Aturan Tekanan Ban MotoGP: Batas 1,80 Bar dan Penalti 16 Detik

Jumali
Jumali Jum'at, 25 September 2026 10:27 WIB
Aturan Tekanan Ban MotoGP: Batas 1,80 Bar dan Penalti 16 Detik

Pebalap Motogp Marc Marquez (kiri). /Instagram.

Harianjogja.com, JOGJA— Tekanan ban menjadi salah satu aspek teknis yang harus diperhitungkan tim MotoGP dalam setiap balapan. Sejak aturan minimum tekanan ban diberlakukan pada 2023, pembalap wajib menjaga tekanan ban berada di atas batas tertentu selama persentase lap yang telah ditentukan.

Aturan tersebut dibuat setelah muncul kekhawatiran mengenai penggunaan tekanan ban terlalu rendah. Michelin, yang saat ini masih menjadi pemasok tunggal ban MotoGP, sebelumnya menilai tekanan rendah dapat menimbulkan persoalan keselamatan.

Perkembangan motor MotoGP modern juga membuat persoalan tekanan ban semakin kompleks. Aerodinamika dan karakter motor saat mengikuti pembalap lain dapat memengaruhi temperatur serta tekanan ban, terutama pada ban depan.

Cara Kerja Aturan Tekanan Ban MotoGP

Ketika pertama kali diberlakukan secara efektif pada pertengahan musim 2023, pembalap diwajibkan memenuhi batas minimum tekanan ban selama sedikitnya 50 persen jarak Grand Prix dan 30 persen jarak Sprint.

Pada saat itu, batas yang digunakan Michelin berada di sekitar 1,88 bar untuk ban depan dan 1,68-1,70 bar untuk ban belakang. Pelanggaran pada awal penerapan dikenai sistem sanksi bertahap, mulai dari peringatan hingga penalti waktu.

Aturan kemudian diubah pada 2024. Batas minimum tekanan ban depan diturunkan menjadi 1,80 bar, tetapi persentase waktu yang harus dipenuhi dalam Grand Prix dinaikkan menjadi 60 persen. Untuk Sprint, persentasenya tetap 30 persen.

Tekanan minimum ban belakang yang digunakan adalah 1,68 bar.

Jika pembalap gagal memenuhi ketentuan tersebut, penalti yang berlaku adalah tambahan waktu 16 detik untuk Grand Prix dan 8 detik untuk Sprint. Ketentuan tersebut masih menjadi bagian dari aturan MotoGP pada 2026.

Sistem pemantauan dilakukan menggunakan sensor tekanan ban. Regulasi FIM 2026 mewajibkan penggunaan Tyre Air Pressure Sensors pada roda depan dan belakang MotoGP serta pencatatan datanya selama penggunaan ban.

Mengapa Tekanan Ban Sulit Diprediksi?

Persoalan utama bagi tim bukan sekadar menentukan angka tekanan sebelum balapan. Tekanan ban dapat berubah sepanjang perlombaan karena dipengaruhi temperatur, posisi pembalap, kondisi lintasan, dan cuaca.

Ban depan menjadi salah satu bagian yang paling sulit dikelola. Ketika pembalap berada di udara bersih, temperatur ban bisa berbeda dibandingkan saat mengikuti motor lain dalam jarak dekat.

Aerodinamika motor modern membuat situasi tersebut semakin kompleks. Ketika berada di belakang pembalap lain, aliran udara dan panas yang dihasilkan motor di depan dapat memengaruhi temperatur ban depan.

Kondisi tersebut pada akhirnya turut memengaruhi tekanan. Karena itu, tim harus memperhitungkan berbagai kemungkinan ketika menentukan tekanan awal ban.

Tekanan yang terlalu rendah meningkatkan risiko pembalap tidak memenuhi batas minimum yang ditetapkan regulasi. Sebaliknya, tekanan yang terlalu tinggi sejak awal juga dapat memengaruhi karakter ban dan performa motor ketika balapan berlangsung.

Itulah sebabnya tidak ada satu angka tekanan awal yang otomatis ideal untuk seluruh pembalap. Posisi start, karakter sirkuit, temperatur lintasan, serta kemungkinan berada dalam rombongan pembalap ikut menjadi pertimbangan.

