Panas Bumi Ungaran Dikembangkan, PLN Siapkan PLTP 55 MW
PLN mendapat penugasan mengembangkan WKP Ungaran hingga 55 MW. Proyek masih dalam tahap studi dengan kajian lingkungan dan sosial.
Suporter Jepang membersihkan tribune stadion Rostov Arena./kyodonews.net
Harianjogja.com, JOGJA—Jepang benar-benar memikat banyak orang di Piala Dunia 2018. Mereka tampil tak kenal takut meski harus kalah 2-3 dari Belgia di 16 besar dan para pemain Samurai Biru bersikap sangat terpuji.
Meski dalam kondisi patah hati gagal menang setelah unggul 2-0, skuat Jepang menyempatkan waktu membersihkan ruang ganti yang mereka tempati di Rostov Arena. Ruangan tersebut pun bersih seperti sebelum mereka pakai.
Samurai Biru lantas membubuhkan kata-kata berbahasa Rusia, Spasibo, yang berarti terima kasih. Bukan hanya tim Jepang, pendukung tim Negeri Sakura juga melakukan hal serupa di tribune penonton Rostov Arena.
Sejak fase grup, fans Samurai Biru telah menyedot perhatian karena dengan ikhlas memunguti sampah di tribune stadion seusai menyaksikan tim kesayangan. Aksi serupa dilakukan setelah Jepang tersingkir dari Piala Dunia karena takluk 2-3 dari Belgia. Pendukung Samurai Biru memungut satu per satu sampah di sekitar tempat duduk mereka untuk dimasukkan dalam karung.
Tak sedikit yang masih berurai air mata ketika memungut sampah-sampah tersebut.
“Ini fans Jepang yang hatinya remuk setelah kalah dari Belgia di Piala Dunia. Tim membersihkan ruang ganti dan suporter membersihkan tempat duduk di tribune penonton. Kebudayaan tradisional yang bisa kita pelajari dan dipakai sebagai referensi,” ujar Steven Nabil salah satu jurnalis yang meliput laga Jepang versus Belgia di Rostov Arena, seperti dikutip pedestriantv.com.
Kultur Masyarakat
Kebersihan sudah menjadi kultur dalam kehidupan sosial masyarakat Negeri Sakura.
Empat tahun lalu di Brasil, suporter Jepang menjadi tajuk utama di beberapa media lantaran. Entah kesebelasan Blue Samurai kalah, imbang, atau menang, para pendukung selalu memungut sampah dan membersihkan kotoran yang berserakan di tribune.
“Ini bukan hanya budaya sepak bola Jepang, tetapi budaya masyarakat Jepang secara keseluruhan,” ujar jurnalis yang punya segudang pengalaman meliput sepak bola di Jepang, Scott McIntyre kepada BBC.
Scott pergi ke Rusia untuk mengover pertandingan Samurai Biru dan tak terkejut dengan kedisiplinan orang-orang dari Negeri Sakura.
“Sepak bola adalah cermin dari kebudayaan dan aspek terpenting dari masyarakat Jepang adalah memastikan semuanya bersih.”
Menurut dia, kebiasaan hidup bersih itu sudah ditanamkan sejak anak-anak. Di Jepang jika ada orang luar negeri yang meninggalkan botol bekas minuman atau bungkus makanan di stadion, penonton lokal bakal langsung menegurnya.
“Orang Jepang akan menepuk pundak si pembuang sampah dan mengatakan mereka harus membawa sampah itu ke rumah atau membuangnya ke tempat sampah, yang penting tidak meninggalkannya di stadion,” ucap Scott.
Para pemain muda di Jepang juga dididik hidup bersih.
“Di sekolah, perilaku dasar yang terus diajarkan adalah bersih-bersih setelah pertandingan. Perilaku itu kemudian menjadi kebiasaan di seluruh masyarakat.”
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
PLN mendapat penugasan mengembangkan WKP Ungaran hingga 55 MW. Proyek masih dalam tahap studi dengan kajian lingkungan dan sosial.
Jadwal SIM Keliling Kulonprogo hari ini 30 September 2026, lengkap dengan lokasi, jam pelayanan, syarat, dan ketentuan perpanjangan SIM.
Jadwal KRL Jogja-Solo Rabu 30 September 2026 tersedia 15 perjalanan. Cek jam keberangkatan, kedatangan tiap stasiun dan tarif Rp8.000.
Dokter Yoga Yuniadi meluruskan anggapan obat hipertensi menyebabkan ginjal rusak dan menjelaskan pentingnya menjaga tekanan darah tetap terkendali.
Kuota LPG 3 kg 2027 dipangkas menjadi 8 juta ton. Pemerintah menyiapkan CNG, jargas, dan kompor listrik sebagai energi alternatif.
DPRD Kota Jogja mendorong pencegahan korupsi melalui penguatan sistem, tata kelola transparan, akuntabel, dan budaya integritas.