Seksisme yang Masih Subur di Piala Dunia

Chrisna Chaniscara
Chrisna Chaniscara Sabtu, 30 Juni 2018 11:25 WIB
Seksisme yang Masih Subur di Piala Dunia

Suporter Iran menonton laga tim nasionalnya melawan Spanyol./Reuters

Harianjogja.com, JOGJA—Laga Timnas Iran melawan Spanyol di Piala Dunia 2018 dua pekan lalu sempat menjadi berita besar di belahan dunia. Bukan karena Iran hanya kalah tipis 0-1, melainkan adanya peristiwa yang menandai perubahan besar dalam kehidupan di negeri para Mullah itu.

Untuk kali pertama dalam 38 tahun suporter perempuan akhirnya diizinkan menginjakkan kaki di Stadion Azadi, Teheran. Mereka berkumpul bersama fans lelaki untuk nonton bareng siaran langsung pertandingan antara Iran melawan Spanyol.

Republik Islam Iran memang melarang perempuan melihat laga olahraga para lelaki sejak 1980. Kebijakan baru yang mendorong lahirnya kesetaraan itu sontak disambut antusias perempuan Iran maupun kaum perempuan di seluruh dunia.

Tak hanya di negaranya sendiri, fans perempuan Iran pun dengan leluasa mendukung Sardar Azmoun dkk. di Rusia. Namun di balik peristiwa itu, seksisme atau diskriminasi terhadap perempuan masih banyak mengiringi penyelenggaraan Piala Dunia. Banyak pelecehan dan diskriminasi yang diterima komentator olahraga perempuan. 

Tak hanya di dunia maya, mereka bahkan dilecehkan di depan kamera. Reporter olahraga Brasil, Julia Guimaraes, yang tengah siaran langsung dari Ekaterinburg terpaksa menghindar dari seorang pejalan kaki yang berusaha menciumnya. “Jangan lakukan ini. Jangan lakukan ini lagi. Itu tidak benar,” teriak Julia sambil mengejar laki-laki itu, memaksanya meminta maaf.

Wartawan asal Kolombia yang bekerja untuk DW Espanol, Julieth Gonzalez Theran, mendapat serangan seksual pada bagian dada dan pipi saat melaporkan hasil pertandingan antara Rusia melawan Arab Saudi. Meski diganggu, Theran tetap melanjutkan pekerjaannya dan baru kemudian mempermasalahkannya di medsos. “Itu perlakuan yang tidak pantas. Kami sama bermartabat dan profesional [dengan siapa pun],” ujar Theran dilansir BBC.

Yang menyakitkan, Theran justru dirundung di medsos oleh sebagian warganet berkepala batu dan misoginis yang menyepelekan kejadian itu. Bahkan ada yang menuding protesnya sebagai histeria feminis semata. Sejumlah warganet berotak terbelakang justru menyebut ciuman dan perilaku lain mestinya dianggap sebagai sambutan atau pujian.

“Ini tidak lucu. Itu bukan ciuman, itu serangan,” bela seorang presenter DW, Cristina Cubas.

Korporasi pun kian menyuburkan seksisme terhadap perempuan di ajang empat tahunan itu. Jaringan restoran cepat saji Burger King di Rusia baru saja meminta maaf karena memasang iklan yang dituding melecehkan perempuan. Iklan itu menawarkan hadiah 3 juta rubel (sekitar Rp662 juta) dan burger jenis Whopper gratis seumur hidup bagi para perempuan yang dihamili pemain sepak bola Piala Dunia.

“Perempuan yang berhasil mendapat keturunan pemain sepak bola terbaik, akan mempromosikan kesuksesan tim Rusia untuk generasi yang akan datang,” demikian bunyi iklan tersebut.

Sontak, promosi itu menuai kemarahan publik. “Ini adalah refleksi langsung dari rendahnya masyarakat kita memandang perempuan,” tutur sebuah komunitas feminis Rusia dalam aplikasi Telegram.

Di berbagai iklan dan media, kaum perempuan di Rusia digambarkan sebagai pemangsa seksual yang memburu mangsanya. Retorika semacam ini bukan hal baru di Rusia yang sudah tidak lagi menganut sistem komunis. Di sana suara-suara feminis nyaris tak terdengar. Perdebatan soal peran gender juga tak banyak mendapat perhatian. Kalau pun ada, program-program televisi yang menayangkan soal feminisme kerap dianggap sebagai propaganda Barat yang mencoba merusak nilai-nilai tradisional Rusia.

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Sumber : JIBI/Solopos

Share

Budi Cahyana
Budi Cahyana Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online