Maya Yoshida/Reuters-Toru Hanai
Harianjogja.com, JOGJA--Bek tengah sekaligus kapten Jepang Maya Yoshida mengatakan sepak bola di Negeri Sakura perlu berbenah, terutama dalam pengembangan pemain muda. Jepang secara dramatis tersingkir dari Piala Dunia setelah kalah 2-3 dari Belgia di 16 besar di Rostov Arena, Rostov-on-Don, Rusia, Selasa (3/7/2018) dini hari WIB.
"Kami memainkan sepak bola yang bagus malam ini. Namun sebagaimana kerap terjadi ketika melawan tim besar, kami tidak bisa hanya mengandalkan permainan bagus," kata Yoshida dilansir fifa.com.
Jepang menurunkan pemain yang tergolong tua di Piala Dunia 2018. 11 Pemain yang selalu diturunkan pelatih Akira Nishino sejak menait pertama di empat pertandingan di Rusia rata-rata berumur 27 tahun. Pemain termuda adalah bek tengah Gen Shoji yang sudah berusia 25 tahun. Yoshida yang kini berumur 30 tahun pun mencemaskan regenerasi Samurai Biru yang seolah mandek.
"Asosiasi Sepak Bola Jepang dan para pemain harus mulai berpikir serius tentang pengembangan bakat muda kami. Secara fisik, saya pikir kami bisa mengikis jurang yang ada dengan tim-tim yang lebih kuat. Namun, regenerasi adalah ini persoalan penting."
Yoshida juga menilai penampilan Jepang secara keseluruhan di Piala Dunia 2018 telah memukau tak hanya pendukung mereka sendiri tetapi juga seantero dunia.
"Jika hanya melihat laga malam ini, Anda tentu akan menemukan banyak masalah yang harus diselesaikan. Namun, jika melihat keseluruhan penampilan kami di turnamen ini, Anda bisa melihat kami bisa bersaing dan memainkan sepak bola atraktif di level ini. Saya pikir kami tak hanya memukau penggemar kami, tapi seluruh dunia," katanya.
Jepang memang tampil keren dan sempat unggul 2-0 saat melawan Belgia. Bahkan setelah menang dua gol, Jepang enggan bermain bertahan dan menumpuk pemain di lini belakang seperti yang dliakukan banyak tim di Rusia.
"Kami kerap kesulitan ketika bertahan dalam situasi bola-bola mati, dan mungkin itu salah satu alasannya. Namun secara keseluruhan, kami sangat buruk setelah unggul dua gol itu. Mungkin ada faktor kelemahan mental. Namun saya tidak tahu bagaimana itu bisa terjadi, mungkin kurang percaya diri atau minim pengalaman di fase gugur. Kami menjadi naif dan rapuh. Seharusnya kami bisa bermain lebih baik."
Jepang sejak 1998 tidak pernah absen dari putaran final Piala Dunia, tetapi langkah mereka paling jauh adalah 16 besar yakni pada 2002 kala menjadi tuan rumah bersama Korea, 2010 dan 2018. Di 2002 Jepang tersingkir setelah kalah 0-1 dari Turki, sedangkan pada 2010 mereka kalah 3-5 lewat adu tendangan penalti melawan Paraguay.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.