Suarez Menangis karena Jadi Biang Kekalahan Uruguay
Tingkah laku Luis Suarez di lapangan sepak bola memang tidak selalu positif. Dia pernah menggigit lawannya, berbuat rasialis kepada pemain kulit hitam, hingga berseteru dengan wasit.
Timnas Inggris (Reuters-David Klein)
Harianjogja.com, MOSKOW – Adu penalti di Piala Dunia sudah memakan korban. Spanyol dan Denmark menjadi korban kekejaman adu penalti di Piala Dunia 2018. Tidak peduli betapa dominannya Spanyol melawan Rusia dan heroiknya kiper Denmark, Kasper Schemichel, melawan Kroasia dalam waktu normal serta dua kali babak perpanjangan waktu. Dua tim itu akhirnya sama-sama harus angkat koper dari Rusia karena kalah adu tos-tosan dari lawan masing-masing di babak 16 besar.
Jika bisa memilih, Inggris pun jauh lebih suka menjauhi skenario adu penalti ketika bertemu Kolombia pada babak 16 besar di Otkrytiye Arena, Moskow, Rabu (4/7/2018) pukul 01.00 WIB. Sudah menjadi rahasia umum tim berjuluk Saint George\'s Cross tersebut memiliki catatan kelam dalam urusan adu tos-tosan.
Tidak ada negara yang lebih sial dari Inggris dalam dua penalti di turnamen besar. Mereka tiga kali teriliminasi dari Piala Dunia karena tersungkur dalam adu penalti masing-masing dari Jerman Barat (1990), Argentina (1998), dan Portugal (2006). Bukan hanya itu, negeri yang dipimpin Ratu Elizabeth II tersebut juga tiga kali tersingkir dari perhelatan Euro karena kalah adu tos-tosan masing-masing dari Jerman (1996), Portugal (2004), dan Italia (2012).
Penderitaan Inggris dalam adu penalti melawan Jerman pada Euro 1996 itu pun masih sangat membekas di benak Pelatih Saint George’s Cross, Gareth Southgate. Sebab, Southgate merupakan bagian dari skuat Inggris besutan Terry Venables. Saat itu, semua dari enam algojo penalti Jerman berhasil menunaikan tugas dengan baik.
Begitu juga dengan lima penendang penalti pertama Inggris. Souhtgate sebagai penendang keenam Inggris maju sebagai penentu. Tapi tendangan kaki kanan Southgate dari titik putih berhasil ditepis kedua tangan kiper Jerman, Andreas Kopke.
Southgate mengaku telah belajar banyak dengan pengalaman buruknya itu. Dia lantas berjanji untuk membawa The Three Lions, julukan lain Inggris, tampil lebih baik jika terpaksa menemui adu tos-tosan.
“Jelas, tidak perlu ditanyakan lagi. Saya telah memikirkan itu selama dua dekade lebih. Jelas, itu bukan tentang keberuntungan. Itu bukan soal peluang. Itu tentang performa skill di bawah tekanan. Ada hal-hal di mana Anda bisa mengatasinya. Kami sudah mempelajari itu,” jelas Southgate, seperti dilansir Dailymail.co.uk, Senin (2/7/2018).
Harry Kane dkk. berlatih adu penalti untuk berjaga-jaga jika hal itu terjadi saat melawan Kolombia. Kiper Inggris, Jordan Pickford, memiliki rekam jejak buruk dalam menghadapi penalti.
Sesuai data Transfermarkt, penjaga gawang Everton tersebut hanya lima kali berhasil menepis penalti dan 25 kali gagal membendung sepakan 12 pas lawannya. Meski demikian, rekor kiper Kolombia, David Ospina, dalam membendung penalti tak kalah buruk, yakni tiga kali sukses dan 35 gagal.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Sumber : JIBI/Solopos
Tingkah laku Luis Suarez di lapangan sepak bola memang tidak selalu positif. Dia pernah menggigit lawannya, berbuat rasialis kepada pemain kulit hitam, hingga berseteru dengan wasit.
BPA Fair Kejaksaan Agung menjual Harley Davidson, BMW, hingga Mercedes hasil rampasan korupsi dengan kenaikan lelang Rp1,65 miliar.
Kemhan siapkan Bandara Kertajati menjadi pusat MRO pesawat Hercules Asia untuk memperkuat industri pertahanan Indonesia
Prabowo ungkap alasan turun langsung menyampaikan KEM-PPKF RAPBN 2027 di DPR di tengah tantangan geopolitik dan ekonomi global.
Menlu Sugiono memastikan Indonesia terus berkoordinasi untuk menyelamatkan 9 WNI peserta flotilla kemanusiaan Gaza yang ditangkap Israel.
Presiden Prabowo Subianto menghadiri Sidang DPR RI untuk menyampaikan Kerangka Ekonomi Makro dan RAPBN 2027