Petisi Minta Final Piala Dunia Diulang Tembus 80 Ribu Tanda Tangan

Jumali
Jumali Kamis, 23 Juli 2026 15:47 WIB
Petisi Minta Final Piala Dunia Diulang Tembus 80 Ribu Tanda Tangan

Trofi Piala Dunia - ist/FIFA

Harianjogja.com, JOGJA—Kontroversi mewarnai gelaran final Piala Dunia 2026 yang mempertemukan Argentina dan Spanyol di Stadion New Jersey. Seorang penggemar Argentina bernama Gisela Sanchez meluncurkan petisi untuk mengulang pertandingan dengan dalih kinerja wasit Slavko Vincic yang dinilai korup dan memihak.

Petisi yang diluncurkan melalui platform Change.org ini menjadi viral dan hingga Kamis (23/7/2026) pagi waktu Indonesia, telah mengumpulkan hampir 80 ribu tanda tangan, memicu perdebatan hangat di kalangan pecinta sepak bola dunia.

Dalam kampanyenya, Gisela Sanchez menyerukan agar laga final diulang karena wasit Vincic dinilai jelas memihak salah satu tim, yang pada akhirnya mengubah jalannya pertandingan dan menyebabkan kekecewaan besar bagi para pemain, pelatih, dan terutama para penggemar yang telah menantikan momen bersejarah ini.

"Badan pengatur sepak bola perlu meninjau insiden-insiden itu dengan keseriusan dan transparansi, dan mempertimbangkan mengulang final tanpa pengaruh wasit korup," tegas Sanchez dalam pernyataannya.

Selain itu, media Spanyol, Marca yang mengutip petisi dari Sanchez juga mengungkapkan terkait kontroversi wasit yang menjadi sorotan setelah keputusan kartu merah yang diberikan kepada Enzo Fernandez pada injury time babak kedua. Kartu merah tersebut mengubah dinamika pertandingan yang pada akhirnya dimenangkan oleh Spanyol melalui gol tunggal Ferran Torres pada menit ke-106.

Bagi para pendukung Argentina, keputusan wasit dianggap terlalu keras dan tidak proporsional, terlebih karena terjadi pada momen krusial menjelang akhir pertandingan. Mereka menilai bahwa wasit Vincic telah kehilangan kendali atas jalannya laga, yang kemudian memicu emosi di kedua kubu.

Tidak hanya kartu merah, setelah pertandingan usai juga terjadi kericuhan yang melibatkan pemain Argentina, Nahuel Molina, yang kemudian diikuti oleh Leandro Paredes dan asisten pelatih Roberto Ayala. Insiden ini menambah daftar panjang kontroversi yang membuat laga final ini diingat sebagai salah satu final paling panas dalam sejarah Piala Dunia.


Hoaks

Namun, di tengah hebohnya petisi tersebut, muncul cerita berbeda yang datang dari Argentina. Media El Canciller mengklaim bahwa laporan soal petisi yang meminta final Piala Dunia 2026 diulang adalah palsu atau hoaks. Media tersebut menegaskan bahwa tidak ada rencana atau inisiatif resmi yang mewakili negara atau federasi sepak bola Argentina dalam upaya tersebut.


Klaim ini tentu menimbulkan kebingungan di kalangan publik, mengingat petisi tersebut nyata dan dapat diakses oleh siapa pun. Perbedaan informasi ini menunjukkan bahwa polemik pasca-final tidak hanya terjadi di lapangan, tetapi juga di ranah media dan opini publik.

Bagi para penggemar sepak bola di Indonesia, perdebatan ini menjadi pelajaran bahwa euforia dan kekecewaan dalam sepak bola sering kali melahirkan narasi yang berbeda-beda, dan penting untuk selalu memverifikasi informasi dari sumber yang terpercaya.

Terlepas dari benar atau tidaknya petisi tersebut, yang jelas final Piala Dunia 2026 telah menorehkan sejarah tersendiri, tidak hanya karena kemenangan Spanyol, tetapi juga karena kontroversi yang menyertainya. Keputusan FIFA terkait wasit dan evaluasi pertandingan tentu akan menjadi sorotan ke depan.

Bagi timnas Spanyol, gelar juara tetap sah dan menjadi kebanggaan tersendiri, sementara Argentina harus merelakan mimpi mereka pupus di detik-detik terakhir. Permintaan untuk mengulang pertandingan mungkin hanya akan tetap menjadi wacana, namun dampaknya terhadap persepsi publik terhadap integritas wasit dalam sepak bola akan terus dikenang.

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Share

Jumali
Jumali Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online