arah mana bola harus ditendang agar menjadi gol. Dia adalah striker murni, pemain nomor sembilan yang sangat berbahaya di kotak penalti asalkan punya ruang cukup luas untuk menembak dan diberi umpan matang.
Ruang dan umpan itu yang tak diperoleh Lewandowski di Rusia. Di hadapan Senegal, dia hanya menerima satu operan akurat dari 21 percobaan yang dilakukan teman-temannya. Kala melawan Kolombia, dia cuma mendapat tiga umpan akurat dari 25 percobaan dan terpaksa melihat pelayannya di Bayern, James Rodriguez, bermain sangat nyaman dengan mengkreasi tiga peluang dan menyediakan dua assist untuk tiga gol Kolombia.
Harapan bagi Polandia untuk menyediakan pengumpan yang pas bagi Lewandowski sekaligus pengatur serangan jempolan sempat terbit dua tahun lalu. Bartosz Kapustka yang baru berusia 20 tahun tampil apik bersama Cracovia. Dia dibawa Adam Nawalka ke Euro di 2016 Prancis dan menunjukkan performa bagus dalam kemenangan 1-0 atas Irlandia Utara.
Sayangnya, dia terlalu cepat mekar dan keburu layu. Selepas turnamen, Kapustka diboyong Claudio Ranieri ke Leicester City. Di klub yang secara ajaib baru saja memenangi Liga Premier Inggris tersebut, Kapustka kesulitan beradaptasi dan kerap dibebat cedera. Dia tak bermain di Inggris barang satu pertandingan pun. Awal musim lalu, Kapustka dipinjamkan ke Freiburg di Bundesliga. Tetapi visi bermain yang sempat dia tunjukkan di Euro 2016 sama sekali tak terlihat. Kapustka tetap saja kesulitan berkembang dan sempat didemosi ke Freiburg II yang bermain di divisi IV kompetisi Jerman. Adam Nawalka meninggalkannya dan Lewandowski harus membayar mahal atas ketiadaan playmaker muda tersebut.
Empat Tahun Lagi
Lewandowski akan berusia 30 tahun pada 21 Agustus nanti. Dia sedang berada di usia emas untuk ukuran pesepak bola dan Rusia semestinya adalah turnamen yang pas untuk mengabadikan ketajamannya. Kesempatan itu telah lewat. Polandia tinggal memainkan satu laga yang tak lagi bermakna melawan Jepang di Volgograd Arena, Kamis (28/6) nanti malam pukul 21.00 WIB. Kemenangan, dengan skor berapa pun, tak akan membawa Lewandowski menyamai Grzegorz Lato pada 1974 maupun Zbigniew Boniek pada 1982.
Peluangnya untuk mencetak sejarah, seperti yang dia inginkan sebelum Piala Dunia 2018, adalah di Qatar empat tahun mendatang. Kelak, Lewandowski sudah berusia 33 tahun dan nalurinya mencetak gol barangkali sudah terkikis umur. Tetapi usia kadang kala tak berarti apa pun bagi atlet yang ambisius. Ambil contoh Cristiano Ronaldo yang kualitasnya bagaikan anggur saat menginjak kepala tiga.
“Saya punya rencana bermain di level tinggi hingga usia 35 tahun. Sekarang saya merasa baru memulai periode terbaik sebagai striker. Saya sudah cukup matang dan punya banyak pengalaman. Saya masih sehat dan akan bermain selama mungkin. Lihat saja nanti,” ujar Lewandowski kepada Guardian.
Kita akan melihat bukti dari omongan itu empat tahun lagi, tetapi bukan nanti malam di Volgograd Arena.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Hujan lebat dan angin kencang menerjang kawasan Kalitirto, Berbah, Sleman, Jumat (26/1/2024) siang.
Jadwal bus KSPN Malioboro ke Pantai Ndrini dan Obelix Sea View Rabu 20 Mei 2026, lengkap dengan rute dan tarif.
Mentan Andi Amran Sulaiman memecat ASN Kementan terkait dugaan penyelewengan anggaran Rp500 juta. Pegawai tersebut kini berstatus DPO.
Gunung Ibu di Halmahera Barat kembali erupsi. Badan Geologi memperluas radius aman hingga 3,5 kilometer ke arah kawah aktif utara.
Jadwal KA Bandara YIA Xpress hari ini Rabu 20 Mei 2026 lengkap dengan rute Stasiun Tugu-YIA, tarif Rp50.000, dan jam keberangkatan terbaru.
Guru Besar UII Suparman Marzuki menawarkan transformasi berbasis memori untuk penyelesaian pelanggaran HAM berat di Indonesia.