RSUD Prambanan Tegaskan Tak Temukan Kelalaian Medis
RSUD Prambanan menyatakan terbuka memberikan penjelasan medis terkait dugaan malpraktik. Audit internal dan eksternal disebut tidak menemukan kelalaian medis.
Pelatih Kepala PSS Sleman, Ansyari Lubis (kanan) dalam Post Match Press Conference pada Sabtu (9/5/2026)./Harian Jogja -- Catur Dwi Janati
Harianjogja.com, SLEMAN—Langkah PSS Sleman harus terhenti secara dramatis di partai final Pegadaian Championship 2026. Super Elang Jawa takluk dari Garudayaksa FC melalui adu penalti setelah bermain imbang 2-2 hingga babak tambahan waktu, Sabtu (9/5/2026) malam.
Kekalahan ini sekaligus memutus rekor impresif PSS yang sebelumnya tak terkalahkan di kandang sepanjang kompetisi.
Kehilangan Fokus di Babak Pertama
Pelatih PSS, Ansyari Lubis, mengakui timnya sempat kehilangan fokus pada awal pertandingan. Kondisi tersebut dimanfaatkan dengan baik oleh Garudayaksa untuk mengendalikan permainan dan mencetak gol lebih dulu.
“Di babak pertama kita sedikit kehilangan fokus, sehingga lawan bisa mengambil permainan dengan sangat baik,” ujarnya dalam konferensi pers usai laga.
Masuk babak kedua, PSS mencoba bangkit dengan meningkatkan intensitas serangan. Upaya tersebut membuahkan hasil setelah dua gol berhasil diciptakan untuk menyamakan kedudukan.
“Babak kedua kita bermain sangat luar biasa dan bisa menyamakan skor,” tambahnya.
Laga Ketat Berujung Adu Penalti
Skor imbang 2-2 bertahan hingga waktu normal dan dilanjutkan ke extra time. Namun, kedua tim tetap gagal menambah gol, sehingga pertandingan harus ditentukan melalui adu penalti.
Dalam momen krusial tersebut, Garudayaksa tampil lebih tenang dan efektif, sementara PSS harus mengakui keunggulan lawan.
Menurut Ansyari, adu penalti memang sulit diprediksi karena dipengaruhi banyak faktor, mulai dari mental hingga keberuntungan.
“Dalam adu penalti banyak faktor yang menentukan. Tapi secara keseluruhan ini pertandingan yang bagus untuk ditonton,” katanya.
Tetap Optimistis Jelang Liga 1
Meski gagal meraih gelar, Ansyari tetap melihat sisi positif dari performa timnya. Ia berharap PSS bisa bangkit dan tampil lebih kompetitif di musim depan.
Apalagi, PSS dipastikan kembali ke kasta tertinggi sepak bola nasional, yakni Liga 1 Indonesia.
“Mudah-mudahan ke depan PSS bisa lebih baik lagi di Liga 1,” tegasnya.
Pemain Minta Maaf ke Suporter
Sementara itu, penyerang PSS, Irvan Mofu, menyampaikan permohonan maaf kepada suporter atas kegagalan meraih trofi.
“Pertama-tama kami minta maaf kepada warga Sleman. Kami belum bisa juara, tapi yang terpenting PSS kembali ke Liga 1,” ucapnya.
Kekalahan ini menjadi catatan penting bagi PSS untuk berbenah, terutama dalam menjaga konsistensi permainan dan kesiapan mental di laga-laga krusial. Dengan kembalinya ke Liga 1, tantangan yang lebih besar sudah menanti Super Elang Jawa.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
RSUD Prambanan menyatakan terbuka memberikan penjelasan medis terkait dugaan malpraktik. Audit internal dan eksternal disebut tidak menemukan kelalaian medis.
Pendapatan Gunungkidul 2025 mencapai Rp2,067 triliun. PAD melampaui target, namun DPRD masih memberi sejumlah catatan untuk belanja dan infrastruktur.
Bulog telah menyerap 3,24 juta ton setara beras hingga 29 Juni 2026 dan memastikan penyerapan gabah petani terus dilakukan sepanjang tahun.
Proyeksi rupiah hari ini diperkirakan melemah di tengah penantian data ekonomi AS dan rilis neraca perdagangan serta inflasi Indonesia.
Peringatan Harganas 2026, Mendukbangga mengajak keluarga mengurangi ketergantungan gawai, menghidupkan meja makan, dan memperkuat peran ayah.
Dua pria yang viral karena melawan arus dan menantang pengendara di Jogja ditilang polisi usai menyerahkan diri ke Polresta Jogja.