Tekanan untuk Joachim Low Belum Surut

Hanifah Kusumastuti & Budi Cahyana
Hanifah Kusumastuti & Budi Cahyana Rabu, 05 September 2018 17:25 WIB
Tekanan untuk Joachim Low Belum Surut

Joachim Low dan Mats Hummels punya kesempatan memulihkan reputasi Jerman di UEFA Nations League./Reuters-Andreas Gebert

Harianjogja.com, JOGJA—Tekanan terhadap Joachim Low belum juga surut selepas kegagalan Jerman di Piala Dunia 2018.

Low mendapat kesempatan untuk mereparasi timnya di UEFA Nations League setelah lebih dari dua bulan timnya dipaksa angkat koper sejak fase grup Piala Dunia 2018 di Rusia. Thomas Muller dkk. tergabung di Grup 1 Liga A bersama juara Piala Dunia 2018, Prancis, dan tim raksasa Eropa, Belanda.

Tidak banyak perubahan dalam skuat Jerman untuk memulai kampanye perdana mereka di UEFA Nations League melawan Prancis di Allianz Arena, Munich, Jumat (7/9/2018) pukul 01.45 WIB. Nama-nama besar seperti kiper Manuel Neuer, Muller, Marco Reus, Jerome Boateng, Mats Hummels, dan Joshua Kimmich, tetap disertakan melawan Prancis dalam kompetisi negara-negara Eropa yang digelar untuk mengisi jeda internasional tersebut. Mesut Ozil tak lagi dibawa karena sudah menyatakan pensiun dari panggung internasional.

Lothar Matthaus, kapten Jerman Barat di Piala Dunia 2018 yang belakangan selalu mengkritik Die Mannschaft meminta Low tidak bergantung pada pemain-pemain berpengalaman meski sebagian besar dari mereka pernah membawa Der Panzer menjuarai Piala Dunia 2014 di Brasil. Mattahus menyarankan Low mencoret pemain langganannya jika mereka tampil angin-anginan.

“Saya ingin ada pesan yang jelas dari Jogi [sapaan Joachim Low] untuk masa depan Jerman. Meski itu bisa membuat beberapa pemain tidak senang. Namun, seperti halnya Niko Kovac [pelatih baru Bayern Munich] yang meredam beberapa hal di Bayern, Low juga harus melakukannya. Tidak ada penghargaan lagi untuk masa lalu. Berhenti mempertanyakan loyalitas,” ujar Matthaus, seperti dikutip fourfourtwo.com, Selasa (4/9/2018).

Matthaus mempertanyakan keputusan Low yang kembali memanggil Julian Draxler ke laga perdana mereka di UEFA Nations League melawan Prancis. Gelandang Paris Saint Germain (PSG) itu dinilai gagal memberi dampak kepada performa Jerman di Piala Dunia lalu. Matthaus juga mengkritik Low yang tetap menyertakan bek kiri Jonas Hector setelah klubnya, FC Koln, terdegradasi dari Bundesliga musim ini.

Sebaliknya, Matthaus berharap Sandro Wagner bisa menangguhkan keputusannya dari pensiun.

Penyerang Bayer Leverkusen itu diyakini masih bisa memberi kontribusi apabila bersedia comeback ke tim Der Panzer. “Dia [Wagner] pemain Jerman yang paling banyak mencetak gol setelah Thomas Muller musim lalu dengan 14 gol dan sembilan assist,” ujar Matthaus.

Sebelumnya, Low mengaku membuat beberapa kesalahan sehingga Die Mannschaft secara memalukan tersingkir di fase grup Piala Dunia 2018. Kini dia mengoreksi gagasannya tetang permainan dan tak akan terlalu bernafsu untuk mendorong anak asuhnya menguasai bola.

Sejak Euro 2012, Low mengubah wajah Jerman yang semua mengendepankan kegigihan menjadi lebih lembut, dengan penguasaan bola sebagai ruh permainan. Gaya ini sukses membawa Jerman menjuarai Piala Dunia 2014, tetapi terhenti di semifinal Euro 2016 dan gagal total di Piala Dunia 2018.

“Penguasaan bola di liga merupakan hal penting, tetapi di koompetisi menggunakan sistem gugur, diperlukan adaptasi. Itu merupakan kesalahan terbesar saya,” kata Low sebagaimana dikutip dari Reuters, Kamis (30/8/2018).

“Semula saya yakin dengan penguasaan bola yang dominan akan membawa kami melaju dari fase grup. Itulah sikap arogan dari saya. Saya ingin menyempurnakannya, bahkan lebih menerapkan dominasi ini. Namun, saya semestinya menyadari bahwa apa yang kami perlukan adalah lebih sedikit mengambil risiko,” ujar dia.

Low juga mengungkapkan ia tak berhasil membuat para pemainnya gembira menjelang turnamen sehingga tekanan menjelang Piala Dunia 2018 sangat besar. Saat Jerman dan tim-tim yang mengagungkan penguasaan bola bertumbangan, kesebelasan yang mengandalkan serangan balik, contohnya Prancis, malah sukses besar.

“Setelah kemenangan pada 2014 dan berada di puncak, kali ini kami gagal. Kami sekarang harus menemukan kombinasi yang tepat, lebih stabil, dan memulihkan keseimbangan antara serangan dan pertahanan.”

Keseimbangan memang luput dari permainan Jerman di Rusia. Di tiga laga fase grup, Jerman selalu memegang penguasaan bola hingga lebih dari 60%. Jerman juga selalu mengurung pertahanan lawan. Namun, juara dunia 1954, 1974, 1990, dan 2014 itu hanya sekali menang melawan Swedia berkat gol Toni Kroos di pengujung laga. Sementara, di hadapan Meksiko Jerman takluk 0-1 dan di depan Korea Selatan, secara mengejutkan Jerman kalah 0-2 dan tersingkir dari turnamen.

Ada tiga pemain debutan yang dibawa Low di skuat jerman kali ini, yakni gelandang Kai Havertz yang baru berumur 19 tahun, bek baru PSG Thilo Kehrer yang berusia 21 tahun, serta gelandang Hoffenheim Nico Schulz yang sudah berumur 25 tahun.

Dia juga memasukkan Ilkay Gundogan, yang banyak mendapat kritik karena berfoto bersama Presiden Turki Tayyip Erdogan sebelum Piala Dunia. Low mengatakan Gundogan menderita karena masalah yang membayang-bayangi penampilan mereka di Piala Dunia. Ia mengatakan pengalaman Gundogan dan beberapa pemain senior diperlukan di skuatnya.

“Pengalaman merupakan dasar yang sangat penting bahkan untuk awal yang baru. Kemudian pemain-pemain muda yang dinamis dan lapar dapat membantu kami pada tugas-tugas penting di depan kami.”

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Share

Budi Cahyana
Budi Cahyana Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online