Fakta Stunting di Bantul, 6 dari Sepuluh Anak Tinggal dengan Perokok
Dinkes Bantul mengungkap paparan rokok dalam keluarga menjadi faktor terbesar penyebab stunting. Angka stunting turun menjadi 8,3 persen, namun tantangan masih
Suasana pelantikan pengurus Askab PSSI Sleman periode 2026-2030 di Pendopo Parasamya Sleman, Minggu (14/6/2026). /Harian Jogja-Yosef Leon.
Harianjogja.com, SLEMAN—Askab PSSI Sleman periode 2026-2030 resmi memulai masa kerja baru dengan membawa sejumlah target strategis untuk mendorong kemajuan sepak bola Sleman. Kepengurusan yang dipimpin Deny Ardianta menitikberatkan perhatian pada pembinaan usia dini, penguatan organisasi, serta peningkatan kualitas kompetisi sebagai pondasi lahirnya talenta sepak bola masa depan di Bumi Sembada.
Pelantikan kepengurusan baru ini sekaligus menjadi momentum konsolidasi bagi seluruh insan sepak bola di Sleman. Sejumlah program prioritas telah disiapkan untuk memperkuat ekosistem sepak bola daerah agar lebih profesional, terstruktur, dan mampu menghasilkan pemain-pemain berkualitas yang dapat bersaing di tingkat nasional.
Dalam sambutannya, Deny Ardianta menegaskan bahwa amanah sebagai Ketua Askab PSSI Sleman bukan sekadar jabatan organisasi, melainkan tanggung jawab besar untuk menjawab harapan masyarakat terhadap perkembangan sepak bola daerah.
"Jabatan sebagai Ketua PSSI Sleman adalah sebuah kehormatan yang sekaligus membawa konsekuensi tanggung jawab moral yang sangat berat," ujarnya, Minggu (14/6/2026).
Menurut Deny, sepak bola memiliki nilai penting berupa kebersamaan, kerja sama, dan kolaborasi yang harus diterapkan dalam pengelolaan organisasi. Karena itu, ia menilai keberhasilan program kerja tidak mungkin dicapai hanya oleh ketua maupun pengurus inti semata.
"Esensi mendasar sepak bola itulah yang ingin saya bawa ke dalam organisasi PSSI Sleman. Saya tidak bisa bekerja sendiri. PSSI Sleman tidak akan pernah bisa berjalan jika hanya mengandalkan ketua dan pengurus inti saja," katanya.
Sebagai panduan kerja selama periode 2026-2030, Askab PSSI Sleman telah menetapkan sejumlah agenda utama. Salah satu fokus terbesar adalah membangun tata kelola organisasi yang transparan, profesional, dan akuntabel guna mendukung kemajuan sepak bola Sleman secara berkelanjutan.
Selain penguatan organisasi, kepengurusan baru juga akan menjalankan berbagai program strategis yang mencakup standarisasi kompetisi usia dini, peningkatan kualitas perangkat pertandingan, hingga sertifikasi bagi pelatih lokal. Langkah tersebut dinilai penting untuk menciptakan sistem pembinaan yang lebih terukur dan berkesinambungan.
"Target-target besar ini memang terdengar ambisius, tetapi akan mustahil tercapai jika kita bergerak sendiri-sendiri," katanya.
Sementara itu, Ketua Umum Asprov PSSI DIY, Dessy Arfianto, menilai kemajuan sepak bola di Daerah Istimewa Yogyakarta sangat ditentukan oleh kekuatan organisasi sepak bola di tingkat kabupaten dan kota. Karena itu, sinergi antarpemangku kepentingan menjadi faktor penting dalam mewujudkan visi pengembangan sepak bola daerah.
"Visi sepak bola DIY sangat bergantung pada pengurus daerah. Karena itu harus ada sinergi bersama antara seluruh pemangku kepentingan," ujarnya.
Dessy menjelaskan proses pembinaan pemain harus dimulai dari level paling dasar, yakni sekolah sepak bola dan klub-klub akar rumput. Dari sana, para pemain muda perlu mendapatkan ruang kompetisi yang memadai melalui turnamen maupun kompetisi resmi yang dikelola Askab sebelum melangkah ke level yang lebih tinggi.
Menurutnya, keberhasilan pembinaan akan terlihat ketika talenta-talenta muda daerah mampu menembus panggung nasional dan menjadi bagian dari regenerasi sepak bola Indonesia. Karena itu, seluruh elemen sepak bola di Sleman diharapkan dapat bergerak bersama untuk menciptakan sistem pembinaan yang kuat dan berkelanjutan.
"Kita berharap ke depan akan mendengar nama-nama anak Sleman yang menghiasi skuad Tim Nasional Indonesia. Itu mimpi yang harus diperjuangkan bersama mulai dari sekarang," katanya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Dinkes Bantul mengungkap paparan rokok dalam keluarga menjadi faktor terbesar penyebab stunting. Angka stunting turun menjadi 8,3 persen, namun tantangan masih
Agustus 2026 menghadirkan hujan meteor Perseid, gerhana matahari total, konjungsi Mars dan Bulan, oposisi Saturnus, hingga supermoon. Simak jadwal lengkapnya.
Benarkah film dan drama Korea dapat memicu bunuh diri? Simak kajian tentang Werther Effect, Papageno Effect, serta pentingnya literasi media.
Bansos beras tahap kedua mulai disalurkan 17 Agustus 2026. Kopdes Merah Putih berpeluang menjadi lokasi penyaluran bagi 33,24 juta penerima.
Longsor tebing di Tanjakan Clongop Gunungkidul belum diperbaiki. Warga berharap penanganan dipercepat sebelum musim hujan tiba.
GIIAS 2026 menghadirkan sejumlah mobil baru di bawah Rp200 juta, didominasi kendaraan listrik dengan harga mulai Rp155 juta.