Rupiah Kembali Tertekan Dibuka Melemah ke Rp18.115 per Dolar AS
Rupiah dibuka melemah ke Rp18.115 per dolar AS pada Selasa 14 Juli 2026. Konflik AS-Iran dan penguatan dolar masih menjadi tekanan utama bagi mata uang Garuda.
Ilustrasi bulu tangkis atau badminton - Foto dibuat oleh AI/StockCake
Harianjogja.com, JOGJA—Ketika Japan Open 2026 mulai bergulir di Tokyo Metropolitan Gymnasium, Selasa (14/7/2026), Indonesia datang tidak hanya membawa harapan meraih prestasi baru. Turnamen ini juga menyimpan jejak panjang kejayaan bulu tangkis Merah Putih yang pernah menjadi salah satu kekuatan dominan di Negeri Sakura.
Dalam sejarah Japan Open, sektor ganda putra menjadi ladang prestasi paling subur bagi Indonesia. Hingga saat ini, pasangan-pasangan Merah Putih telah mengoleksi 15 gelar juara, jumlah terbanyak dibanding sektor lain yang pernah dimenangkan Indonesia.
Dominasi tersebut lahir dari sejumlah pasangan legendaris yang namanya masih dikenang hingga sekarang. Tiga pasangan tercatat menjadi pemegang rekor dengan koleksi tiga gelar juara Japan Open.
Pasangan pertama adalah Ricky Subagja/Rexy Mainaky yang mencatat hattrick juara pada 1995, 1996, dan 1997. Prestasi serupa kemudian diikuti Kevin Sanjaya Sukamuljo/Marcus Fernaldi Gideon yang mendominasi turnamen ini pada edisi 2017, 2018, dan 2019.
Sementara itu, Tony Gunawan/Candra Wijaya juga mengoleksi tiga gelar juara meski tidak diraih secara beruntun, yakni pada 2000, 2006, dan 2007. Menariknya, dua gelar terakhir diraih ketika Tony Gunawan sudah tidak lagi membela Indonesia setelah menjadi warga negara Amerika Serikat.
Di luar rekor tiga gelar tersebut, Ricky Subagja dan Candra Wijaya memiliki catatan yang membuat keduanya menjadi atlet Indonesia tersukses dalam sejarah Japan Open.
Ricky meraih satu gelar tambahan bersama Denny Kantono pada edisi 1994. Adapun Candra Wijaya kembali naik podium tertinggi ketika berpasangan dengan Sigit Budiarto pada 2001.
Dengan total empat gelar juara, Ricky dan Candra menjadi pemain Indonesia dengan koleksi titel Japan Open terbanyak sepanjang masa.
Sebelum era mereka, Indonesia juga sempat berjaya melalui pasangan Rudy Heryanto/Hariamanto Kartono yang menjadi juara pada 1982 serta Eddy Hartono/Liem Swie King pada 1987.
Tradisi kemenangan di sektor ganda putra terus berlanjut pada generasi berikutnya. Hendra Setiawan misalnya, sukses mengangkat trofi Japan Open bersama dua pasangan berbeda, yakni Markis Kido pada 2009 dan Mohammad Ahsan pada 2013.
Ada pula kisah unik yang melibatkan Eng Hian/Flandy Limpele. Pasangan ini menjuarai Japan Open 2003, tetapi saat itu mereka tidak tampil sebagai wakil Indonesia karena sedang membela Inggris.
Sayangnya, kejayaan Indonesia di Japan Open mulai meredup dalam beberapa tahun terakhir. Gelar terakhir yang berhasil dibawa pulang diraih Kevin Sanjaya Sukamuljo/Marcus Fernaldi Gideon pada edisi 2019.
Sejak saat itu, belum ada satu pun wakil Indonesia yang mampu kembali berdiri di podium tertinggi turnamen bergengsi tersebut.
Meski sektor ganda putra menjadi penyumbang gelar terbesar, Indonesia juga memiliki sejarah prestasi di nomor lainnya.
Tunggal putra menyumbangkan tujuh gelar juara, sementara tunggal putri memberikan empat gelar. Sektor ganda campuran juga turut memperkaya koleksi Indonesia dengan empat titel.
Di nomor ganda campuran, nama Vita Marissa menjadi sosok yang paling menonjol. Mantan pemain yang kini berkarier sebagai pelatih PB Djarum itu menyumbangkan tiga gelar Japan Open bersama tiga pasangan berbeda.
Vita menjadi juara bersama Nova Widianto pada 2004, kemudian bersama Flandy Limpele pada 2006, dan kembali meraih gelar bersama Muhammad Rijal pada 2008.
Satu gelar lainnya di sektor ganda campuran dipersembahkan pasangan Bambang Suprianto/Minarti Timur pada 2001.
Secara keseluruhan, Indonesia telah mengumpulkan 30 gelar juara Japan Open sepanjang sejarah. Raihan tersebut menempatkan Merah Putih di posisi ketiga daftar negara tersukses di turnamen ini.
China masih menjadi penguasa dengan koleksi 80 gelar juara. Korea Selatan menempati posisi kedua dengan 32 gelar, sementara Indonesia berada tepat di bawahnya dengan 30 gelar.
Di belakang Indonesia terdapat Denmark dengan 16 gelar. Jepang dan Malaysia sama-sama mengoleksi 12 gelar juara.
Memasuki Japan Open 2026, Indonesia membawa harapan untuk mengakhiri penantian panjang sejak gelar terakhir pada 2019. Hari pertama turnamen akan diwakili Jonatan Christie, Alwi Farhan, serta pasangan ganda putri Febriana Dwipuji Kusuma/Meilysa Trias Puspitasari.
Meski persaingan semakin ketat dan dominasi negara-negara besar semakin kuat, sejarah panjang Indonesia di Japan Open menunjukkan bahwa turnamen ini bukan panggung asing bagi para pebulu tangkis Merah Putih.
Kini, setelah tujuh tahun tanpa gelar, publik bulu tangkis Indonesia menanti apakah Tokyo kembali menjadi tempat lahirnya kejayaan baru bagi Merah Putih.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Rupiah dibuka melemah ke Rp18.115 per dolar AS pada Selasa 14 Juli 2026. Konflik AS-Iran dan penguatan dolar masih menjadi tekanan utama bagi mata uang Garuda.
Pemerintah kembali menyalurkan bantuan pangan beras kepada 33,2 juta keluarga penerima manfaat selama Juli hingga September 2026. Setiap keluarga akan menerima
DLH Kulonprogo mencatat volume sampah yang masuk TPA Banyuroto turun dari 33 ton menjadi 24 ton per hari setelah penerapan aturan penolakan sampah organik.
Laporan eSafety Australia mengungkap Instagram, WhatsApp, iMessage, dan Snapchat paling sering dikaitkan dengan kasus sextortion. Ribuan korban dilaporkan menga
Benjamin Netanyahu memuji Presiden Argentina Javier Milei dan mendukung Argentina di Piala Dunia 2026. Hubungan kedua negara kini menjadi salah satu yang terdek
Forbes mencatat ekonomi kreator dunia menembus US$1 miliar untuk pertama kalinya. MrBeast menjadi kreator dengan pendapatan terbesar mencapai Rp5,4 triliun dala