Pedro Acosta Kritik MotoGP 2027, Karier Pembalap Terancam Pendek

Jumali
Jumali Kamis, 08 Oktober 2026 17:07 WIB
Pedro Acosta Kritik MotoGP 2027, Karier Pembalap Terancam Pendek

Pedro Acosta/Instagram

Harianjogja.com, JOGJA— Pembalap Red Bull KTM Pedro Acosta mengkritik perubahan format pekan balapan MotoGP 2027 yang menurutnya berpotensi meningkatkan tekanan dan risiko cedera bagi pembalap. Ia bahkan memperingatkan karier pembalap profesional bisa menjadi semakin pendek jika intensitas balapan terus bertambah.

Kritik tersebut disampaikan Acosta menjelang MotoGP Mandalika 2026 di Sirkuit Internasional Mandalika, Lombok, Nusa Tenggara Barat (NTB). Pernyataan itu muncul setelah MotoGP mengumumkan format baru yang akan diterapkan mulai musim 2027.

Perubahan utama musim depan adalah hadirnya Sprint Qualifying pada Jumat untuk menentukan posisi start Sprint Race. Sementara itu, kualifikasi pada Sabtu akan digunakan khusus untuk menentukan posisi start Grand Prix utama.

Menurut pengumuman resmi MotoGP, Jumat akan dimulai dengan FP1 selama 45 menit, dilanjutkan FP2 selama 30 menit, kemudian Sprint Qualifying selama 15 menit. Sabtu akan diisi FP3 selama 20 menit, Q1 dan Q2 untuk menentukan grid balapan utama, lalu Sprint Race.

Format MotoGP 2027 Lebih Padat

Format baru tersebut membuat pembalap harus menghadapi lebih banyak sesi yang membutuhkan kecepatan tinggi dalam waktu singkat. Sprint Qualifying diikuti seluruh pembalap dan hasilnya menentukan posisi start Sprint pada Sabtu.

Untuk kualifikasi Grand Prix, seluruh pembalap akan mengikuti Q1. Sebanyak 12 pembalap tercepat kemudian melaju ke Q2 untuk memperebutkan pole position sekaligus posisi terdepan pada balapan utama.

Perubahan ini berbeda dengan format yang berlaku saat ini. Practice Jumat sebelumnya digunakan untuk menentukan 10 pembalap tercepat yang langsung masuk Q2, sedangkan dua posisi lainnya diperebutkan melalui Q1.

Mulai 2027, catatan waktu Practice tidak lagi menjadi dasar penentuan peserta Q1 dan Q2. FP2 hanya menjadi sesi latihan, sedangkan Sprint Qualifying memiliki fungsi tersendiri untuk menentukan grid Sprint.

Sesi Warm Up MotoGP pada Minggu juga tidak lagi digelar dalam format lama. Sebagai gantinya, pit lane akan dibuka selama 10 menit sebelum balapan utama agar pembalap bisa melakukan beberapa sighting lap untuk mengecek kondisi motor sebelum start.

Acosta Soroti Risiko Cedera

Acosta menilai perubahan tersebut tidak bisa dilepaskan dari beban yang sudah ditanggung pembalap sepanjang musim. MotoGP saat ini memiliki 22 seri dan Sprint digelar pada setiap akhir pekan, sehingga jumlah momen yang mengharuskan pembalap mengambil risiko semakin banyak.

“Saya tidak tahu apakah itu hal terbaik dengan membuat Sprint Qualifying di hari Jumat dengan 22 pembalap di trek, Q1 dengan 22 orang lain lagi, Q2, Sprint Race, dan balapan utama,” keluh Acosta, dikutip dari Crash, Kamis (8/10/2026).

Menurut pembalap asal Spanyol tersebut, format baru akan lebih mudah diterima jika jumlah Sprint dalam satu musim tidak sebanyak sekarang.

“Saya paham format baru ini (bagus) kalau kami hanya (punya) setengah jumlah Sprint Race. Tapi, masalahnya, kami sudah punya terlalu banyak balapan,” sembur pria berkebangsaan Spanyol tersebut.

Acosta kemudian mengaitkan padatnya agenda dengan kondisi fisik para pembalap. Menurutnya, cedera menjadi persoalan yang sulit dihindari ketika pembalap harus terus mengambil risiko dalam banyak sesi.

“Kalau kamu cek ke semua pembalap, tidak ada yang tidak mengalami cedera di sepanjang musim. Karier profesional pembalap akan semakin pendek jika keadaannya terus begini,” tandasnya.

Pernyataan tersebut sejalan dengan penjelasan Acosta kepada Crash bahwa pembalap sudah memiliki sejumlah sesi yang menuntut mereka mengambil risiko maksimal, mulai dari Practice, kualifikasi, Sprint hingga balapan utama. Dengan tambahan Sprint Qualifying, menurutnya, tekanan tersebut justru semakin bertambah.

Bukan Balapan Mobil

Acosta juga menyoroti perbedaan mendasar antara balap motor dan mobil ketika terjadi kecelakaan. Pada MotoGP, tubuh pembalap menjadi bagian yang langsung berhadapan dengan aspal ketika motor terjatuh.

“Kami sudah mempertaruhkan banyak hal. Kami tidak membalap mobil. Ketika kami mengalami kecelakaan, bahkan jika itu kecelakaan kecil, tubuh kamilah yang menyentuh tanah dan bukan kokpit. Untuk ini, saya pikir kita harus memikirkannya,” kata Acosta.

Pembalap yang pada 2027 akan meninggalkan KTM untuk bergabung dengan Ducati itu menilai keselamatan harus menjadi pertimbangan ketika penyelenggara menambah sesi yang menuntut pembalap mengejar catatan waktu.

Acosta bahkan menyarankan agar MotoGP mempertimbangkan pengurangan sesi yang berisiko, bukan menambah sesi baru. Ia mengaku lebih nyaman dengan sistem Practice yang berlaku sekarang karena pembalap masih memiliki waktu untuk bekerja pada setelan motor sebelum memasuki sesi kualifikasi.

Ia juga menyebut pengurangan jumlah Sprint hingga sekitar setengah kalender sebagai salah satu opsi. Menurut Acosta, tidak semua Sprint menghasilkan balapan yang menarik, sementara setiap tambahan sesi kompetitif tetap membawa risiko bagi pembalap.

Dengan format baru tersebut, pembalap MotoGP akan menghadapi perubahan jadwal bersamaan dengan regulasi teknis baru pada 2027, termasuk motor berkapasitas 850 cc dan perpindahan pemasok ban dari Michelin ke Pirelli. Karena itu, perubahan format pekan balapan bukan hanya menyangkut tambahan tontonan bagi penonton, tetapi juga bagaimana pembalap mengelola kondisi fisik dan risiko sepanjang musim.

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Share

Jumali
Jumali Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online