Advertisement

Jalan Panjang FOPI DIY Membumikan Petanque

Sirojul Khafid
Senin, 26 Desember 2022 - 05:27 WIB
Arief Junianto
Jalan Panjang FOPI DIY Membumikan Petanque Sri Wahyuni memeragakan permainan petanque. - Harian Jogja/Sirojul Khafid

Advertisement

Harianjogja.com, JOGJA — Selalu ada yang pertama dalam semua hal, termasuk menciptakan kelompok petanque. Cabang olahraga yang masih baru ini punya jalan panjang di DIY.

Apabila mobil adalah rumah kedua, maka barang-barang di bagasi bisa mencerminkan rutinitas pemiliknya.

Advertisement

PROMOTED:  Dari Garasi Rumahan, Kini Berhasil Perkenalkan Kopi Khas Indonesia di Kancah Internasional

Di dalam bagasi mobil Sri Wahyuni, nyaris selalu ada lima set bola besi (bosi) dan bola kayu (boka) untuk petanque. Adapula circle atau lingkaran sebagai penanda pelempar bosi.

Sebagai Ketua Harian Federasi Olahraga Petanque Indonesia (FOPI) DIY, Yuni, sapaan akrabnya, memang sudah seharusnya membawa semua alat itu ke mana pun.

Olahraga baru itu awalnya dikenal Yuni saat menjalani program Strata 2 Fakultas Ilmu Keolahragaan Universitas Negeri Yogyakarta (UNY) pada 2016 silam.

Tahun itu, kali pertama dia mengenal petanque dari salah satu rekannya dari Solo. Perkenalan ini ternyata menjadi hubungan yang lebih serius.

Bersama teman dan mahasiswa lain, Yuni mulai bermain petanque di berbagai tempat publik, termasuk Alun-Alun Selatan.

Selain karena memang menikmati olahraga ini, dia juga ingin menyosialisasikan pada masyarakat umum. Sosialisasi ini dalam misi membentuk kepengurusan yang kemudian bisa terdaftar dalam Komite Olahraga Nasional Indonesia (KONI).

“Untuk bisa masuk KONI, minimal ada pengurus di tiga kabupaten atau kota. Jadilah kami bergerilya dari satu daerah ke daerah lain,” kata Yuni saat ditemui di SD Negeri Kotagede 4, Jogja, Kamis (22/12/2022).

BACA JUGA: Pemenang Usee Sports Futsal Cup 2022 Terima Hadiah Total Ratusan Juta Rupiah

Awal mula pembentukan FOPI DIY, kata Yuni, pengurus masih merangkap menjadi atlet, termasuk Yuni yang kini berusia 53 tahun.

Namun, gerilya ini membuahkan hasil. Semua kabupaten dan kota di DIY kini sudah memiliki pengurus masing-masing. Bantul memiliki 20 atlet, Sleman 20, Jogja 15, Kulonprogo dan Gunungkidul 10 atlet.

Meski tergolong baru, sudah ada beberapa prestasi yang layak untuk dikenang. Dalam ajang Pra Pekan Olahraga Nasional 2019, salah satu atlet tunggal putri FOPI DIY mendapat medali perunggu. Begitu juga di Kejuaraan Nasional (Kejurnas) 2022, nomor double mix mendapat medali perunggu. Sementara pada Kejurnas Mahasiswa di Jakarta, regu nomor triple mix mendapat medali emas.

Anggota FOPI DIY tengah berdiskusi di sela-sela kegiatan mereka./Instagram fopi_diy

Sekilas, mungkin petanque terlihat hanya sedikit bergerak. “Paling utama dalam olahraga ini adalah akurasi, konsentrasi agar tepat lemparannya, ketenangan dan ketepatan,” kata Yuni yang juga Kepala SD Negeri Kotagede 4 ini.

“Perlu juga olahraga otak dalam menyusun strategi,” imbuh dia.

Petanque dimainkan di lapangan persegi panjang dengan ukuran standar 3 x15 meter. Ukuran lapangan bisa dimodifikasi dalam gelaran daerah. Pemain berdiri di lingkaran yang berjarak setidaknya enam meter dari boka.

Sebelum dimulai, ada pengundian untuk menentukan pelempar pertama. Tujuan utama lemparan bosi sebisa mungkin mendekati boka. Setelah satu anggota dari dua tim melempar bosi, akan diukur mana jarak terdekat dan terjauh. Pemain dengan jarak bosi yang lebih jauh akan mendapat kesempatan untuk melempar di kesempatan berikutnya. Begitu seterusnya sampai bola di tangan pemain habis.

Ada 11 kategori dalam permainan ini, beberapa di antaranya adalah single man dan women; double man dan women; serta double dan triple mix.

BACA JUGA: Demi Jadi Tuan Rumah Olimpiade 2036, Indonesia Siap Bersaing dengan Qatar

Jumlah bola dalam setiap kategori juga berbeda. single dan doble, satu pemain membawa tiga bosi. Sementara triple, setiap pemain membawa dua bosi.

Akhir pertandingan bisa ditentukan dari jumlah maksimal 13 game atau waktu maksimal satu jam, tergantung mana yang tercapai lebih dahulu. Semakin dekat bosi dengan boka, maka poin pemain akan lebih besar.

Yuni mengatakan, “Olahraga ini kombinasi gerakan fisik dan otak. Belum tentu saat awal pertandingan unggul, tetapi sampai akhir juga akan menang. Pada Kejurnas tahun ini, kami sempat unggul sembilan poin di awal, tapi karena manajemen waktu yang kurang bagus, kami kalah di bagian akhir,” katanya.

Dibanding daerah lain, FOPI DIY memang masih perlu banyak belajar, terlebih jika dibandingkan dengan daerah lain sudah lebih awal memiliki kelompok.

Petanque pertama kali masuk ke Indonesia pada 2011. Pertama kali mengikuti Sea Games saat di Palembang 2011. “Tantangan buat kami agar bisa sejajar dengan daerah lain,” kata Yuni.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Advertisement

Video Terbaru

Advertisement

Berita Pilihan

Advertisement

alt

Angka Kemiskinan di Kabupaten Magelang Turun 0,82 Persen

News
| Rabu, 01 Februari 2023, 14:57 WIB

Advertisement

alt

Seru! Ini Detail Paket Wisata Pre-Tour & Post Tour yang Ditawarkan untuk Delegasi ATF 2023

Wisata
| Rabu, 01 Februari 2023, 14:37 WIB

Advertisement

Advertisement

Advertisement