Dalam 4 Tahun, 3 Nyawa Melayang karena Fanatisme Brutal & Sepak Bola DIY Jadi Korban

Tim Harian Jogja
Tim Harian Jogja Sabtu, 28 Juli 2018 07:25 WIB
Dalam 4 Tahun, 3 Nyawa Melayang karena Fanatisme Brutal & Sepak Bola DIY Jadi Korban

Suporter PSS Sleman dan PSIM Jogja saling berangkulan seusai mengikuti rapat koordinasi dengan Polda DIY di Hotel Merapi Merbabu, Depok, Sleman, Selasa (24/7/2018).Harian Jogja-Fahmi Ahmad Burhan

Harianjogja.com, JOGJA—Anak-anak dan sepak bola menjadi korban akibat ulah gerombolan perusuh dalam Derbi DIY. Satu bocah berusia 16 tahun dikeroyok sampai tewas lantaran dikira pendukung klub bola. Pengambil kebijakan mulai menyerukan pembekuan pertandingan sepak bola di DIY selama para pengacau itu masih bertingkah.

Muhammad Iqbal Setyawan meninggal dunia dalam usia 16 tahun setelah dihajar oleh gerombolan penonton pertandingan kompetisi kelas bawah Indonesia yang mempertemukan PSIM Jogja dan PSS Sleman di Stadion Sultan Agung, Bantul, Kamis (26/7). Iqbal tinggal di Dusun Balong, Timbulharjo, Sewon, Bantul. Dia masuk ke stadion diantar ayahnya, Aiptu Suradi, anggota Polsek Pleret. Iqbal datang ke Sultan Agung bukan untuk mendukung salah satu klub, melainkan sekadar menikmati sepak bola yang sudah menjadi kegemarannya sejak lama. Namun, dia jadi bulan-bulanan saat keluar dari Stadion Sultan Agung bersama tiga temannya setelah pertandingan usai. Penyebabnya, Iqbal dicurigai sebagai suporter PSS Sleman.

“Ponselnya dibuka. Gerombolan suporter itu baca chat Iqbal ke temannya yang entah apa isinya, kemudian langsung mengecap Iqbal suporter PSS,” kata Ronggo, aktivis Karang Taruna Dusun Balong, Timbulharjo, Sewon, Bantul, Jumat (27/7).

Iqbal terluka parah dan dilarikan ke Rumah Sakit Permata, Pleret, Bantul, tetapi nyawanya tak tertolong. Teman Iqbal, Edi Nugroho yang tinggal di Sleman, juga dihajar sampai babak belur. Dia kritis dan kini dirawat di Rumah Sakit Umum Pusat Dr. Sardjito.

Edi awalnya dilarikan di Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Panembahan Senopati Bantul. Namun, menurut Direktur Umum dan Keuangan RSUD Panembahan Senopati Agus Budi Raharja, luka yang diderita Eko terlampau parah sehingga dia harus dirujuk ke Sardjito pada Kamis tengah malam.

Eko kemudian dioperasi dan kini dalam masa pemulihan. “Dia harus menjalani operasi besar, karena kritis. Masuk ruang operasi sekitar pukul 11.00 WIB [Jumat[,” kata Kepala Bagian Hukum dan Humas RSUP Dr. Sardjito Banu Hermawan.

Selain Iqbal dan Edi, belasan orang terluka dan dirawat di rumah sakit di Bantul karena dihajar maupun terlibat bentrok. Kapolres Bantul Sahat M Hasibuan berjanji akan mengusut tuntas kasus pengeroyokan yang menewaskan Iqbal. Polisi sudah memeriksa sejumlah saksi.

“Dia [Iqbal] keluar Stasion bersama dengan Edi, korban lain yang saat ini kritis. Kami belum bisa meminta keterangan kepada Edi, tetapi rekan mereka yang selamat sudah kami mintai keterangan,” ujar Kasat Reskrim Polres Bantul AKP Rudy Prabowo.

Menurut Rudy, Iqbal meninggal karena pukulan benda tumpul dan patah tulang leher.

DIY dalam beberapa tahun belakangan menjadi medan perkelahian para perusuh pertandingan bola. Sejak 2014, tiga orang, dua di antara mereka masih di bawah umur, harus kehilangan nyawa lantaran dikeroyok.

12 Oktober 2010, Muhammad Ikhwanudin, 19, suporter PSCS Cilacap meninggal dunia setelah dikeroyok di Simpang Tiga Bandara Adisutijpto, Sleman. Polisi berhasil membekuk pengeroyok yang belakangan diketahui sebagai suporter PSS yang dendam karena pernah terlibat bentrok di Cilacap.

Pada 22 Mei 2016, Stanislaus Gandhang Deswara, 16, meninggal dunia setelah bentrok antarkelompok suporter. Gandhang adalah pendukung PSS Sleman. Bentrok terjadi antara pendukung PSS dan pendukung PSIM yang baru pulang menonton bola di Semarang. Kemarin, giliran Iqbal yang menjadi korban.

Pembekuan Sepak Bola

Keributan ini muncul lantaran fanatisme terhadap klub-klub bola dan rivalitas dengan klub lain di sekitar DIY. Pada 7 Mei tahun lalu, sebagian suporter Persis Solo yang melihat pertandingan Persis melawan Persiba di Stadion Sultan Agung diadang, ditimpuk, dan diamuk saat melintasi wilayah DIY. Rentetan kericuhan yang memakan tumbal nyawa ini sangat meresahkan para pengambil kebijakan. Mereka mulai menyuarakan penolakan terhadap pertandingan sepak bola yang lebih banyak mendatangkan mudarat gara-gara ulang gerombolan tukang bikin onar.

