Fitur OTA Mobil Listrik Disebut Bisa Jadi Celah Serangan Siber
Teknologi OTA pada mobil listrik dinilai membuka celah serangan siber. Pakar mengingatkan risiko peretasan kendaraan dan pentingnya perlindungan data pengguna.
Foto ilustrasi sepak bola, dibuat menggunakan Artificial Intelligence. - StockCake
Harianjogja.com, JOGJA— Presiden Konfederasi Sepak Bola Afrika (CAF), Patrice Motsepe, akhirnya angkat bicara terkait kontroversi pencabutan gelar Piala Afrika 2025. Dalam kunjungan resminya ke Senegal, Rabu (8/4/2026), Motsepe menyatakan kesiapannya untuk mendorong penyelidikan mendalam atas dugaan korupsi di tubuh organisasi yang dipimpinnya.
Langkah ini diambil seusai keputusan dewan banding CAF yang mencabut gelar juara milik Senegal dan memberikannya kepada Maroko memicu gelombang protes. “Saya memiliki toleransi nol terhadap korupsi. Ini lebih buruk dari Covid dan kanker,” tegas Motsepe, sebagaimana dilansir dari BBC.
Kronologi Skandal Final Rabat
Kontroversi ini berakar pada partai final yang berlangsung di Rabat, 18 Januari lalu. Saat itu, Senegal semula dinyatakan sebagai pemenang dengan skor 1-0 atas Maroko. Namun, laga diwarnai aksi protes pemain Senegal yang sempat meninggalkan lapangan akibat hadiah penalti kontroversial untuk Maroko di masa injury time.
Meski pemain Maroko, Brahim Diaz, gagal mengeksekusi penalti tersebut dan Senegal tetap menang di babak tambahan, dewan banding CAF justru menyatakan Senegal kalah walkover (WO) 0-3. Seusai pengumuman tersebut pada 17 Maret, pemerintah Senegal langsung menuntut penyelidikan independen internasional karena menilai keputusan tersebut melanggar etika olahraga.
Krisis Kepercayaan dan Gugatan ke CAS
Tekanan besar ini bahkan membuat Sekretaris Jenderal CAF, Veron Mosengo-Omba, memilih mundur dari jabatannya pada akhir Maret lalu. Federasi Sepak Bola Senegal (FSF) pun telah resmi melayangkan gugatan ke Pengadilan Arbitrase Olahraga (CAS) untuk membatalkan keputusan tersebut.
Menanggapi sengketa ini, Motsepe memilih untuk bersikap hati-hati. “Kita harus menunggu keputusan CAS sebagai badan tertinggi. Kami akan menerapkan keputusan itu sepenuhnya,” ujarnya.
Komitmen Transparansi CAF
Motsepe menegaskan bahwa di bawah kepemimpinannya, CAF tidak akan menutup-nutupi pelanggaran apa pun. Baginya, transparansi adalah kunci untuk memulihkan kredibilitas sepak bola di Benua Hitam.
“Kami tidak bisa memberi anak-anak kami persepsi bahwa jika ingin sukses, Anda harus korup. Kami harus memberlakukan hukum yang diperlukan dan melaksanakannya,” pungkas pengusaha asal Afrika Selatan tersebut. Seusai pernyataan tegas ini, publik kini menanti apakah komitmen Motsepe akan menjadi titik balik perbaikan tata kelola sepak bola Afrika atau sekadar janji di tengah badai krisis.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Teknologi OTA pada mobil listrik dinilai membuka celah serangan siber. Pakar mengingatkan risiko peretasan kendaraan dan pentingnya perlindungan data pengguna.
Kasus dugaan keracunan MBG di Kulonprogo meluas hingga 105 korban. Dinkes menemukan dugaan pelanggaran pengolahan makanan, sementara ibu hamil dan ibu menyusui
Prospek bisnis lapangan padel di Indonesia: modal Rp1 miliar, target pasar luas, dan strategi sukses. Simak peluang, tantangan, dan tips memulai usaha padel!
Polisi memburu pelaku pencurian tabung gas LPG 3 kg yang viral dikejar warga di Dlingo, Bantul. Pelaku disebut sudah beberapa kali beraksi dan masih dalam penye
Google menghadirkan fitur Private Space di Android 15 untuk menyembunyikan aplikasi sensitif dan melindunginya dengan PIN atau sandi khusus. Simak cara kerjanya
BRSPA Dinsos DIY menggelar Peningkatan Kapasitas Safeguarding Bagi Pengelola Balai Rehabilitasi Sosial dan Pengasuhan Anak di Kantor Kalurahan Sendangtirto.