Sebut Wasit Rampok Kemenangan Kolombia, Maradona Dimarahi FIFA

Budi Cahyana
Budi Cahyana Kamis, 05 Juli 2018 20:30 WIB
Sebut Wasit Rampok Kemenangan Kolombia, Maradona Dimarahi FIFA

Diego Maradona/Reuters-Mathew Childs

Harianjogja.com, JOGJA—FIFA tak suka dengan mulut besar Maradona yang melontarkan kritikan pedas terhadap kepemimpinan wasit di Piala Dunia 2018.

Maradona menyebut wasit yang memimpin pertandingan Inggris melawan Kolombia di 16 besar telah merampok kemenangan Kolombia. FIFA tentu saja tersinggung dan balas menegur salah satu legenda tersbesar di sepak bola tersebut.

“FIFA benar-benar menyesalkan pernyataan seorang pemain yang telah menulis sejarah di permainan ini. FIFA tidak membenarkan kritik terhadap performa para ofisial pertandingan. Kinerja wasit sudah positif pada pertandingan berat dan begitu emosional seperti itu,” demikian bunyi pernyataan FIFA seperti dikutip Reuters, Kamis (5/7/2018).

FIFA menegaskan sudah berusaha untuk memastikan prinsip-prinsip fair play, integritas, dan respek dalam menyelenggarakan Piala Dunia 2018, serta dalam menjalankan roda organisasi tersebut.

“Komentar-komentar dan sindiran-sindiran yang dibuat Maradona tidak layak dan benar-benar tidak berdasar.”

Maradona dikenal karena pada Piala Dunia 2986 dia berperanb besar membawa Argentina meraih trofi juara. Namun, dia juga pemain yang tidak jujur dan sebenarnya mencederai aspek integritas. Maradona mencetak gol dengan tangan pada laga perempat final melawan Inggris. Dia bahkan membanggakan kebohongannya tersebut dan menyebutnya sebagai Gol Tangan Tuhan.

Sementara, kritik terhadap kepemimpinan Geiger sebenarnya tak hanya dilontarkan Maradona.

Striker Kolombia Radamel Falcao menganggap Mark Geiger sangat bias. “Dia kerap membuat keputusan yang menguntungkan Inggris,” ujar Falcao seperti dilansir dari ESPN, Rabu (4/7/2018).

Dalam laga itu, Kolombia tercatat membuat 23 dari total 36 pelanggaran dan menerima enam kartu kuning. Geiger menunjuk titik putih setelah Harry Kane jatuh akibat bersenggolan dengan Carlos Sanches. Keputusan itu diambil tanpa mempertimbangkan video assistant referee (VAR).

“Wasit selalu berbicara menggunakan bahasa Inggris di lapangan dan tentu saja ini sangat bias.”

Kolombia sebenarnya bisa mengimbangi Inggris. Penguasaan bola kedua tim hanya beda 2%. Kolombia bisa melepaskan 14 tembakan berbanding 16 milik Inggris.

“Kami bermain imbang, tetapi wasit selalu bikin keputusan yang menguntungkan Inggris. Ini sangat merugikan kami. Dalam situasi yang sulit, dia selalu memihak Inggris. Sangat memalukan karena ini adalah 16 besar Piala Dunia.”

Pelatih Kolombia Jose Pekerman mengatakan pemain Inggris mengambil keuntungan dari keragu-raguan wasit. “Pemain Inggris punya postur tinggi tetapi gampang jatuh di kotak penalti kami. Mereka berduel dan mudah saja terkapar. Mereka juga memancing wasit untuk memberikan kartu kepada pemain kami. Situasi itu menentukan hasil akhir,” ujar Pakermen.

Dalam 90 menit dan perpanjangan waktu, kedua tim bermain imbang 1-1. Inggris mencetak gol lewat penalti Harry Kane di menit 57, sedangkan Kolombia membalas lewat sundulan Yerry Mina di menit 93.

Bukan kali ini saja Geiger menjadi sasaran komplain. Pemain Maroko Nordin Amrabat menuduh Geiger yang memimpin laga Maroko melawan Portugal di penyisihan Grup B berat sebelah. Kala itu Maroko kalah 0-1 gara-gara gol sundulan Cristiano Ronaldo.

“Saya tak tahu seperti apa Geiger, tetapi dia sangat mengidolakan Cristiano. Saya diberi tahu Pepe bahwa di babak pertama, Geiger meminta kausnya. Yang benar saja. Ini Piala Dunia, bukan sirkus,” ucap Amrabat dalam wawancara dengan media Belanda, NOS.

Geiger juga memimpin laga Korea melawan Jerman. Tak ada keluhan dari pemain Jerman meski mereka kalah 0-2 dan terlempar dari persaingan.

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Share

Budi Cahyana
Budi Cahyana Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online