Rekrutmen KAI 2026 Dibuka, Lulusan SMA hingga S1 Bisa Daftar
KAI Group membuka rekrutmen 2026 untuk lulusan SLTA, D-III hingga D-IV/S-1. Cek formasi, jadwal, cara daftar dan peringatan penipuan.
Pebalap Motogp Marc Marquez (kiri). /Instagram.
Harianjogja.com, JOGJA— Marc Marquez menjadi salah satu ancaman terbesar Aprilia dalam perebutan gelar MotoGP 2026. Namun, bagi CEO Aprilia Racing Massimo Rivola, hal paling menarik dari pembalap Ducati tersebut bukan semata-mata kecepatannya.
Rivola justru menyoroti kecerdasan Marquez dalam membaca situasi balapan dan mengelola risiko. Menurut dia, kemampuan tersebut membuat Marquez tetap mampu mengumpulkan poin ketika kemenangan belum memungkinkan.
Penilaian itu muncul setelah Marquez menunjukkan kebangkitan luar biasa dalam beberapa seri terakhir. Pembalap Ducati Lenovo Team tersebut meraih kemenangan keempatnya dalam enam Grand Prix terakhir ketika tampil di Aragon pada 30 Agustus 2026.
Hasil tersebut membuat Marquez naik ke posisi kedua klasemen sementara MotoGP. Ia kini mengoleksi 237 poin dan berada di antara dua pembalap Aprilia, Jorge Martin serta Marco Bezzecchi.
Martin masih memimpin dengan 256 poin, sedangkan Bezzecchi berada di posisi ketiga dengan 232 poin. Artinya, jarak Martin dengan Marquez saat ini 19 poin, sementara Bezzecchi hanya terpaut lima poin dari pembalap Ducati tersebut.
Marquez tahu kapan harus mengambil risiko
Menurut Rivola, kekuatan Marquez terlihat ketika kondisi balapan tidak sepenuhnya berpihak kepadanya.
Pembalap asal Spanyol itu tidak selalu memaksakan diri untuk menang. Ketika peluang kemenangan terbuka, Marquez mampu tampil agresif. Sebaliknya, ketika situasinya kurang menguntungkan, ia memilih mengurangi risiko dan tetap membawa pulang poin penting.
Strategi tersebut terlihat dari hasil Marquez di Assen dan Silverstone. Ia memang tidak memenangi dua balapan tersebut, tetapi tetap mampu mengamankan masing-masing 13 dan 10 poin.
Bagi Rivola, kemampuan seperti itu sangat penting dalam kejuaraan dunia yang berlangsung panjang. Gelar tidak hanya ditentukan oleh jumlah kemenangan, tetapi juga oleh seberapa sedikit poin yang hilang ketika seorang pembalap mengalami akhir pekan yang sulit.
"Jika Anda melihat Mugello dan Silverstone, sepertinya dia kesulitan, tetapi pada kenyataannya, dia membawa pulang hasil yang baik tanpa mengambil risiko," kata Rivola dikutip dari Sky Italia.
Menurut Rivola, konsistensi menjadi salah satu faktor yang membedakan pembalap hebat dari pembalap yang hanya mengandalkan kecepatan.
"Ketika saatnya untuk memberikan kemenangan, karena dia tahu dia yang terkuat, dia melakukannya," ujar Rivola.
Penilaian tersebut menjadi perhatian bagi Aprilia karena dua pembalap pabrikan mereka, Martin dan Bezzecchi, kini berada di tiga besar klasemen.
Aprilia punya dua pembalap dalam perebutan gelar
Aprilia memasuki fase akhir musim dengan posisi yang cukup kuat. Martin masih menjadi pemimpin klasemen, sementara Bezzecchi juga tetap memiliki peluang mengejar gelar.
Namun, perjalanan keduanya tidak sepenuhnya berjalan mulus.
Martin baru mengantongi satu kemenangan Grand Prix pada musim ini. Jumlah tersebut masih kalah dibandingkan Marquez dan Bezzecchi yang masing-masing telah empat kali memenangkan balapan utama.
Keunggulan Martin lebih banyak dibangun melalui konsistensi. Ia juga tidak kehilangan satu balapan pun karena cedera sepanjang musim hingga titik tersebut.
Di Aragon, misalnya, Martin harus puas finis kelima setelah sebelumnya menjalani akhir pekan impresif di Silverstone.
Di Inggris, Martin merebut pole position, memenangkan Sprint, kemudian finis kedua dalam Grand Prix. Namun, performanya di Aragon jauh lebih sulit.
Ia hanya mampu finis kelima dalam Sprint dan kembali menempati posisi kelima pada Grand Prix. Sementara itu, Marquez berhasil memaksimalkan akhir pekannya dengan kemenangan dalam balapan utama.