Slipstream Bisa Membantu Menaikkan Tekanan Ban

Karena temperatur dan tekanan ban dapat berubah selama balapan, strategi pembalap terkadang ikut terpengaruh.

Ketika tekanan ban depan terlalu rendah, salah satu cara untuk meningkatkan temperatur adalah mengikuti pembalap lain. Berada di belakang motor lain membuat ban depan menerima kondisi udara yang berbeda sehingga temperatur dan tekanan dapat meningkat.

Situasi tersebut pernah terlihat dalam berbagai balapan MotoGP. Pembalap dapat sengaja berada di belakang motor lain untuk beberapa lap sebelum kembali menyerang.

Namun, strategi tersebut bukan sekadar pilihan taktis untuk mendapatkan posisi. Pembalap juga harus mempertimbangkan bagaimana tekanan ban berkembang agar tetap memenuhi ketentuan minimum.

Regulasi yang ketat membuat tekanan ban menjadi bagian dari strategi balapan, bukan hanya persoalan teknis di garasi.

Pelanggaran Bisa Mengubah Hasil Balapan

Aturan tekanan ban telah beberapa kali memengaruhi hasil akhir balapan MotoGP.

Marc Marquez, misalnya, pernah terkena penalti 18 detik di MotoGP Belanda 2024 setelah dinyatakan melanggar ketentuan tekanan ban. Hukuman tersebut membuat posisi finisnya turun dari urutan keempat menjadi ke-10.

Pada MotoGP Catalunya 2026, sejumlah pembalap juga terkena penalti 16 detik akibat pelanggaran regulasi tekanan ban. Data hasil resmi balapan mencatat lima pembalap dikenai hukuman tersebut.

Kasus-kasus tersebut menunjukkan bahwa pelanggaran tekanan ban bukan sekadar persoalan teknis yang terjadi di balik layar. Hukuman yang diberikan dapat langsung mengubah posisi pembalap dalam klasifikasi akhir.

Michelin Digantikan Pirelli pada 2027

Aturan tekanan ban akan memasuki babak baru pada 2027 ketika Pirelli menggantikan Michelin sebagai pemasok ban tunggal MotoGP.

Pergantian tersebut berlangsung bersamaan dengan regulasi teknis baru. MotoGP akan menggunakan mesin berkapasitas 850 cc, mengurangi aerodinamika, dan menghapus perangkat pengatur ketinggian motor.

Meski pemasok ban berubah, Pirelli tidak berencana langsung menghapus aturan tekanan ban.

Direktur balap motor Pirelli Giorgio Barbier mengatakan pihaknya akan mempertahankan regulasi tersebut untuk sementara. Menurut dia, Pirelli belum memiliki cukup pengalaman dengan motor MotoGP untuk menyimpulkan bahwa tekanan rendah tidak menimbulkan risiko.

“Kami selalu mengatakan bahwa kami akan mempertahankannya. Saya tidak tahu dari mana asal rumor sebaliknya,” ujar Barbier kepada Motorsport.com.

Barbier menjelaskan Pirelli memiliki konstruksi, material, dan karakter tekanan kerja yang berbeda dari ban Michelin. Karena itu, Pirelli masih perlu melihat bagaimana ban mereka bekerja pada motor MotoGP generasi baru.

Pirelli juga akan mengevaluasi apakah batas tekanan yang digunakan saat ini tetap sesuai dengan karakter ban mereka. Jika data pengujian menunjukkan kebutuhan berbeda, aturan tersebut masih dapat diubah pada kemudian hari.

“Untuk sementara, kami akan mempertahankan regulasi sambil berharap tidak perlu menerapkannya. Setelah itu, kami akan memutuskan apakah akan mengubah atau menghapusnya,” kata Barbier.

Dengan demikian, aturan tekanan ban tidak otomatis hilang ketika MotoGP memasuki era Pirelli pada 2027. Untuk sementara, regulasi tersebut tetap menjadi bagian dari paket aturan yang harus diperhitungkan tim dan pembalap.

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Share

Jumali
Jumali Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online