DPRD Bantul Minta Pengelola Tambak dan Kolam Ikan Perhatikan Dampak Lingkungan
DPRD Bantul meminta usaha budi daya perikanan memperhatikan pengelolaan limbah agar tidak berdampak pada lingkungan dan warga.
Atlet obstacle race dari Sleman, Rahmayuna Fadillah, 28, berhasil meraih medali perak dalam perhelatan pekan olahraga se-Asia Tenggara Kamboja./Harian Jogja-Yosef Leon
Harianjogja.com, SLEMAN—DIY terus berupaya berkontribusi mencetak atlet yang bisa mengharumkan nama bangsa. Salah satunya adalah Rahmayuna Fadillah.
Atlet berusia 28 tahun asal Sleman ini sukses meraih medali perak di ajang SEA Games Kamboja lalu untuk cabang olahraga (cabor) obstacle race (lari halang rintang).
Untuk mencapai hasil itu, perempuan lulusan sarjana Filsafat UGM ini memang serius melakukan persiapan. Di antaranya adalah dia harus sampai terbang ke Filipina hanya untuk berlatih dan mempersiapkan diri mengikuti ajang itu.
Dalam latihan di Filipina itu, dia harus menempuh jarak setidaknya sepanjang 581 kilometer dengan kondisi halang ringtang yang ekstrem untuk menempa fisik dan mentalnya.
“Persiapan Sea Games kemarin TC [training center] di Ciputat dari Januari sampai Maret. Maret akhir TC ke Filipina sampai jelang Lebaran, setelah Lebaran berangkat lagi ke Filipina,” kata dia, Kamis (15/6/2023).
BACA JUGA: SEA Games 2023: Kans All Indonesia Final di 4 Nomor
Alasan paling mendasar ia harus keluar dari Jogja untuk berlatih lantaran ketidaklengkapan fasilitas yang disediakan. Tentunya bagi para atlet kelengkapan fasilitas itu krusial.
“Fasilitas yang lengkap itu di Filipina dan Kamboja, Indonesia tidak punya fasilitas seperti itu. Jadi latihannya sampai Filipina atau di Ciputat. Di Ciputat pun masih beda, tidak seperti yang di Filipina,” terang Yuna.
Yuna mengaku banyak kesulitan yang harus dihadapi untuk mengikuti ajang SEA Games, seperti kesulitan untuk beradaptasi dan ketakutan mengalami cidera sebab olahraga ini tergolong cukup ekstrem.
Belum lagi rasa percaya diri yang terkadang anjlok mengingat cabang olahraga ini di Indonesia masih baru, berbeda dengan lawannya saat bertanding yang sudah berlatih selama bertahun-tahun.
“Olahraga ini lumayan rawan, rintangan atau obstaclenya rawan. Kebanyakan takut cidera, karena sampai sekarang masih sering cidera ankle,” ujar dia.
Mengenang kembali pertandingan di SEA Games 2023, perempuan penggemar olahraga panjat tebing ini mengutarakan rasa harunya bisa menyabet medali perak.
Yuna menyebut, dia mempunyai kesempatan mendapatkan medali emas, namun Yuna harus menerima kenyataan bahwa ia berada dibelakang atlet dari Filipina dengan selisih waktu sepersekian detik saja.
“Di satu sisi pengin nyanyi Indonesia Raya kalau dapat emas, tetapi bersyukur bisa dapet perak. Terharu banget, pas dikalungkan kok ini medalinya bagus,” candanya.
Berhasil menyabet medali perak, dia berharap fasilitas berlatih diperlengkap untuk menunjang targetnya mendapatkan medali emas dalam gelaran SEA Games berikutnya.
“Karena sudah membuktikan dengan medali, harapannya fasilitas dilengkapi dan diperbanyak, diperluas cabornya biar terkenal,” ujar dia.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
DPRD Bantul meminta usaha budi daya perikanan memperhatikan pengelolaan limbah agar tidak berdampak pada lingkungan dan warga.
KPK memanggil Menteri ATR/BPN Nusron Wahid sebagai saksi kasus dugaan korupsi pengurusan HGB PT Summarecon Agung di Kabupaten Bogor.
Pemkab dan DPRD Bantul memperkuat edukasi perda bagi siswa SMP untuk mencegah minuman beralkohol, narkoba, dan persoalan sosial sejak dini.
BMKG menyebut gempa M5,0 di Lombok Barat dipicu deformasi batuan dalam lempeng. Guncangan terasa hingga Bali dan tidak berpotensi tsunami.
Jadwal KSPN Jogja Rabu 7 Oktober 2026 dari Malioboro ke Obelix Sea View dan Pantai Drini, dengan tarif mulai Rp12.000.
Seniman lintas negara terdiri Indonesia, Malaysia, dan Singapura berkolaborasi menghadirkan dua pertunjukan tentang warisan budaya bersama di Yogyakarta.