Gerard Pique/Reuters-Sergio Perez
Harianjogja.com, JOGJA - El Clasico di Santiago Bernabeu, Minggu (3/3/2019) dini hari WIB berlangsung panas. Dalam laga yang dimenangi Barcelona ini, Lionel Messi bertikai dengan Sergio Ramos dan Gerard Pique bak menyiramkan minyak ke bara dengan gestur yang dia bikin.
Ivan Rakitic boleh saja membuat gol tunggal dalam laga yang berakhir 1-0 untuk tim tamu. Namun, lakon di El Clasico kali ini adalah Gerard Pique. Dia tampil apik, bersama rekannya di lini belakang, Clement Lenglet, membuat kombinasi 22 sapuan dan tujuh blok. Duet bek tengah ini menciptakan rasa aman bagi kiper Marc Andre ter Stegen.
Pique juga pemberani, yang tak jeri menghadapi kerumunan suporter sahibulbait yang menurut dia suka mengeluh. Di pengujung babak pertama, Lionel Messi kena sikut Sergio Ramos. Messi bangkit dan berusaha mencengkeram Ramos sebelum dilerai.
Namun, Ramos tak diganjar kartu apa pun dari wasit. Tak lama kemudian, Pique membuat gestur dengan tangannya. Jari-jarinya dikatupkan ke arah suporter Real Madrid, membentuk bibir yang sedang berbicara.
Kepada Marca sesusai laga, Pique mengaku sengaja membuat gestur tersebut karena suporter Real Madrid sangat rewel.
"Suporter Real Madrid kebanyakan komplain dan mengeluh. Mereka selaku memprotes wasit dan VAR, padahal Real Madrid yang sering mendapat keuntungan," ucap bek 32 tahun ini.
Pique mafhum gerakan tangannya akan menyulut emosi suporter Los Blancos.
"Laga ini sudah panas dan saya suka membuatnya lebih panas."
Pique kesal karena Sergio Ramos, eks rekannya di Timnas Spanyol, sangat agresif dan berkali-kali melanggar Messi. Yang paling membuatnya jengkel adalah sikutan di babak pertama.
"Mulut Messi berdarah. Itu adalah perilaku agresif. Saya cukup akrab dengan beberapa pemain Madrid, tetepi ketika kita memakai jersey klub yang berbeda, itu lain soal."
Pique adalah salah satu pemain yang kerap berseteru dengan fans Real Madrid. Dia juga terang-terangan menunjukkan identitas Katalan dalam beberapa kesempatan. Sementara, independensi Katalan adalah ihwal sensitif di Spanyol, terutama di kalangan suporter Real Madrid yang mewarisi tradisi kerajaan dan pernah dekat dengan rezim otoriter Jenderal Franco.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.