Setelah Kontraknya Diperpanjang, Milla Punya Tantangan Berat di Piala AFF 2018

Budi Cahyana
Budi Cahyana Selasa, 28 Agustus 2018 22:25 WIB
Setelah Kontraknya Diperpanjang, Milla Punya Tantangan Berat di Piala AFF 2018

Luis Milla/Antara-Inasgoc-Charlie

Harianjogja.com, JOGJA—PSSI memperpanjang kontrak Luis Milla selama setahun ke depan. Milla, yang kontraknya berakhir selepas Asian Games 2018, diberi tanggung jawab menangani Timnas Indonesia di Piala AFF 2018 yang akan dimulai 8 November nanti dan SEA Games 2019 di Manila, Filipina.

PSSI memutuskan memperpanjang kontrak Milla setelah rapat Komite Eksekutif di Jakarta Selatan, Selasa (28/8/2018). Luis Milla saat ini sedang berada di Spanyol dan detail perpanjangan kontraknya akan dibahas setelah dia kembali ke Indonesia.

Milla sebenarnya gagal memenuhi target di Asian Games 2018. PSSI ingin Indonesia setidaknya melangkah sampah semifinal. Sayangnya, tim asuhan Milla kalah adu penalti dari Uni Emirat Arab (UEA).

Meski gagal, Indonesia bisa menyuguhkan permainan menghibur. Indonesia yang diracik Milla bukan lagi Indonesia yang membosankan dan mengandalkan umpan lambung seperti ketika ditangani Alfred Riedl. Setelah kalah dari UEA, Milla mengatakan cukup puas dengan penampilan pemain Indonesia karena bisa mengimbangi tim-tim dari Timur Tengah maupun Asia Timur. Jarak kualitas yang sebelumnya sangat jauh kini semakin tipis.

“Kami putuskan memperpanjang kontrak Luis Milla selama satu tahun ke depan,” kata Ketua Umum Edy Rahmayadi seperti dikutip dari suara.com.

Milla mengubah karakter permainan Indonesia dalam waktu satu tahun lebih. Dia mulai memoleh Timnas Indonesia pada Januari 2017 dan turnamen besar pertamanya adalah SEA Games 2017. Indonesia gagal meraih emas karena kalah 0-1 dari Malaysia di semifinal. Sisa-sisa permainan membosankan masih terlihat.

Di Asian Games 2018, Indonesia bisa memeragakan umpan-umpan presisi, dengan Evan Dimas sebagai metronom, Stefano Lilipaly sebagai motor serangan, Beto Goncalves sebagai penuntas serangan, dan Febri Hariyadi serta Irfan Jaya sebagai pendobrak dari sayap.

Tantangan selanjutnya di Piala AFF tidak akan mudah. Indonesia berada di Grup B bersama Thailan, Filipina, Singapura, dan salah satu tim yang lolos dari fase kualifikasi.

Thailand kini ditangani Milovan Rajevac, pelatih Serbia yang berhasil membawa Ghana melaju sampai perempat final Piala Dunia 2010. Indonesia boleh saja bangga dengan dua pemain naturalisasi yang tampil yahud di Asian Games 2018. Pemain-pemain senior yang punya performa bagus di Liga 1 juga banyak. Mereka akan menambah variasi permainan yang sudah matang diterapkan pemain-pemain U-23.

Namun, Thailand punya Teerasil Dangda dan Theerathon Bunmathan. Dangda adalah supersub di Sanfrencce Hiroshima, klub yang kini memuncaki klasemen J-League dan punya peluang besar menjadi juara musim ini. Dangda nyaris selalu tampil di tiap laga, meski dari bangku cadangan. Dari 19 pertandingan bersama Sanfrencce Hiroshima, Dangda sudah bikin lima gol. Bunmathan bahkan menjadi bek kiri utama Vissel Kobe yang kini berada di peringkat keempat J-League. Rekan setim Bunmathan adalah dua bekas juara dunia, Andres Iniesta dan Lukas Podolski.

Singapura tak sekuat satu dekade lalu, tetapi terus berkembang di bawah asuhan Fandi Ahmad. Filipina masih mengandalkan Younghusband bersaudara, James dan Phil, serta kiper Asia pertama yang menjadi pilihan utama di klub Liga Premier Inggris, Neil Etheridge. Etheridge adalah penjaga gawang nomor satu Cardiff City. Tiap pekan, lawan-lawan yang dia hadapi adalah pemain-pemain kelas dunia.

Penampilan Indonesia di Asian Games 2018 cukup memuaskan, walaupun gagal. Jika bisa terus mengembangkan gaya main seperti ini dan mengatasi pemain-pemain level kontinental yang memperkuat Thailand serta Filipina, Milla dan Indonesia bisa sukses.

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Share

Budi Cahyana
Budi Cahyana Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online