Ceferin Maju Lagi, Bidik Jabatan Presiden UEFA hingga 2031

Jumali
Jumali Jum'at, 09 Oktober 2026 09:17 WIB
Ceferin Maju Lagi, Bidik Jabatan Presiden UEFA hingga 2031

Aleksander Ceferin/UEFA

Harianjogja.com, JOGJA— Aleksander Ceferin memutuskan kembali mencalonkan diri sebagai Presiden Asosiasi Sepak Bola Eropa (UEFA) untuk masa jabatan keempat. Keputusan tersebut membuka peluang bagi pria asal Slovenia itu untuk tetap memimpin organisasi sepak bola Eropa hingga 2031 jika terpilih dalam pemilihan pada April 2027.

Ceferin menyampaikan keputusannya dalam pertemuan dengan para pimpinan 55 asosiasi sepak bola nasional anggota UEFA di Berlin, Jerman, Kamis (8/10/2026). Ia bersedia mengubah rencana sebelumnya setelah seluruh asosiasi anggota meminta dirinya mempertimbangkan kembali keputusan untuk tidak maju dalam pemilihan berikutnya.  

Perubahan sikap ini memastikan Ceferin akan mengikuti pemilihan Presiden UEFA yang dijadwalkan berlangsung dalam Kongres Biasa UEFA ke-51 di Astana, Kazakhstan, pada 22 April 2027. Apabila terpilih, ia akan menjalani masa jabatan terakhir yang direncanakannya.  

"Saya ingin berterima kasih kepada asosiasi-asosiasi nasional atas kepercayaan mereka. Kami menghadapi tantangan luar biasa dalam beberapa tahun terakhir dan menghadapinya sebagai satu tim," ujar Ceferin, dikutip dari The Athletic, Kamis (8/10/2026).

"Masih ada pekerjaan penting yang harus dilakukan, karena itu saya menerima permintaan mereka," lanjutnya.

Ceferin urungkan rencana mundur dari UEFA

Sebelumnya, Ceferin menyatakan tidak berencana mencalonkan diri kembali setelah masa jabatannya berakhir. Namun, permintaan serentak dari 55 asosiasi anggota membuatnya bersedia melanjutkan kepemimpinan di UEFA. 

Ceferin menilai masih ada pekerjaan yang perlu diselesaikan untuk menjaga persatuan sepak bola Eropa dan memperkuat organisasi tersebut. Ia juga menyatakan ingin memastikan UEFA tetap siap menghadapi tantangan sepak bola pada generasi berikutnya.

"Saya tetap memiliki ambisi yang sama: menjaga sepak bola Eropa tetap bersatu, membuat permainan ini semakin kuat, dan meninggalkan UEFA dalam kondisi siap untuk generasi berikutnya," katanya.

Ceferin pertama kali menjabat Presiden UEFA pada 2016 setelah menggantikan Michel Platini. Platini meninggalkan jabatan tersebut di tengah kasus yang berujung pada sanksi larangan beraktivitas dalam sepak bola terkait perkara korupsi FIFA.

Sejak saat itu, Ceferin kembali memperoleh kepercayaan untuk memimpin organisasi sepak bola Eropa. Pencalonan terbaru ini akan membawanya menuju masa jabatan keempat apabila ia memenangi pemilihan pada 2027.

UEFA dorong perubahan tata kelola FIFA

Selain membahas kepemimpinan UEFA, pertemuan di Berlin juga membicarakan arah tata kelola dan kepemimpinan Federasi Sepak Bola Internasional (FIFA). UEFA dan asosiasi-asosiasi anggotanya menyampaikan agenda reformasi, termasuk tuntutan agar FIFA memiliki kepemimpinan baru.

Dalam pernyataan resminya, UEFA menyebut seluruh asosiasi anggota, kecuali Asosiasi Federasi Sepak Bola Azerbaijan, menyepakati arah reformasi tersebut. Mereka menilai perubahan kelembagaan saja tidak cukup dan FIFA juga membutuhkan sosok pemimpin yang mampu menyatukan berbagai pihak serta memiliki komitmen terhadap integritas dan reformasi. 

Salah satu usulan yang dibahas adalah pemisahan kewenangan secara lebih jelas antara Kongres FIFA, Dewan FIFA, Biro FIFA, presiden, dan sekretaris jenderal. Pembagian tersebut dimaksudkan agar proses pengambilan keputusan lebih transparan dan tidak didominasi satu pihak.

UEFA juga mengusulkan agar Dewan FIFA memiliki peran lebih kuat dalam menentukan arah organisasi, sedangkan Biro FIFA menjalankan kewenangan eksekutif yang telah ditetapkan. Komite-komite FIFA pun diusulkan disederhanakan agar memiliki fungsi yang jelas.  

Dalam agenda tersebut, peran presiden FIFA juga menjadi perhatian. UEFA mengusulkan agar presiden berfokus memimpin arah organisasi, memimpin Dewan FIFA, dan mewakili FIFA secara global, bukan menangani fungsi manajemen sehari-hari.

Pembahasan reformasi FIFA berlangsung ketika kepemimpinan Gianni Infantino mendapat kritik dari UEFA. Perubahan yang diusulkan mencakup pembagian kekuasaan, mekanisme pengambilan keputusan, dan kebutuhan akan kepemimpinan yang dipercaya oleh berbagai kawasan dalam sepak bola dunia.

UEFA menyatakan pembicaraan mengenai reformasi dan kepemimpinan FIFA akan berlanjut di antara asosiasi nasional Eropa serta dengan pihak-pihak lain dalam sepak bola internasional. Pertemuan lanjutan 55 asosiasi anggota UEFA dijadwalkan berlangsung sebelum 17 November 2026.  

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Share

Jumali
Jumali Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online