Mohamed Salah/Reuters-Lee Smith
Harianjogja.com, JOGJA - Liverpool tak butuh bermain bagus untuk menjuarai Liga Champions. Yang mereka perlukan adalah lawan yang bermain lebih jelek.
Liverpool sukses memenangi final Liga Champions yang kurang berkualitas di Stadion Wanda Metropolitano, Madrid, Minggu (2/6/2019) dini hari WIB. The Reds menang 2-0 berkat gol tendangan penalti Mohamed Salah di menit ke-2 dan Divock Origi di menit ke-87.
Penalti diberikan setelah tangan kanan gelandang Spurs Mousa Sissoko yang direntangkan untuk mengatur pertahanan malah bola mengenai bola umpan Sadio Mane di menit pertama. Sementara, gol Origi tercipta lewat kombinasi kualitas individu sang striker dan kelengahan lini pertahanan The Lilywhites. Gol Origi juga menjadi satu dari dua hal bermutu di laga ini selain penampilan prima kiper Alisson Becker.
Setelah gol penalti Salah, pertandingan berjalan menjemukan. Liverpool lebih banyak bertahan, sedangkan Spurs yang menguasai bola hingga 65% terlihat kebingungan. Setidaknya tiga kali Spurs salah mengumpan ketika masuk area pertahanan Liverpool. Harry Kane, yang baru sembuh dari cedera dan langsung dimainkan, terisolasi. Di babak pertama, Kane cuma 11 kali menyentuh bola.
Liverpool tak kalah bututnya. Dua pemain bermain sangat jelek, yakni Roberto Firmino dan Georginio Wijnaldum. Firmino hanya 16 kali menyentuh bola, tujuh kali mengumpan, satu kali menciptakan peluang, dan tak sekali pun menembak. Saat digantikan Origi di menit ke-58, dia terlihat tak berkeringat.
Wijnaldum yang jadi pahlawan di semifinal malah lebih buruk. Selama 62 menit di lapangan, dia cuma 15 kali menyentuh bola dan akhirnya digantikan James Milner.
Pada babak kedua, Spurs lebih dominan tetepi tetap tak cakap mengumpan. Berkali-kali bangunan serangan The Lilywhites kandas karena salah umpan. Akurasi umpan Spurs hanya 80% dan kebanyakan umpan mereka meleset di sepertiga akhir lapangan.
Organisasi permainan membaik begitu Lucas Moura masuk menggantikan Harry Winks. Sial bagi Spurs. Ketika mereka mulai banyak menciptakan peluang, Alisson bermain cemerlang. Kiper Brasil itu mentahkan tiga kans bagus Spurs: dua tendangan keras Heung Min Son dan tendangan bebas Cristian Eriksen.
Dengan permainan jelek Spurs, akurasi umpan Liverpool yang jauh lebih buruk, hanya 65%, jadi kelihatan tak terlalu buruk. Penguasaan bola The Reds yang sangat rendah juga tak masalah. Sebagaimana dicatat Opta, dengan persentase penguasaan bola hanya 35,4%, Liverpool menjadi tim pertama setelah Inter Milan (2010 mengalahkan Bayern) yang bisa memenangi final meski tak mendominasi permainan.
Kemudian, kesederhanaan dan ketajaman Divock Origi di menit ke-87 melambungkan Liverpool dalam partai puncak yang tak terlalu menarik. Skor 2-0 tak mencerminkan kualitas, tetapi kecerobohan. Spurs yang lebih ceroboh akhirnya kalah. Liverpool yang disiplin pun menang meski permainan mereka sama sekali tidak impresif.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.