Turnamen FIB Bronze Jogja Jadi Batu Loncatan Padel Indonesia ke Dunia

Sunartono
Sunartono Minggu, 24 Mei 2026 14:37 WIB
Turnamen FIB Bronze Jogja Jadi Batu Loncatan Padel Indonesia ke Dunia

PB PPI Galih Kartasasmita dan Ketua Umum Pengda Padel DIY, RM Gusthilantika Marrel Suryakusuma serta pelatih Timnas Padel Indonesia berfoto bersama dalam FIB Bronze di Jogja, Minggu (24/5/2026). /Istimewa.

Harianjogja.com, JOGJA—Turnamen padel internasional FIB Bronze seri 2026 di Yogyakarta menjadi panggung penting bagi perkembangan olahraga padel Indonesia. Ajang yang diikuti sekitar 200 atlet dari dalam dan luar negeri itu tidak hanya menghadirkan atmosfer kompetisi kelas dunia, tetapi juga menjadi bagian dari persiapan menuju Kualifikasi Piala Dunia hingga Asian Games.

Kompetisi yang bisa ditonton gratis oleh masyarakat tersebut sekaligus menjadi seri pembuka dari empat rangkaian FIB Bronze 2026 yang akan berlangsung di Indonesia. Setelah Yogyakarta, turnamen serupa dijadwalkan hadir di Jakarta, Banten, dan Bali.

Ketua Umum Pengurus Besar Persatuan Padel Indonesia (PB PPI), Galih Kartasasmita, mengaku bersyukur penyelenggaraan seri perdana di Jogja berjalan lancar. Menurutnya, kehadiran pemain-pemain papan atas dunia menjadi pengalaman berharga bagi atlet nasional.

"Alhamdulillah sekali, hari ini hari terakhir dari kompetisi FIB Bronze pertama di Indonesia seri 2026 yang kita adakan di Jogja. Luar biasa sekali, banyak pemain-pemain top rank dunia yang datang ke sini," ujar Galih saat ditemui di sela kompetisi, Minggu (24/5/2026).

Menurut Galih, tujuan utama penyelenggaraan turnamen internasional tersebut adalah memberikan kesempatan kepada atlet Indonesia untuk merasakan langsung atmosfer pertandingan kelas dunia sekaligus mengukur kemampuan mereka.

"Intinya adalah agar pemain-pemain Indonesia ini bisa bertemu dan bertanding langsung dengan pemain-pemain top dunia. Tentunya banyak sekali positifnya untuk persiapan, pemantapan mental, dan untuk bisa menakar kita ada di mana," jelasnya.

Ia menilai pengalaman bertanding melawan atlet dunia mampu meningkatkan rasa percaya diri para pemain nasional. Dengan menghadapi lawan berkualitas tinggi secara langsung, atlet Indonesia dinilai bisa memahami standar permainan internasional yang harus dikejar.

"Kita bisa memberikan suatu kepercayaan diri bahwa, 'Oh, mereka tuh cuman segini.' Jadi, pada saat mereka yang memang akan terpilih menjadi bagian dari timnas kita, mereka sudah tahu levelnya seperti apa," tambahnya.

Seleknas Timnas Padel Dimulai Akhir Mei

Turnamen FIB Bronze Jogja juga menjadi bagian dari proses penjaringan atlet nasional melalui Seleksi Nasional (Seleknas) PB PPI. Seleksi itu akan digelar dalam dua tahap untuk mempersiapkan tim nasional menghadapi Kualifikasi Piala Dunia Zona Asia dan Asian Games.

Galih menjelaskan, sesi pertama seleknas akan berlangsung pada 25–26 Mei 2026, kemudian dilanjutkan tahap kedua di Jakarta pada 29–30 Juni 2026.

"Tentunya ini untuk memilih timnas kita dan mengadakan Training Center [TC] jangka panjang. Kami ingin mempersiapkan diri secara matang untuk Kualifikasi Piala Dunia Zona Asia," tegasnya.

Selain membidik target internasional, hasil seleksi tersebut juga akan menjadi dasar pembentukan skuad Asian Games Indonesia.

"Dari situ kita akan memilih juga karena kita akan berangkat ke Asian Games. Kita akan memilih yang terbaik dari seleksi ini untuk Asian Games. Jadi ini semua bagian dari suatu persiapan kami nanti," pungkas Galih.

DIY Perkuat Ekosistem Klub Padel

Sementara itu, Ketua Umum Pengda Padel DIY, RM Gusthilantika Marrel Suryakusuma, menilai pembinaan olahraga padel tidak dapat berjalan maksimal tanpa dukungan klub dan pemilik venue.

Menurutnya, federasi membutuhkan kolaborasi kuat dengan ekosistem padel di daerah agar pembinaan atlet dapat berlangsung berkelanjutan.

"Kami sedang mencoba terus, terutama untuk atlet senior dan KU [kelompok usia] muda agar mereka terus punya pengalaman. Paling penting saat ini adalah menghimpun para owner dan club owner," ujar Marel.

Ia menjelaskan pembinaan atlet sejatinya berakar dari klub. Karena itu, Pengda DIY saat ini mendorong konsep Satu Venue, Satu Klub untuk memperluas pencarian bakat atlet muda padel di DIY.

"Saya sedang mendorong mereka, paling tidak satu venue atau satu tempat itu punya satu klub. Jadi akhirnya mereka bisa menghimpun lebih banyak pemain," jelasnya.

Berdasarkan data Pengda Padel DIY, saat ini terdapat sekitar 35 hingga 40 klub padel yang tersebar di wilayah DIY. Potensi tersebut dinilai cukup besar untuk menopang perkembangan olahraga padel ke depan.

Marel juga mengakui olahraga padel masih tergolong sangat baru di Indonesia sehingga sistem lisensi kepelatihan nasional masih dalam tahap penyusunan.

"Istilahnya masih 'bayi cepret'. Jadi untuk lisensi kepelatihan, kami masih menunggu arahan dan program dari Pengurus Besar (PB) di tingkat nasional," tuturnya.

Sektor Putri DIY Tembus Final

Di tingkat persaingan nasional, Marel menyebut posisi atlet DIY sebenarnya cukup kompetitif, baik di sektor putra maupun putri. Namun untuk sektor ganda putra, persaingan menuju level internasional masih tergolong berat.

"Ganda putra ini perlu dorongan yang sangat masif karena untuk tembus ke level internasional cukup berat. Terbukti hari ini di kompetisi belum ada yang lolos," ungkap Marel.

Di tengah tantangan sektor putra, kabar positif justru datang dari sektor ganda putri. Atlet DIY, Novela Putri, berhasil melaju hingga babak final dan membuka peluang meraih gelar juara di ajang FIB Bronze Jogja 2026.

"Tim perempuan baru saja ada yang lolos dan masuk ke final, atas nama Novela Putri. Harapannya, semoga di sektor perempuan ini kita bisa mengamankan satu gelar juara," pungkasnya optimistis.

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Share

Sunartono
Sunartono Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online