Deteksi Dini TBC Digencarkan di Piyungan, Baru Temukan 5 Kasus
Deteksi dini TBC di Piyungan digencarkan lewat Active Case Finding. Baru 5 kasus ditemukan dari target 103 kasus sepanjang 2026.
Atlet obstacle race dari Sleman, Rahmayuna Fadillah, 28, berhasil meraih medali perak dalam perhelatan pekan olahraga se-Asia Tenggara Kamboja./Harian Jogja-Yosef Leon
Harianjogja.com, SLEMAN—DIY terus berupaya berkontribusi mencetak atlet yang bisa mengharumkan nama bangsa. Salah satunya adalah Rahmayuna Fadillah.
Atlet berusia 28 tahun asal Sleman ini sukses meraih medali perak di ajang SEA Games Kamboja lalu untuk cabang olahraga (cabor) obstacle race (lari halang rintang).
Untuk mencapai hasil itu, perempuan lulusan sarjana Filsafat UGM ini memang serius melakukan persiapan. Di antaranya adalah dia harus sampai terbang ke Filipina hanya untuk berlatih dan mempersiapkan diri mengikuti ajang itu.
Dalam latihan di Filipina itu, dia harus menempuh jarak setidaknya sepanjang 581 kilometer dengan kondisi halang ringtang yang ekstrem untuk menempa fisik dan mentalnya.
“Persiapan Sea Games kemarin TC [training center] di Ciputat dari Januari sampai Maret. Maret akhir TC ke Filipina sampai jelang Lebaran, setelah Lebaran berangkat lagi ke Filipina,” kata dia, Kamis (15/6/2023).
BACA JUGA: SEA Games 2023: Kans All Indonesia Final di 4 Nomor
Alasan paling mendasar ia harus keluar dari Jogja untuk berlatih lantaran ketidaklengkapan fasilitas yang disediakan. Tentunya bagi para atlet kelengkapan fasilitas itu krusial.
“Fasilitas yang lengkap itu di Filipina dan Kamboja, Indonesia tidak punya fasilitas seperti itu. Jadi latihannya sampai Filipina atau di Ciputat. Di Ciputat pun masih beda, tidak seperti yang di Filipina,” terang Yuna.
Yuna mengaku banyak kesulitan yang harus dihadapi untuk mengikuti ajang SEA Games, seperti kesulitan untuk beradaptasi dan ketakutan mengalami cidera sebab olahraga ini tergolong cukup ekstrem.
Belum lagi rasa percaya diri yang terkadang anjlok mengingat cabang olahraga ini di Indonesia masih baru, berbeda dengan lawannya saat bertanding yang sudah berlatih selama bertahun-tahun.
“Olahraga ini lumayan rawan, rintangan atau obstaclenya rawan. Kebanyakan takut cidera, karena sampai sekarang masih sering cidera ankle,” ujar dia.
Mengenang kembali pertandingan di SEA Games 2023, perempuan penggemar olahraga panjat tebing ini mengutarakan rasa harunya bisa menyabet medali perak.
Yuna menyebut, dia mempunyai kesempatan mendapatkan medali emas, namun Yuna harus menerima kenyataan bahwa ia berada dibelakang atlet dari Filipina dengan selisih waktu sepersekian detik saja.
“Di satu sisi pengin nyanyi Indonesia Raya kalau dapat emas, tetapi bersyukur bisa dapet perak. Terharu banget, pas dikalungkan kok ini medalinya bagus,” candanya.
Berhasil menyabet medali perak, dia berharap fasilitas berlatih diperlengkap untuk menunjang targetnya mendapatkan medali emas dalam gelaran SEA Games berikutnya.
“Karena sudah membuktikan dengan medali, harapannya fasilitas dilengkapi dan diperbanyak, diperluas cabornya biar terkenal,” ujar dia.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Deteksi dini TBC di Piyungan digencarkan lewat Active Case Finding. Baru 5 kasus ditemukan dari target 103 kasus sepanjang 2026.
FIFA menyatakan Shaun Evans tidak melanggar aturan disiplin terkait gestur kontroversial di Piala Dunia 2026 meski tetap menuai kritik.
Nagita Slavina dikabarkan menjadi Presiden Persikad Depok. Langkah ini membuka peluang duel menarik melawan RANS Nusantara milik Raffi Ahmad di Championship.
Kenaikan harga Pertamax memaksa Damkar Kulonprogo membatasi evakuasi sarang tawon dan edukasi sekolah demi menghemat biaya operasional armada.
Kiper 40 tahun Vozinha bikin Spanyol gigit jari di Piala Dunia 2026. Debutan Tanjung Verde tahan imbang 0-0. Simak kisah harunya.
Program Mas JOS telah menjangkau 45 kelurahan di Kota Jogja. Warga diajak memilah dan mengolah sampah sejak dari sumbernya.