Ducati Luncurkan Panigale V4 Mrquez Edisi Juara Dunia 2025
Ducati meluncurkan Panigale V4 Márquez 2025 edisi juara dunia MotoGP, hanya 293 unit dengan komponen premium dan desain eksklusif.
Foto ilustrasi sepak bola. - Freepik
Harianjogja.com, JOGJA—Pengadilan Arbitrase Olahraga atau Court of Arbitration for Sport (CAS) resmi merilis putusan banding terkait kasus pemalsuan dokumen yang menyeret tujuh pemain naturalisasi Malaysia national football team.
Keputusan ini membawa kabar baik bagi para pemain yang terlibat, namun menjadi pukulan bagi Football Association of Malaysia yang gagal mendapatkan keringanan sanksi.
Kasus skandal naturalisasi tersebut mencuat sejak 2025 dan melibatkan tujuh pemain, yakni Facundo Garces, Rodrigo Holgado, Imanol Machuca, Joao Figueiredo, Gabriel Palmero, Jon Irazabal, dan Hector Hevel.
Ketujuh pemain tersebut dinyatakan tidak memiliki pertalian darah dengan Malaysia sehingga proses perpindahan kewarganegaraan mereka dinilai cacat hukum oleh FIFA.
Pemain Diizinkan Kembali ke Klub
Sebelumnya, FIFA menjatuhkan sanksi disiplin berat kepada para pemain. Masing-masing dikenai denda 2.000 franc Swiss (sekitar Rp43 juta) serta larangan beraktivitas di dunia sepak bola selama 12 bulan.
Merasa hukuman tersebut terlalu berat, para pemain mengajukan banding ke CAS dengan alasan bahwa mereka tidak memiliki peran sentral dalam proses administrasi dokumen yang dipalsukan.
Melansir laporan media The Star, Kamis (5/3/2026), sidang yang digelar di Lausanne pada 26 Februari lalu memberikan sedikit kelonggaran bagi para pemain.
Meski tindakan pemalsuan dokumen dinyatakan terbukti secara hukum, CAS memutuskan untuk meringankan jenis hukuman yang dijatuhkan.
Larangan bertanding selama satu tahun tetap berlaku. Namun, seusai putusan terbaru, para pemain diperbolehkan kembali berlatih serta berpartisipasi dalam kegiatan internal di level klub masing-masing.
Dengan demikian, karier mereka di klub masih dapat berlanjut meski tetap dilarang memperkuat tim nasional hingga masa hukuman selesai.
FAM Tetap Didenda
Nasib berbeda justru dialami oleh FAM. Dalam permohonan banding terpisah, CAS secara tegas menolak argumen federasi sepak bola Malaysia tersebut.
FAM tetap diwajibkan membayar denda sebesar 350.000 franc Swiss atau sekitar Rp7,5 miliar akibat kelalaian dalam memverifikasi dokumen pemain naturalisasi.
Upaya FAM untuk menegosiasikan denda agar turun menjadi 50.000 franc Swiss (sekitar Rp1,08 miliar) juga tidak dikabulkan.
CAS memilih menguatkan sanksi awal dari FIFA sebagai bentuk ketegasan terhadap integritas regulasi pemain internasional.
Keputusan final ini menjadi pukulan bagi pengelolaan sepak bola Malaysia. Kegagalan banding tersebut tidak hanya berdampak pada keuangan federasi, tetapi juga mencoreng reputasi sepak bola negara tersebut di tingkat internasional setelah terbukti terjadi manipulasi identitas pemain dalam proses naturalisasi.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Ducati meluncurkan Panigale V4 Márquez 2025 edisi juara dunia MotoGP, hanya 293 unit dengan komponen premium dan desain eksklusif.
Dari 9 wakil Asia di Piala Dunia 2026, hanya Jepang dan Australia yang lolos 32 besar, sisanya tersingkir di fase grup.
Ribuan PPPK Gunungkidul hadapi ketidakpastian kontrak, Pemkab masih mencari solusi di tengah aturan batas belanja pegawai 30%.
NHTSA menutup investigasi Honda Odyssey setelah recall 441 ribu kendaraan berhasil mengatasi masalah airbag samping.
Korban tewas gempa Venezuela mencapai 1.430 jiwa. Gempa susulan terus terjadi dan menghambat proses pencarian korban.
Daftar lengkap 32 tim yang lolos ke babak gugur Piala Dunia 2026 setelah Austria dan Aljazair memastikan tiket terakhir.