Advertisement
Merawat Cerita dari Jubah Perang Pemain Bola

Advertisement
Harianjogja.com, JOGJA—Jersey pemain sepak bola bisa menjadi penanda sejarah. Dari sehelai pakaian, kita bisa membaca ulang cerita-cerita yang pernah menyertainya.
Siapa sangka, jersey sepak bola bisa menjadi pembahasan secara nasional. Terakhir, jersey Timnas Indonesia produksi Erspo, yang mendapat komentar negatif dari masyarakat. Banyak yang menganggap jersey tersebut kurang bagus dari sisi desain maupun bahan.
Advertisement
Fenomena ini, terlepas positif atau negatif, menandakan bahwa setiap jersey timnas bukan sebatas baju olahraga. Terlebih untuk jersey Timnas Sepak Bola Indonesia, jersey menjelma menjadi catatan sejarah yang bisa kita baca ulang.
Semangat memintal dan mengumpulkan sejarah Timnas Indonesia ini yang melandasi terbentuknya Komunitas Kolektor Jersey Timnas Indonesia (KJTI) pada 18 Maret 2017. Bermula dari Jakarta, KJTI kemudian menyebar ke banyak daerah dengan bentuknya masing-masing.
BACA JUGA: Muenchen Dikabarkan Tak Perpanjang Kontrak Muller
Salah satu Founder KJTI, Budi Frastio, menganggap sepak bola bukan hanya tentang pertandingan yang tersedia di lapangan. Setiap masanya memiliki banyak dinamika. Indonesia dari dulu dianggap kurang peduli dalam hal seperti ini. Datang ke stadion hanya tentang menonton pertandingan sepak bola.
“Padahal desain jersey dari tahun ke tahun memiliki ceritanya masing-masing. Orang-orang bisa teredukasi dengan alat bantu jersey dan lainnya. Orang yang tidak merasakan situasi saat itu bisa tahu ceritanya, nostalgia,” kata Budi, beberapa waktu lalu.
Jersey
Sejak terbentuk, banyak kegiatan yang kemudian KJTI laksanakan. Ada fun football, nonton bareng Timnas Indonesia di stadion, bakti sosial, hingga lelang jersey. Namun agenda rutin dan utama KJTI berupa mendata berbagai jersey dari berbagai daerah. Cara mendapatkan jersey bisa melalui banyak pintu, mulai dari pembelian langsung ke pemain, keluarga, lelang, atau lainnya. Tidak hanya jersey-nya, proses memperolehnya juga terdapat banyak cerita.
Jersey milik mantan pemain timnas, Budi Sudarsono, misalnya. Sekitar tahun 2018, ada seorang dari fanbase Persija yang menawarkan jersey pada KJTI. Butuh uang menjadi alasan penjualan. Saat transaksi selesai, beberapa waktu setelahnya, Budi Sudarsono melihat kembali jersey-nya.
“Pas ketemu, Mas Budi [Sudarsono] bilang kalau ini punya saya yang dikasih ke temen. Kata teman itu, kaosnya udah dimakan rayap, udah ancur,” kata Budi, yang saat ini berusia 36 tahun.
Secara tidak langsung, KJTI juga memberikan pemahaman apabila setiap jersey pemain memiliki nilai. Tidak jarang, jersey mantan pemain timnas tidak terawat. Padahal nilainya cukup tinggi dan bisa digunakan dalam berbagai kegiatan, termasuk dalam lelang amal.
Mamatri Sejarah dalam Museum
Apabila jersey, bola, peluit wasit, sampai sepatu adalah kumpulan informasi dalam sepak bola, maka saat ini kondisinya masih terpencar-pencar. Perlu adanya ruang untuk bisa menyatukan ini semua. Museum menjadi pilihan yang tepat agar cerita ini tersambung dengan sempurna.
