Jadi Tim Kedua yang Terdegradasi dari Liga Premier, Fulham Lakukan 6 Kesalahan

Hanifah Kusumastuti
Hanifah Kusumastuti Rabu, 03 April 2019 22:17 WIB
Jadi Tim Kedua yang Terdegradasi dari Liga Premier, Fulham Lakukan 6 Kesalahan

Fulham/Reuters-Peter Cziborra

Harianjogja.com, JOGJA - Fulham menjadi tim kedua Liga Premier Inggris yang terdegradasi ke Championship musim depan, setelah Huddersfield. Setelah kalah 1-4 di kandang Watford, Rabu (3/4/2019) dini hari WIB, Ryan Babel dkk. tak bakal bisa tak beranjak dari zona merah karena hanya mengumpulkan 17 poin dan cuma punya lima laga tersisa.

Sementara, tim yang berada di bataw terakhir zona aman atau petingkat ke-17, Burnley, kini sudah mengoleksi 33 angka atau unggul 16 angka. Dalam lima pertandingan, jika semuanya menang, angka maksimal yang bisa diraih Fulham hanya 32.

Berikut enam dosa Fulham yang menyebabkan mereka terdegradasi seperti dilansir Squawka:

1. Gila Belanja di Bursa Transfer Musim Panas

Fulham menggebrak di awal musim dengan membeli 12 pemain baru pada bursa transfer musim panas 2018. Tujuh pemain diikat permanen dan lima lainnya berstatus pinjaman. Para pemain permanen itu menghabiskan dana nyaris 100 juta poundsterling (Rp1,8 triliun).

Jean Michael Seri menjadi pemain termahal dengan banderol 30 juta poundsterling (Rp560,8 miliar) dan Maxime Le Marchand menjadi pemain termurah dengan harga 5 juta poundesling (Rp93,4 miliar). Namun, belanja pemain secara gila-gilaan itu ternyata tidak efektif untuk penampilan Fulham.

2. Memecat Jokanovic

Slavisa Jokanovic dikritik karena secara naif memakai taktik yang biasa dipakainya saat Fulham masih berlaga di Championship. Fulham pun sempat menempati juru kunci dalam 12 laga pembuka Liga Premier Inggris musim ini.

Sayang, saat Jokanovic mulai memakai strategi yang nyetel dengan Fulham, mereka malah memecat pelatih asal Serbia ini. Pemecatan terjadi setelah Fulham kalah 0-2 dari Liverpool di Anfield. Meski kalah, permainan Fulham sangat impresif dengan formasi yang lebih konservatif 4-2-3-1.

3. Mendatangkan Claudio Ranieri

Chairman Fulham, Shahid Khan, mengambil risiko tinggi dengan menggaet Cladio Ranieri menggantikan Jokanovic yang dipecat, November 2018. Ranieri memenangi debutnya sebagai pelatih Fulham dengan menundukkan Southampton. Tapi eks bos Leicester City itu hanya meraih dua kemenangan dalam 15 laga berikutnya, sampai akhirnya dia dipecat pada 28 Februari lalu dan digantikan Scott Parker sebagai pelatih karteker.

4. Perlakuan Ranieri kepada Sessegnon

Saat Ranieri tiba, menit tampil Ryan Sessegnon langsung merosot drastis dari 76,42 menit per laga menjadi 46,85 menit per laga. Padahal, pemain remaja Fulham ini punya potensi besar membantu pergerakan timnya di sayap kiri.

5. Terlalu Sering Rotasi di Belakang

Dalam 33 laga di Liga Premier Inggris musim ini, Fulham menurunkan 20 pemain berbeda di lini belakang, termasuk kiper, oleh tiga pelatih berbeda. Formasi Fulham di lini belakang juga kerap berubah-ubah dari back three, back four, hingga back five.

6. Menempatkan Fans sebagai Pelanggan Tiket 

Banyak fans die hard Fulham yang selalu setia menyaksikan langsung pertandingan tim mereka. Sayang, loyalitas itu dimanfaatkan Fulham untuk mengeruk keuntungan memasang harga tiket yang dirasa mahal. Harga tiket termurah saat melawan Manchester City di Craven Cottage menjadi 55 poundsterling (Rp1,026 juta). Fans Fulham pun menggelar aksi protes dengan membentangkan spanduk bertuliskan "Sudah Cukup Sudah" pada menit ke-55.

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Sumber : JIBI/Solopos

Share

Budi Cahyana
Budi Cahyana Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online