Bezzecchi juga menunjukkan performa kompetitif di Aragon. Pembalap Italia tersebut merebut pole position dan akhirnya finis ketiga dalam Grand Prix.
Hasil itu membuat pertarungan tiga pembalap di papan atas semakin rapat.
Rivola tak ingin Aprilia terlena
Meski memiliki dua pembalap dalam persaingan gelar, Rivola meminta Aprilia tidak terlalu kecewa ketika hasil balapan hanya menghasilkan posisi tiga besar atau lima besar.
Baginya, Aprilia masih berusaha mengejar Ducati yang memiliki pengalaman jauh lebih panjang dalam memenangkan balapan dan kejuaraan MotoGP.
"Kita tidak boleh berkecil hati ketika kita hanya meraih posisi keempat, kelima, atau bahkan ketiga," kata Rivola.
Pernyataan tersebut mencerminkan perubahan posisi Aprilia dalam persaingan MotoGP.
Jika sebelumnya pabrikan asal Noale itu lebih sering berusaha mengejar kelompok terdepan, kini mereka memiliki dua pembalap yang benar-benar terlibat dalam perebutan gelar dunia.
Rivola juga menegaskan bahwa sejak tahun lalu dirinya sudah percaya Martin dan Bezzecchi memiliki kemampuan untuk menjadi juara dunia.
"Rivola juga menegaskan bahwa dirinya sejak tahun lalu sudah percaya Martin dan Bezzecchi memiliki kemampuan untuk menjadi juara dunia," demikian inti pernyataan yang disampaikan dalam laporan tersebut.
Namun, keyakinan saja tidak cukup. Aprilia harus menjaga performa hingga balapan terakhir.
"Kami di sini untuk berjuang, dan kami harus membawa ini sampai ke balapan terakhir," tegasnya.
Pelajaran Marquez bisa menentukan akhir musim
Kemenangan Marquez di Aragon membuat perebutan gelar semakin terbuka. Ia memang masih berada 19 poin di belakang Martin, tetapi momentum berada di pihak pembalap Ducati tersebut.
Marquez kini mengoleksi empat kemenangan Grand Prix pada musim 2026, seluruhnya datang dalam enam balapan terakhir. Ia juga berhasil memangkas defisit besar terhadap Martin dan kembali ke posisi kedua klasemen.
Situasi tersebut membuat setiap kesalahan menjadi semakin mahal bagi para kandidat juara.
Bagi Aprilia, tantangannya bukan hanya membuat motor lebih cepat. Martin dan Bezzecchi juga harus mampu mengelola setiap akhir pekan balapan dengan lebih efektif.
Pelajaran yang disoroti Rivola dari Marquez cukup sederhana: tidak semua balapan harus dimenangkan.
Ketika kemenangan memang terbuka, seorang kandidat juara harus mampu mengambil peluang. Namun, ketika performa motor atau situasi balapan tidak memungkinkan, mengamankan poin bisa jauh lebih berharga daripada mengambil risiko besar demi hasil yang belum tentu didapat.
MotoGP 2026 kini memasuki fase yang semakin menentukan. Setelah Aragon, seri berikutnya akan berlangsung di San Marino pada 11-13 September 2026.
Dengan Martin memimpin 19 poin atas Marquez dan Bezzecchi hanya lima poin di belakang rival Ducati tersebut, persaingan Aprilia dan Ducati dipastikan masih jauh dari selesai.
Bagi Aprilia, kecepatan dua pembalapnya sudah terbukti. Tantangan berikutnya adalah memastikan kecepatan tersebut berubah menjadi konsistensi hingga akhir musim.
Dan seperti yang disoroti Rivola, Marquez telah menunjukkan bahwa dalam perebutan gelar MotoGP, kemampuan mengetahui kapan harus menyerang dan kapan harus mengamankan poin bisa sama pentingnya dengan kecepatan di lintasan.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
KAI Group membuka rekrutmen 2026 untuk lulusan SLTA, D-III hingga D-IV/S-1. Cek formasi, jadwal, cara daftar dan peringatan penipuan.
Stok air bersih BPBD Bantul masih aman hingga Desember. Sebanyak 351 tangki masih tersedia untuk warga terdampak kekeringan.
Pemkot Jogja merawat bangunan cagar budaya berdasarkan prioritas karena anggaran terbatas. Ada 239 bangunan yang telah ditetapkan.
Indonesia dinilai menempuh jalur berbeda dalam fenomena kemunduran demokrasi (democratic backsliding) dibandingkan negara-negara tetangga seperti Thailand
KPK memanggil lima saksi dalam kasus dugaan korupsi pengadaan iklan Bank BJB tahun anggaran 2021–2023.
Omzet pedagang pasar rakyat Bantul turun sekitar 30%. Belanja daring, sayur keliling, toko jejaring hingga SPPG jadi faktor penyebab.