FIFA Tuduh UEFA Ganggu Pemilihan Infantino, Sengketa FFE Memanas

Jumali
Jumali Rabu, 30 September 2026 07:27 WIB
FIFA Tuduh UEFA Ganggu Pemilihan Infantino, Sengketa FFE Memanas

FIFA President Gianni Infantino. (AFP/SIMON MAINA/SIMON MAINA)

Harianjogja.com, JOGJA— Perseteruan antara FIFA dan UEFA kembali memanas setelah FIFA menuduh badan sepak bola Eropa tersebut melakukan "pelecehan" terhadap Presiden FIFA Gianni Infantino serta berupaya memengaruhi pemilihan presiden FIFA yang akan digelar pada Maret 2027.

Tuduhan itu disampaikan FIFA dalam dokumen hukum yang diajukan ke pengadilan federal Amerika Serikat di Florida. FIFA meminta pengadilan menolak permohonan UEFA untuk memperoleh dokumen dan keterangan yang berkaitan dengan rencana investasi swasta melalui FIFA Forward Enterprise (FFE), proyek yang kini telah dibatalkan.

FIFA menilai langkah UEFA tersebut dilakukan dengan itikad buruk dan digunakan untuk menyerang Infantino menjelang pemilihan presiden organisasi sepak bola dunia tersebut. Namun, tuduhan tersebut merupakan argumen FIFA dalam proses hukum dan belum menjadi putusan pengadilan.

FIFA Tolak Permintaan Dokumen UEFA

Permasalahan bermula dari FFE, sebuah skema yang sempat disiapkan FIFA untuk menarik investasi swasta melalui entitas yang akan mengelola hak komersial sejumlah kompetisi FIFA, termasuk Piala Dunia.

Dalam rancangan tersebut, investor swasta ditawarkan kepemilikan hingga 20 persen. FIFA kemudian membatalkan proyek tersebut pada Juli 2026 setelah mendapat penolakan dari sejumlah konfederasi sepak bola, termasuk UEFA, AFC, dan CONCACAF.

Setelah proyek dihentikan, UEFA mengajukan permohonan ke pengadilan AS untuk memperoleh dokumen dan kesaksian yang dinilai dapat digunakan dalam rencana pengaduan pidana di Swiss terhadap Infantino.

UEFA menilai proses penyusunan FFE bermasalah. Dalam permohonannya, UEFA menuduh Infantino mengembangkan proposal tersebut secara tertutup bersama sejumlah penasihat dan calon investor tanpa konsultasi yang memadai dengan badan-badan FIFA.

UEFA juga mempertanyakan nilai FFE. Menurut dokumen yang dikutip Reuters, investor disebut akan membayar sekitar US$4,2 miliar untuk kepemilikan dalam FFE yang dinilai sekitar US$20 miliar. UEFA berpendapat valuasi tersebut terlalu rendah dibandingkan nilai hak komersial FIFA.

FIFA membantah tuduhan tersebut. Dalam dokumen pembelaannya, FIFA menyatakan FFE tetap harus memperoleh persetujuan dari asosiasi anggota dan Dewan FIFA serta berada di bawah pengawasan kedua kelompok tersebut.

FIFA juga membantah anggapan bahwa nilai US$20 miliar menunjukkan keseluruhan nilai perusahaan terlalu rendah. FIFA mengatakan angka tersebut merupakan nilai ekuitas, sedangkan nilai perusahaan (enterprise value) disebut lebih dari US$30 miliar.

FIFA Sebut UEFA Bertindak dengan Itikad Buruk

Dalam permohonan kepada pengadilan, pengacara FIFA menyatakan tindakan UEFA menunjukkan bahwa permintaan tersebut diajukan dengan "itikad buruk" dan untuk tujuan "pelecehan".

FIFA juga menolak tuduhan bahwa Infantino berusaha memperoleh keuntungan pribadi melalui FFE. Dalam dokumen tersebut, FIFA menyebut tuduhan UEFA mengenai keuntungan pribadi Infantino tidak memiliki dasar.

Posisi FIFA dan UEFA dalam perkara ini masih berlawanan. UEFA mengajukan permintaan discovery untuk mengumpulkan bukti yang dapat mendukung kemungkinan proses hukum di Swiss, sementara FIFA meminta pengadilan AS menghentikan atau menolak permintaan tersebut.

Dengan demikian, proses hukum di Amerika Serikat tersebut belum membuktikan tuduhan mengenai salah urus, keuntungan pribadi, ataupun pelanggaran hukum oleh Infantino. Permintaan discovery juga berbeda dengan perkara pidana yang telah diputus pengadilan.z

Perselisihan FFE kini beririsan dengan agenda pemilihan Presiden FIFA. Infantino telah menyatakan akan mencalonkan diri kembali untuk masa jabatan berikutnya pada Maret 2027. Ia mengejar periode keempat sebagai Presiden FIFA.

UEFA sendiri telah menarik dukungannya terhadap Infantino dan menjadi salah satu pihak yang paling keras mengkritik rencana FFE. Namun, hingga perkembangan terbaru, belum ada kandidat alternatif yang diumumkan UEFA untuk menghadapi Infantino.

FIFA kemudian mengaitkan langkah hukum UEFA dengan momentum pemilihan tersebut. Dalam dokumen yang diajukan ke pengadilan, FIFA menyatakan permohonan UEFA diajukan menjelang pemilihan presiden dan berisi informasi yang menurut FIFA keliru atau menyesatkan mengenai Infantino.

FIFA meminta pengadilan tidak memberikan ruang bagi proses hukum tersebut untuk digunakan dalam upaya memengaruhi pemilihan presiden. Sementara itu, UEFA belum memberikan tanggapan langsung atas tuduhan FIFA dalam dokumen terbaru tersebut.

Perseteruan FIFA dan UEFA Belum Mereda

Sengketa mengenai FFE merupakan bagian dari perselisihan yang lebih luas antara FIFA dan sejumlah organisasi sepak bola Eropa mengenai tata kelola serta pengambilan keputusan di tubuh FIFA.

Pada September 2026, sejumlah liga besar Eropa juga menyerukan reformasi tata kelola FIFA. Mereka meminta keterlibatan yang lebih besar dari berbagai pemangku kepentingan sepak bola dan pemisahan yang lebih jelas antara fungsi komersial dan regulasi FIFA.

Infantino sebelumnya mengusulkan peninjauan independen terhadap kerangka tata kelola dan proses pengambilan keputusan FIFA. Proposal tersebut muncul setelah polemik FFE memicu penolakan dari sejumlah konfederasi dan asosiasi anggota.

Di sisi lain, UEFA dan CONCACAF juga mendorong pembahasan mengenai distribusi dana FIFA kepada 211 asosiasi anggota. Infantino telah memerintahkan penilaian terhadap proposal tersebut dan mengatakan keputusan mengenai tambahan pendanaan harus melalui pemeriksaan finansial serta mekanisme persetujuan resmi FIFA.

Perselisihan mengenai FFE, tata kelola FIFA, dan masa depan kepemimpinan Infantino dengan demikian masih berlangsung melalui sejumlah jalur sekaligus, termasuk proses hukum di Amerika Serikat dan pembahasan internal FIFA menjelang pemilihan presiden pada Maret 2027.

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Share

Jumali
Jumali Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online