Bupati Bantul Suharsono sangat menyesali kerusuhan di Stadion Sultan Agung yang sampai merengut korban jiwa. Ia bekal mengevaluasi izin penyelenggaraan pertandingan di kabupaten ini.

Dia akan berkomunikasi dengan kepolisian yang punya kewenangan mengeluarkan izin. Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Bantul yang menjadi pemilik Stadion Sultan Agung tak ingin kecolongan lagi. Apalagi, 3 Juni lalu, gerombolan suporter Persija dan Persebaya juga bentrok saat kedua tim yang mereka dukung bertanding dalam lanjutan Liga 1 2018 di Stadion Sultan Agung.

“Pemberian izin pertandingan harus dievaluasi. Izin tetap bisa diberikan untuk pertandingan, tetapi harus selektif dan tidak sembarangan. Misal klub dengan pendukung rusuh atau jadi musuh bebuyutan tidak boleh main,” kata dia.

Wakil Gubernur DIY KGPAA Paku Alam X mengatakan suporter-suporter yang suka kisruh hingga menghilangkan nyawa orang lain itu sangat mencoreng nama DIY.

“Kami prihatin [dengan meninggalnya penonton saat melihat pertandingan sepak bola]. Kenapa justru terjadi lagi di DIY? Sebenarnya sudah ada paguyuban suporter dan sebagainya, semestinya itu [kerusuhan] bisa dihindari,” kata Paku Alam X di Gedung DPRD DIY, Jumat.

Paku Alam X meminta masyarakat berpartisipasi mencegah kejadian serupa terus berulang.

“Jangan hanya mengandalkan aparat karena jumlahnya juga terbatas,” ujar dia.

Dinas Pendidikan Pemuda dan Olahraga (Disdikpora) DIY mengusulkan gagasan yang lebih keras, yakni penghentian sementara pertandingan sepak bola di DIY sampai perilaku-perilaku brutal itu benar-benar hilang.

“Kalau perlu, dijeda dulu lah sepak bola di DIY sampai kita bisa membentuk penonton betul-betul tidak berbuat onar. Dijeda dulu dan kita pikirkan bagaimana caranya supaya tidak ada korban lagi,” ucap Kepala Disdikpora DIY Kadarmanta Baskara Aji.

Aji geram karena Iqbal, bocah yang meninggal karena dikeroyok iti, adalah siswa SMA di Bantul.

“Satu nyawa sangat berharga, ini yang harus kita pikirkan bersama karena di setiap sepak bola sering ada kerusuhan.”

Siswa Dikeluarkan

Aji sudah mengumpulkan kepala SMA dan SMK di seluruh DIY pada Jumat kemarin untuk membahas persoalan ini. Selain lantaran korban kekerasan adalah pelajar, ribuan siswa juga membolos saat Derbi DIY. Disdikpora curiga mereka tidak masuk sekolah sejak pagi dan sebagian meninggalkan pelajaran untuk menonton sepak bola di Bantul.

“Sebenarnya kami sudah berkoordinasi dengan kepolisian karena ada sekian pelajar kami yang tidak masuk [kala Derbi DIY berlangsung],” ujar dia.

Baskara Aji meminta sekolah memberikan perhatian khusus dan menjatuhkan poin pelanggaran kepada murid-murid sekolah yang membolos. Disdikpora bahkan meminta sekolah lebih tegas dengan mengeluarkan pelajar yang terlibat kericuhan.

“Jika tidak masuk bisa saja poinnya jadi minus sepulu, tetapi jika tiba-tiba kami mendapatkan informasi, siswa tersebut terlibat onar atau menjadi dalang onar, bisa saja kami keluarkan dari sekolah. Ngapain sekolah mempertahankan satu anak yang selalu bikin masalah. Kami tidak main-main. Ini sudah saya sampaikan ke kepala sekolah,” ujar Baskara Aji.

Kamis kemarin, Kepala Balai Pendidikan Menengah (Dikmen) Kota Jogja Suhartatik menyatakan ada 978 pelajar dari berbagai SMA dan SMK di Kota Jogja yang tidak masuk tanpa keterangan. Mereka berasal dari 16 SMA dan SMK.

Suhartatik tidak mengetahui secara pasti alasan ratusan siswa itu membolos. Namun, dia curiga karena mereka menonton laga Liga 2 2018 antara PSIM dan PSS. Sebab, belum pernah ratusan pelajar membolos serentak seperti kemarin. Balai Dikmen bahkan khawatir para pelajar itu dimobilisasi

Jumat kemarin, Kepala Balai Dikmen Sleman Sukarjo mengatakan jawatannya menerima aduan tentang banyaknya siswa SMA dan SMK yang membolos untuk menonton bola di Bantul. “Kemarin sekitar pukul 14.00 WIB kami kecolongan, itu sebenarnya jam belajar, tetapi ada laporan sebagian siswa ikut rombongan,” kata dia.

Sukarjo akan mengumpulkan Musyawarah Kerja Kepala Sekolah (MKKS) SMA dan SMK untuk mengetahui data siswa Sleman yang bolos sekolah demi melihat bola. Panitia Pelaksana Pertandingan PSIM Jogja melawan PSS Sleman sebenarnya hanya menyediakan 30 tiket bagi pendukung PSS. Namun, rombongan suporter dari Sleman tetap berduyun-duyun mendatangi Stadion Sultan Agung. Di beberapa lokasi, mereka berbuat onar. Bahkan, ada gerombolan yang menghajar siswa SMK yang memakai baju biru seragam praktik mengelas. Siswa malang itu jadi bulan-bulanan lantaran disangka pendukung PSIM Jogja. Aparat Polres Bantul kemudian menghalau suporter PSS sebelum sampai Stadion Sultan Agung dan mengawal mereka kembali ke Sleman.

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Share

Budi Cahyana
Budi Cahyana Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online