Pria India Ini Nekat Bersepeda ke Rusia demi Bertemu Messi

Mia Chitra Dinisari
Mia Chitra Dinisari Kamis, 21 Juni 2018 17:25 WIB
Pria India Ini Nekat Bersepeda ke Rusia demi Bertemu Messi

Clifin Francis/facebook

Harianjogja.com, JOGJA-Perjalanan Clifin Francis menjadi salah satu kisah menarik dari meriahnya perayaan pesta sepak bola dunia, Piala Dunia 2018. Pria asal India ini rela bersepeda dari tanah kelahirannya ke Rusia, hanya untuk bertemu pemain idolanya, Lionel Messi.

Sebenarnya, rencana itu awalnya tidak sengaja. Siang itu, Clifin Francis sedang duduk di rumahnya yang terletak di India Selatan ketika seorang teman bertanya apakah dia akan pergi ke Piala Dunia. "Tentu saja," jawabnya. "Aku bahkan bisa bepergian ke Rusia untuk menyaksikan ekstravaganza," ujarnya menimpali ajakan sang kawan.

Obrolan itu berlangsung padaAgustus 2017 lalu. Namun, saat itu Francis tidak tahu bagaimana akan membayar tiket pesawat dari Kerala, tempat dia tinggal, menuju Rusia. Francis adalah seorang guru matematika dengan status freelance. Penghasilannya 30 paun atau sepekan atau setara Rp540.000.

"Aku sadar aku tidak punya cukup uang untuk bepergian ke Rusia dan tinggal selama sebulan. Lalu aku bertanya pada diriku sendiri, \'Apa cara termurah bepergian?\' Sepeda adalah jawabannya." urai Francis seperti dikutip bbc.com.

Saat dia melontarkan rencananya itu, hampir semua temannya tidak memercayainya. Namun tekad bulat sudah ditetapkannya.

Pada 23 Februari, ia memulai perjalanan epiknya. Awalnya, dia terbang memakai pesawat ke Dubai, dan dilanjutkan menumpang feri ke Iran. Dari sanalah, dia memulai petualangannya bersepeda menuju Moskwa, Ibu Kota Rusia. Jarak Iran ke Mosowa sekitar lebih dari 4.200 km (2.600 mil) dengan sepeda.

Francis nekat menempuh petualangan tersebut adalah karena dia tergila-gila dengan sepak bola dan suka bersepeda.

Sepeda yang dipakainya, dibeli Francis di Dubai seharga US$700 (setara Rp9,8 juta). Meski kurang memadai untuk perjalanan jarak jauh, menurut sepeda itu yang paling bisa dijangkau oleh kantongnya. 

Dari Dubai, dia tidak langsung bersepeda ke Rusia, tetapi tinggal hingga 45 hari di Iran sejak 11 Maret 2018, karena Francis menganggap Iran merupakan negara terindah di dunia dan orang-orangnya sangat ramah. Saking ramahnya penduduk di sana, katanya, meskipun dia tinggal selama 45 hari, hanya dua hari dihabiskannya tidur di hotel. Selebihnya, banyak orang yang menampung di rumah mereka.

Apalagi, Francis hanya memiliki US$10 atau Rp140.000 per hari untuk dibelanjakan, sehingga dia sangat bersyukur banyak penduduk yang memberinya makanan dan tempat tinggal.

"Persepsi saya tentang Iran telah berubah. Saya menyadari bahwa Anda seharusnya tidak membentuk opini tentang sebuah negara berdasarkan geopolitiknya," katanya.

Dia juga mengatakan bersepeda menjadi tidak melelahkan karena kondisi pedesaan Iran yang sangat elok, sehingga dia bisa menikmatinya.

"Mereka membuat saya berjanji bahwa saya akan mendukung tim Iran di Rusia. Mereka juga menyukai Bollywood dan itu membantu saya memecahkan kebekuan dengan orang-orang di banyak tempat," katanya.

Bersepeda membuatnya lebih kurus

Perjalanan bersepeda Francis dimulai dari Iran menuju Azerbaijan. Karena kebanyakan bersepeda, bobot tubuhnya menurun cukup drastis, sehingga sulit dikenali dengan foto yang ada di dokumentasi identitas diri yang dibawanya.

Lantaran masalah tersebut, Francis diperiksa lebih dari delapan jam untuk memastikan bahwa dia tidak memakai dokumen palsu. Sama halnya seperti di Iran. Di sini pun dia tidak tinggal di hotel, tetapi lebih banyak tidur di tenda yang didirikannya sendiri. Francis juga banyak mendapatkan bantuan makanan dari warga sekitar.

Lanjut ke Georgia, masalah baru kembali muncul. Kali ini, dia ditolak masuk karena lagi-lagi masalah dokumen yang dimilikinya. "Saya memiliki semua dokumen tetapi masih tidak tahu mengapa saya ditolak masuk. Itu membuat saya dalam situasi genting karena saya memiliki visa masuk tunggal untuk Azerbaijan," katanya.

Akhirnya, Fransiskus terjebak di "tanah tak bertuan" antara Georgia dan Azerbaijan selama sehari. Dia akhirnya diberi visa mendesak oleh Azerbaijan untuk masuk kembali.
Dia kemudian harus mencari rute lain untuk masuk ke Rusia. Berbekal informasi dari seseorang, Francis tahu Azerbaijan berbagi perbatasan darat dengan wilayah Dagestan di Rusia. Ke sanalah dia menggowes dan sampai pada 5 Juni 2018.

Bahasa adalah masalah besar ketika dia tinggal di Dagestan, karena orang-orang jarang berbicara bahasa Inggris. Namun, dengan "bahasa" sepak bola dan film India, akhirnya penduduk sekitarpun mulai terbuka kepada Francis.

Dari Dagestan, dia melanjutkan perjalanan ke Tambov, sebuah kota berjarak sekitar 460 kilometer di selatan Moskwa. Waktu pun semakin mendesak, karena dia harus berada di Ibu Kota Rusia pada 26 Juni untuk pertandingan Prancis melawan Denmark. Itu adalah satu-satunya pertandingan yang bisa dilihat Francis secara langsung karena dia memiliki tiket.

"Tetapi saya mendukung Argentina dan Lionel Messi adalah favorit saya. Saya memujanya. Impian saya adalah bertemu dengannya dan memintanya untuk menandatangani sepeda saya."

Clifin Francis berharap perjalanannya akan menginspirasi orang-orang tentang sepak bola dan kebugaran. Dia juga berharap suatu saat bisa melihat India berlaga Piala Dunia.

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Sumber : JIBI/Bisnis Indonesia

Share

Budi Cahyana
Budi Cahyana Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online