Kisah Sumaya, Atlet Takraw yang Bersinar di Teqball Asian Games

Newswire
Newswire Senin, 21 September 2026 06:57 WIB
Kisah Sumaya, Atlet Takraw yang Bersinar di Teqball Asian Games

Sumaya meraih perak tunggal putri teqball Asian Games 2026 dan mengukir sejarah setelah beralih dari sepak takraw sekitar dua tahun lalu. /Antara.

Harianjogja.com, NAGOYA— Sumaya tampak berusaha tegar ketika lawannya dari Myanmar lebih dulu menyentuh poin ke-12 pada set penentuan final tunggal putri teqball Asian Games 2026.

Medali emas memang lepas dari genggaman. Namun, atlet berusia 21 tahun itu telah mengukir sejarah bersama teqball Indonesia setelah meraih medali perak pada debut cabang olahraga tersebut di Asian Games.

Bertanding di Nagoya City Higashi Sports Center, Aichi, Minggu, Sumaya kalah dari Wai Khin Hnin dalam pertandingan ketat yang berlangsung tiga set.

Sumaya membuka pertandingan dengan kemenangan 12-10. Myanmar kemudian bangkit dan menyamakan kedudukan.

Pada set penentuan, Sumaya sempat berada di atas angin setelah unggul 4-1. Ia kembali memimpin 7-6, tetapi Wai Khin Hnin mampu membalikkan keadaan hingga akhirnya mengamankan kemenangan.

Bagi Indonesia, medali yang dibawa pulang memang perak. Namun, pencapaian tersebut tetap memiliki arti khusus karena teqball untuk pertama kalinya dipertandingkan dalam Asian Games.

Sumaya menjadi salah satu atlet yang namanya tercatat dalam sejarah debut cabang olahraga tersebut di ajang multievent Asia.

Tumbuh di Keluarga Atlet Sepak Takraw

Perjalanan Sumaya menuju podium Asian Games bermula dari keluarga yang lekat dengan olahraga sepak takraw di Pangkalan Nyirih, Kabupaten Bengkalis, Riau.

Ayah dan ibunya merupakan atlet sepak takraw. Bahkan, sang ibu pernah menjadi atlet nasional. Tiga saudara perempuan Sumaya juga menekuni olahraga tersebut.

Tak mengherankan jika sejak kecil Sumaya sudah akrab dengan latihan dan kehidupan sebagai atlet.

"Di rumah sudah diajarin dari kecil olahraga terus," kata Sumaya.

Lingkungan keluarga membuat olahraga menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari kesehariannya. Namun, Sumaya kemudian memilih jalan berbeda dengan berpindah dari sepak takraw ke teqball demi mendapatkan kesempatan berlaga di ajang multievent.

Perpindahan itu terjadi sekitar dua tahun lalu. Ketika itu, Sumaya tidak terpilih memperkuat tim sepak takraw.

Ia kemudian mendapat tawaran untuk mencoba teqball dalam sebuah ajang eksibisi. Meski masa latihannya belum genap sebulan ketika tampil dalam pertandingan pertamanya, hasil yang diraih justru mengejutkan.

Sumaya mampu meraih medali. Pengalaman tersebut kemudian memantapkan keputusannya untuk terus menekuni teqball.

Sebagai cabang olahraga yang masih berkembang, teqball memberikan ruang bagi Sumaya untuk bertumbuh lebih cepat. Langkahnya kemudian berlanjut ke berbagai kejuaraan hingga akhirnya membawanya ke panggung Asian Games.

Dasar Sepak Takraw Jadi Modal

Pelatih tunggal putri teqball Indonesia, Benidiktus Budi Setyoko, melihat perkembangan kemampuan Sumaya berlangsung sangat cepat.

Dasar sepak takraw yang telah dimiliki sejak kecil membuat Sumaya lebih mudah menguasai teknik-teknik dalam teqball.

Pada awalnya, Sumaya tampil di nomor ganda campuran. Ia kemudian diarahkan untuk memperkuat nomor tunggal putri.

Perpindahan nomor tersebut ternyata tidak menjadi hambatan berarti bagi Sumaya.

Teqball sendiri memungkinkan atlet tampil di lebih dari satu nomor. Bagi Sumaya, pengalaman bermain di nomor ganda turut membantu penguasaannya terhadap lapangan.

Namun, perjalanan menuju podium Asian Games tetap diwarnai berbagai tantangan.

Suka Duka Menjadi Atlet

Sumaya mengakui kehidupan sebagai atlet dipenuhi suka dan duka. Ada masa-masa sulit yang harus dihadapi, tetapi kondisi tersebut tidak mematahkan semangatnya.

Sebaliknya, setiap hambatan dijadikannya sebagai dorongan untuk terus memperbaiki diri.