Dalam merangkai kisah, KJTI berharap ke depan bisa membuat sebuah museum. Upaya ini tentu dengan bantuan banyak pihak, termasuk PSSI. “Jepang punya museum sepak bola. Di dalamnya ada jersey, piala, sampai jersey tim yang pernah bertanding melawan Jepang. Jadi ke stadion tidak hanya nonton bola, tapi juga rekreasi dan belajar,” kata Budi.
Meski saat museum sudah berdiri, masih banyak pekerjaan rumah untuk mengisinya, terutama di bagian rak piala. Rak piala akan terlihat kosong, khususnya untuk timnas senior. Namun langkah mewujudkan museum sudah dimulai dengan mengadakan pameran jersey, salah satunya di Jogja pada akhir Desember 2022 lalu. Setelahnya, beberapa pameran terselenggara di berbagai daerah.
Jogja menjadi tempat perdana pameran KJTI lantaran di kota ini pula PSSI berawal. Budi berharap, dari pameran perdana itu, bisa membuka jalan untuk nantinya ke misi yang lebih besar. "Atau nantinya difasilitasi bersama federasi membuat museum mini, di mana orang-orang dateng bisa melihat jersey beserta sejarahnya,” katanya. “Jersey ibaratnya jubah perang pemain waktu itu, itu yang ingin kami bawa [ceritanya ke depan].”
Kekalahan yang Dirayakan
Ada sebuah kekalahan pertandingan sepak bola yang justru dirayakan. Kisah yang salah satunya tercermin dalam jersey Timnas Indonesia milik Bima Sakti dengan nomor punggung 11. Ingatan kelam itu terjadi pada Piala Tiger (sekarang bernama Piala ASEAN Football Federation atau AFF) tahun 1998.
Dalam pertandingan terakhir penyisihan grup, Indonesia bertemu dengan Thailand. "Pada saat itu, Indonesia dan Thailand tidak mau menang, sepak bola gajah," kata Budi.
Indonesia maupun Thailand, sama-sama menghindari bertemu Vietnam di semifinal, yang kala itu menjadi tuan rumah. Kekuatan Vietnam berpotensi menjadi ganjalan untuk melaju ke babak berikutnya. Akhirnya Indonesia berhasil kalah.
Kunci kekalahan justru berada di pemain Indonesia yang mencetak gol ke gawangnya sendiri.
Proses pertandingan yang memalukan, namun justru dirayakan beberapa pemain dan pengurus tim. Berhasil menghindari Vietnam, ternyata Indonesia tetap saja kalah saat melawan Singapura. Justru Singapura yang kemudian menjadi juara.
Kisah-kisah seperti ini yang coba KJTI, dan juga Budi, coba rawat. Budi memiliki sekitar 100 jersey Timnas Indonesia. Dia mengumpulkan jersey tersebut sejak 2010. Sebelum mengoleksi jersey Timnas Indonesia, Budi terlebih dahulu mengoleksi jersey klub sepak bola Arsenal.
"Mulanya jersey luar negeri, timnas agak susah, satu orang [cuma punya] satu jersey, biasanya udah ilang di keluarganya, udah enggak ke-tracking," katanya.
Budi mendapat jersey Timnas Indonesia dari yang harganya ratusan ribu hingga jutaan rupiah. Termahal, Budi pernah membeli jersey Buma Sakti seharga Rp12 juta. Pembelian itu dalam rangka lelang untuk membantu korban kebakaran panti asuhan.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News
Berita Lainnya
Berita Pilihan
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Berita Populer
- Cuaca Hari Ini Minggu 6 April 2025: DIY Berawan
- Jadwal Kereta Bandara Xpress Hari Ini Minggu 6 April 2025, Berangkat dari Stasiun Tugu, Wates dan YIA
- Pilar Tol Jogja-Solo di Ring Road Sleman Segera Terlihat, Proyek Dikebut Seusai Libur Lebaran 2025
- Terbaru, Jalur Trans Jogja April 2025
- Di Cokrodiningratatan Jogja, Hanya Sampah Residu Diangkut ke Depo
Advertisement
Advertisement