Lagu Kebangsaan Iran Dicemooh di Piala Dunia 2026 di Los Angeles

Jumali
Jumali Senin, 22 Juni 2026 14:47 WIB
Lagu Kebangsaan Iran Dicemooh di Piala Dunia 2026 di Los Angeles

Bendera Iran.

Harianjogja.com, JOGJA— Suasana laga Grup G Piala Dunia 2026 antara Iran dan Belgia di Stadion SoFi, Los Angeles, Senin (22/6/2026) dini hari WIB, diwarnai insiden cemoohan terhadap lagu kebangsaan Iran. Aksi tersebut kembali terjadi setelah sebelumnya fenomena serupa muncul pada laga pembuka Iran melawan Selandia Baru.

Cemoohan itu disebut berasal dari sebagian penonton, terutama komunitas diaspora Iran yang tinggal di Amerika Serikat. Los Angeles sendiri dikenal sebagai salah satu kota dengan populasi warga Iran terbesar di luar negeri.

Diaspora Iran dan Akar Protes Politik

Sekitar 600.000 warga Iran-Amerika tinggal di wilayah Los Angeles dan sekitarnya. Banyak di antara mereka merupakan diaspora yang meninggalkan Iran pasca-Revolusi Islam 1979 dan menilai lagu kebangsaan saat ini sebagai simbol rezim, bukan representasi seluruh rakyat Iran.

Mengutip laporan Harian The Independent, sekitar 300 hingga 500 demonstran anti-rezim juga sempat berkumpul di luar stadion. Mereka menyatakan penolakan terhadap kehadiran simbol negara Iran dalam ajang olahraga global tersebut.

FIFA sebelumnya mengimbau penonton untuk menjaga suasana damai dengan mengajak “bertepuk tangan untuk perdamaian”, namun respons di stadion tetap didominasi cemoohan dari sebagian penonton.

Keluhan Iran Soal Tekanan di Luar Lapangan

Di luar isu politik, Timnas Iran juga mengeluhkan sejumlah kendala teknis selama turnamen. Pelatih Amir Ghalenoei menyebut timnya menghadapi situasi yang tidak ideal terkait jadwal dan mobilitas.

Ia menyebut Iran hanya memiliki waktu persiapan kurang dari 16 jam setelah tiba di Los Angeles dari markas mereka di Tijuana, Meksiko. Bahkan, tim disebut harus segera kembali setelah pertandingan selesai.

“Kami menghadapi banyak tantangan, terutama di luar lapangan,” ujar Ghalenoei seperti dikutip dari Yahoo Sports.

Sementara itu, pelatih Belgia Rudi Garcia menegaskan bahwa turnamen ini seharusnya fokus pada sepak bola, bukan politik.

Laga Berakhir Imbang Tanpa Gol

Terlepas dari situasi di luar lapangan, pertandingan sendiri berakhir imbang 0-0. Belgia harus bermain dengan 10 pemain setelah Nathan Ngoy diganjar kartu merah pada menit ke-67.

Hasil ini membuat Iran mengoleksi dua poin dari dua laga, setelah sebelumnya bermain imbang 2-2 melawan Selandia Baru. Laga terakhir Grup G melawan Mesir di Seattle pada 27 Juni 2026 akan menjadi penentu langkah Iran menuju babak 32 besar—yang berpotensi menjadi sejarah baru bagi mereka.

Kapten Iran, Alireza Jahanbakhsh, tetap mencoba menjaga fokus tim di tengah tekanan.

“Kami bermain untuk semua orang Iran, di dalam dan luar negeri, apa pun ideologi mereka,” ujarnya.

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Share

Jumali
Jumali Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online