Dalam proses tersebut, dukungan keluarga menjadi kekuatan terbesar Sumaya. Jarak menjadi salah satu tantangan karena Pangkalan Nyirih merupakan wilayah kepulauan di Kabupaten Bengkalis yang jauh dari pusat latihan.

Meski demikian, komunikasi dengan orang tuanya tetap terjalin erat. Setiap malam, Sumaya selalu menghubungi orang tuanya untuk menceritakan perkembangan latihan hingga pertandingan yang akan dihadapi.

Sebelum berlaga, doa dari rumah juga selalu menjadi bagian penting dalam persiapannya.

Setelah Sumaya memastikan diri meraih medali Asian Games, tangis orang tuanya pun pecah. Tangisan tersebut bukan karena kesedihan, melainkan kebahagiaan atas prestasi sang buah hati yang telah mengharumkan nama Indonesia.

Di luar arena pertandingan, perjalanan Sumaya juga diisi dengan pendidikan. Ia tercatat sebagai mahasiswa program studi Administrasi Negara di Universitas Terbuka.

Perkuliahan dijalaninya di sela-sela kesibukan sebagai atlet. Selama gelaran Asian Games, Sumaya mendapat kelonggaran tugas perkuliahan sehingga dapat berfokus penuh pada pertandingan.

Prestasi Sumaya Terus Menanjak

Grafik prestasi Sumaya terus meningkat dalam beberapa tahun terakhir.

Pada PON Aceh-Sumut 2024, ia berhasil meraih emas di nomor ganda campuran dan perak pada nomor tunggal putri.

Setahun kemudian, Sumaya meraih perunggu SEA Games pada nomor ganda campuran. Ia juga mendapatkan perunggu Teqball World Tour Bangkok pada nomor ganda putri serta dua perak di Kejurnas Teqball untuk nomor tunggal putri dan ganda campuran.

Menjelang keberangkatannya ke Asian Games, Sumaya kembali mencatat prestasi. Pada Kejurnas Teqball 2026, ia sukses mengamankan dua medali emas, masing-masing pada nomor tunggal putri dan ganda putri.

Deretan prestasi tersebut semakin memantapkan keyakinannya untuk menjalani debut teqball di panggung Asian Games.

Bahkan sebelum berangkat, Sumaya telah menyiapkan mental. Ia mengaku sempat menyimpan impian besar untuk membawa pulang medali emas meski ketika itu belum ada kepastian dirinya terpilih masuk skuad Asian Games.

Doa-doa khusus juga telah dipanjatkannya untuk mewujudkan target tersebut. Keyakinan itu kemudian menuntunnya hingga mampu mencapai babak final.

Bangkit di Semifinal

Perjalanan menuju final sempat tidak berjalan mulus. Pada babak semifinal, Sumaya kehilangan momentum.

Namun, tim pelatih segera mengingatkannya untuk melupakan poin yang telah hilang dan mengarahkan fokus pada poin-poin berikutnya.

Instruksi tersebut membuahkan hasil. Sumaya mampu bangkit dan mengunci kemenangan untuk memastikan satu tempat di final sekaligus satu medali bagi Indonesia.

Momen tersebut bahkan berlangsung emosional hingga membuat sang pelatih meneteskan air mata.

Bagi tim Indonesia, pencapaian Sumaya bukan sekadar keberhasilan individu. Ketika teqball menjalani debut di Asian Games, ia berhasil menempatkan namanya dalam sejarah cabang olahraga tersebut.

Perak Asian Games Bukan Akhir

Memasuki final, Sumaya berusaha menuntaskan perjalanan dengan medali emas. Namun, pertandingan tidak berjalan sesuai dengan rencana.

Sumaya mengakui masih melakukan beberapa kesalahan sendiri. Meski demikian, kekalahan di partai puncak tidak membuatnya patah semangat.

Sebaliknya, hasil tersebut menjadi pemicu bagi Sumaya untuk berlatih lebih keras dan menambah pengalaman melalui berbagai turnamen mendatang.

Medali perak tersebut tetap menjadi pencapaian terbesar dalam karier internasionalnya sejauh ini.

Lebih dari sekadar kepingan medali, pencapaian itu menjadi buah dari perjalanan panjang seorang atlet yang tumbuh di keluarga sepak takraw, tinggal jauh di daerah kepulauan, kemudian menemukan jalannya melalui cabang olahraga baru.

Dari Pangkalan Nyirih, Sumaya akhirnya sampai di panggung Asian Games.

Ia memang pulang membawa medali perak. Namun, bagi Sumaya, capaian tersebut bukan garis akhir, melainkan awal dari langkah besar berikutnya.

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Sumber : Antara

Share

Sunartono
Sunartono Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online