Advertisement
Ferrari Tuduh Mercedes Gunakan Sayap Ilegal di Formula 1 2026
Ilustrasi balapan Formula 1 / Freepik
Advertisement
Harianjogja.com, JOGJA—Persaingan papan atas Formula 1 (F1) musim 2026 mendadak memanas di luar lintasan. Tim balap asal Italia, Ferrari, secara resmi menuding Mercedes telah memanfaatkan celah dalam peraturan teknis untuk memperoleh keuntungan signifikan melalui desain sayap depan pada mobil terbaru mereka, W17.
Tuduhan serius ini mencuat seusai beredarnya video analisis di media sosial yang menunjukkan pergerakan ganjil pada sayap depan Mercedes saat melahap tikungan di Grand Prix China, 15 Maret 2026 lalu. Rekaman tersebut memperlihatkan sayap depan W17 menutup dengan dua pola gerakan yang berbeda.
Advertisement
Berdasarkan analisis teknis, pola gerakan tersebut diduga melanggar Pasal C3.10.10 peraturan F1. Aturan tersebut secara tegas menyatakan bahwa transisi posisi sayap depan tidak boleh melebihi durasi 400 milidetik. Namun, sayap Mercedes terdeteksi bergerak dalam dua tahap, di mana tahap kedua disinyalir melampaui batas waktu yang diawasi oleh FIA.
"Mercedes diduga menggunakan mekanisme ini untuk meminimalkan perubahan gaya tekan ke bawah (downforce) secara bertahap, yang memberikan stabilitas lebih baik saat pengereman dan menikung," tulis laporan investigasi Motorsports. Keuntungan ini sangat krusial di era mobil 2026 yang memiliki sensitivitas aerodinamika sangat tinggi.
BACA JUGA
Seusai peringatan awal disampaikan Ferrari kepada FIA sebelum balapan di China, federasi otomotif dunia tersebut kini dilaporkan tengah menyiapkan investigasi mendalam. Jika terbukti bersalah, Mercedes dibayangi ancaman sanksi denda mencapai 400.000 euro, serupa dengan hukuman yang pernah dijatuhkan kepada Racing Point pada musim 2020 silam.
Kontroversi ini menjadi semakin pelik mengingat F1 baru saja melakukan perombakan regulasi besar-besaran dengan menghapus sistem DRS dan menggantinya dengan Active Aero. Jika klaim Ferrari benar, hal ini menandakan Mercedes telah menemukan cara ilegal untuk mengungguli sistem keadilan performa yang sedang dibangun FIA.
Seusai insiden ini meledak di paddock, mantan pembalap Mercedes, Lewis Hamilton, juga sempat menyinggung penggunaan mode mesin khusus yang memberikan keuntungan saat sesi kualifikasi. Hal ini menambah daftar panjang perdebatan teknis yang melibatkan tim panah perak tersebut dalam sejarah kompetisi jet darat. Hingga berita ini diturunkan, pihak Mercedes belum memberikan tanggapan resmi terkait tuduhan tersebut.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Berita Lainnya
Berita Pilihan
Advertisement
Imbas Konflik Timur Tengah, Philippine Airlines Terpaksa Setop 5 Rute
Advertisement
Bioskop Nyaman Rp5 Ribu di Museum Sonobudoyo Masih Sepi Peminat
Advertisement
Berita Populer
Advertisement
Advertisement







