Emre Can/Reuters-Massimo Pinca
Harianjogja.com, TURIN—Comeback menjadi tren di perdelapan final Liga Champions musim ini. Tiga dari empat tim yang melaju ke perempat final awalnya tidak diunggulkan setelah kalah pada leg pertama 16 besar. Mereka adalah Ajax Amsterdam, Manchester United, dan Porto.
Namun, ketiga tim tersebut mampu menunjukkan comeback gemilang pada leg kedua untuk menggaet tiket ke delapan besar. Ajax menyingkirkan Real Madrid dengan agregat 5-3 setelah pada leg pertama mereka kalah 1-2 di kandang. United menjungkalkan Paris Saint Germain agregat 3-3 dengan unggul produktivitas gol tandang meski sebelumnya tunduk 0-2 di Old Trafford.
Porto membutuhkan babak tambahan waktu untuk memaksa AS Roma angkat koper dengan agregat 4-3 setelah sebelumnya kalah 1-2 di Ibu Kota Italia. Praktis hanya Tottenham Hotspur yang memastikan lolos ke perempat final tanpa perlu susah-susah comeback karena pada leg pertama mereka sudah menang telak 3-0 melawan Borussia Dortmund.
Juventus pun berharap tertular virus comeback serupa ketika menjamu Atletico Madrid pada leg kedua babak 16 besar Liga Champions, di Allianz Stadium, Turin, Rabu (13/3) pukul 03.00 WIB (disiarkan langsung RCTI). Apa yang dialami Juve mirip dengan kondisi United, yakni kalah 0-2 pada leg pertama. Bedanya, Juve akan bermain di kandang pada leg kedua nanti.
"Kami tidak menyangka kalah 0-2 pada leg pertama, tetapi apa pun masih bisa terjadi, dan kami ingin menunjukkan respons besar di kandang kami, di depan fans kami. Ini akan jadi malam hebat, salah satu yang fantastis, malam di Liga Champions. Tim ini sangat percaya diri bisa memainkan laga hebat, begitu juga saya. Untuk para fans, saya bisa berkata: berpikirlah positif, selalu yakin. Besiaplah untuk comeback!," kata megabintang Juve, Cristiano Ronaldo, seperti dilansir juventus.com, Senin (11/3).
Ronaldo tak asal bicara. Top scorer sepanjang sejarah Liga Champions ini aktor utama kesuksesan klub lamanya, Real Madrid, comeback menyingkirkan Wolfsburg dari perempat final Liga Champions 2015/2016. Saat itu, Madrid dibuat babak belur 0-2 di kandang Wolsfburg pada leg pertama. Namun pada leg kedua, Ronaldo menorehkan hattrick untuk membawa Madrid menang 3-0 di kandang sekaligus memastikan lolos ke semifinal dengan agregat 3-2.
Tak hanya Ronaldo yang terbiasa dengan comeback. Bianconeri, julukan Juve, mampu bangkit dari ketertinggalan alias come from behind pada fase knock-out dalam sejarah kompetisi paling elite di Eropa ini selama delapan kali! Salah satu yang populer ketika menyingkirkan Madrid dari perempat final 1995/1996. Ketika itu, Bianconeri tunduk 0-1 pada leg pertama di Madrid, tetapi akhirnya bangkit 2-0 pada leg kedua di Turin. Itu merupakan musim kali terakhir Juve menuntaskan turnamen terelite di Eropa ini sebagai juara.
"CR7 datang ke sini [Juve] untuk itu [menjuarai Liga Champions]. Dia tidak dikontrak untuk memenangi scudetto atau mendongkrak penjualan merchandise, Juve menunggu untuk mengakhiri kekecewaan yang berlangsung bertahun-tahun ini," tulis media Italia, Corriere dello Sport.
Ekspektasi Juve kepada pemain yang dibeli dari Madrid dengan banderol 100 juta euro (Rp1,6 triliun) pada musim panas lalu tersebut untuk mengakhiri dahaga gelar Liga Champions sejak 1996 memang sangat besar. Tapi benarkah CR7 bisa menjawab ekspektasi tersebut? Setelah menjadi top scorer di enam musim beruntun di Liga Champions, mesin gol asal Portugal ini hanya mencatat sebiji gol di turnamen paling akbar di Benua Biru musim ini.
Sejak Juve keok 0-2 di markas Atletico, Ronaldo juga tak mampu menambah isi rekening golnya di Seri-A. Alhasil, posisinya sebagai top scorer sementara Seri-A musim ini dikudeta penyerang Sampdoria, Fabio Quagliarella. Ronaldo dengan 19 gol, sedangkan Quagliarella dengan 20 gol.
Juve perlu memperbaiki kelemahan mereka ketika menghadapi tim-tim spesialias bertahan, semacam Atletico. Ronaldo harus mendapat dukungan untuk menemukan celah menerobos pertahanan Los Rojiblancos, julukan Atletico, yang kian solid dengan tidak kemasukan sebiji gol pun dalam lima laga. Juve tentu tidak mau kembali dipermalukan Pelatih Atletico, Diego Simeone, dengan selebrasi "gilanya" seperti di Wanda Metropolitano.
Simeone sendiri mengaku tidak kaget dengan comeback Ajax dan Manchester United musim ini. Namun, pelatih asal Argentina ini tidak akan membiarkan Juve melakoni hal serupa kepada Koke dkk. di Juventus Stadium nanti. "Kami harus tetap bermain seperti yang selama ini kami tunjukkan," jelas Simeone, seperti dikutip as.com.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Sumber : JIBI/Solopos