MJM 2026 Pecahkan Rekor, UMKM dan Budaya Ikut Terdongkrak

Abdul Hamied Razak
Abdul Hamied Razak Senin, 22 Juni 2026 05:37 WIB
MJM 2026 Pecahkan Rekor, UMKM dan Budaya Ikut Terdongkrak

Sebanyak 10.200 pelari dari 17 negara mengikuti Mandiri Jogja Marathon (MJM) 2026 pada Minggu (21/6/2026) di kawasan Candi Prambanan. Ist

Harianjogja.com, JOGJA— Ajang sport tourism bergengsi Mandiri Jogja Marathon (MJM) 2026 mencapai puncaknya pada Minggu (21/6/2026) di kawasan Candi Prambanan. Mengusung tema “More Than a Race”, event tahunan ini tak sekadar lomba lari, tetapi menjadi perpaduan olahraga, budaya, pariwisata, hingga pemberdayaan ekonomi lokal.

Tahun ini, MJM mencatat rekor baru dengan melibatkan 10.200 pelari dari 17 negara. Jumlah tersebut menjadi yang terbesar sejak pertama kali digelar pada 2017. Para peserta berkompetisi dalam empat kategori, yakni Marathon (42K), Half Marathon (21K), 10K, dan 5K Fun Run dengan rute bersertifikasi internasional dari Association of International Marathons and Distance Races (AIMS).

Tak hanya menyuguhkan kompetisi, rute MJM 2026 dirancang menghadirkan pengalaman khas Jogja. Pelari melintasi sejumlah ikon budaya seperti Candi Plaosan, Monumen Taruna, hingga kawasan perdesaan yang ikut berpartisipasi dalam menyukseskan acara.

Di kategori Full Marathon Open, pelari internasional kembali mendominasi. Kiprono Koech keluar sebagai juara pertama sektor putra dengan catatan waktu 02:20:28, disusul Amos Kipkemoi Chesang dan James Cherutich Tallam. Sementara di sektor putri, Eunice Nyawira Muchiri finis terdepan dengan waktu 02:39:35, mengungguli Medanit Feyera Gurmesa dan Elizabeth Chepkanan Rumokol.

Di kategori nasional, pelari Indonesia menunjukkan performa impresif. Rikki Marthin L Simbolon menjadi yang tercepat di sektor putra dengan waktu 02:30:06, diikuti Immanuel Hutasoit dan Laode Safrudin. Adapun di sektor putri, Dwi Tiansi Anggraini meraih juara pertama dengan waktu 03:04:55.

Corporate Secretary Bank Mandiri Adhika Vista menegaskan, MJM kini telah berkembang menjadi platform kolaborasi lintas sektor. Event ini menghubungkan komunitas, UMKM, hingga pemerintah daerah untuk menciptakan dampak ekonomi dan sosial berkelanjutan.

“MJM bukan sekadar ajang olahraga, tetapi ruang kolaborasi yang menghadirkan manfaat nyata bagi masyarakat,” ujarnya.

Kehadiran Gubernur DIY Sri Sultan Hamengku Buwono X dalam pelepasan peserta Mandiri Jogja Marathon (MJM) 2026 menjadi simbol kuat dukungan pemerintah daerah terhadap pengembangan olahraga berbasis pariwisata.

Bagi DIY, marathon tidak hanya dipandang sebagai ajang kompetisi, tetapi juga sebagai medium strategis untuk memperkenalkan budaya, menggerakkan sektor wisata, sekaligus menciptakan dampak ekonomi langsung bagi masyarakat.

Menteri Pemuda dan Olahraga Erick Thohir menilai Jogja memiliki potensi besar untuk terus memperkuat posisinya sebagai destinasi unggulan sport tourism di Indonesia. Ia menekankan bahwa kekayaan budaya yang berpadu dengan keindahan alam serta kualitas penyelenggaraan event menjadi daya tarik utama bagi wisatawan.

“Sport tourism bukan hanya membuat masyarakat lebih sehat, tetapi juga menjadi motor penggerak ekonomi. Jogja memiliki kekuatan besar dari sisi budaya dan destinasi untuk menarik wisatawan lebih banyak,” ujar Erick.

Wakil Direktur Utama Bank Mandiri Henry Panjaitan menambahkan, MJM dirancang sebagai event yang memberikan dampak luas, tidak hanya bagi peserta, tetapi juga masyarakat sekitar. Berbagai program sosial dan pemberdayaan ekonomi menjadi bagian penting dalam penyelenggaraan ajang ini.

“Kami ingin manfaat MJM benar-benar dirasakan masyarakat. UMKM, desa sekitar, hingga pelaku ekonomi lokal harus ikut tumbuh bersama event ini,” kata Henry.

Dampak positif MJM juga terasa signifikan di sektor pariwisata. Kepala Dinas Pariwisata DIY Imam Pratanadi menyebut ajang ini telah berkembang menjadi etalase promosi daerah yang efektif. Ribuan pelari yang datang bersama keluarga maupun komunitas turut meningkatkan okupansi hotel, kunjungan destinasi wisata, hingga transaksi di sektor kuliner dan UMKM.

“Mandiri Jogja Marathon semakin mengukuhkan DIY sebagai destinasi sport tourism unggulan. Event ini mampu meningkatkan jumlah kunjungan sekaligus memperpanjang lama tinggal wisatawan,” jelas Imam.

Berdasarkan riset Mandiri Institute, penyelenggaraan MJM 2025 tercatat mendorong pertumbuhan belanja masyarakat hingga 11,6 persen selama periode acara. Dengan jumlah peserta yang meningkat pada 2026, dampak ekonomi diproyeksikan semakin besar, terutama di sektor perhotelan, transportasi, kuliner, jasa wisata, serta UMKM lokal.

Tak hanya berdampak ekonomi, MJM 2026 juga mengusung misi pelestarian budaya. Race Director MJM 2026 dari iSport, Pandu Bagus Buntaran, mengungkapkan desain lintasan tahun ini dirancang untuk membawa pelari menyusuri narasi budaya Jogja.

Bahkan, medali finisher mengangkat ikon Panggung Krapyak yang merupakan bagian dari Sumbu Filosofi Yogyakarta—warisan dunia yang telah diakui UNESCO.

“Setiap kilometer di MJM adalah perjalanan budaya. Pelari tidak hanya berlari, tetapi juga memahami filosofi dan sejarah yang hidup di Jogja,” ujar Pandu.

Dari sisi ekonomi, Bank Mandiri menghadirkan program mLaku Lokal di Race Village dengan melibatkan 27 brand lokal dan 70 tenant UMKM. Selain itu, UMKM Festival juga digelar dengan partisipasi sekitar 60 pelaku usaha dari sekitar Prambanan. “Melalui MJM, kami ingin menghadirkan pengalaman berkesan sekaligus menciptakan nilai tambah bagi masyarakat dan ekonomi daerah,” katanya.

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Share

Abdul Hamied Razak
Abdul Hamied Razak Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online