Nadhif Basalamah Ungkap Pelecehan Daring di Media Sosial
Nadhif Basalamah mengungkap menjadi korban pelecehan daring di X dan TikTok yang memicu reaksi luas dan dukungan publik.
Logo FIFA - ist
Harianjogja.com, JOGJA—Federasi Sepak Bola Malaysia (FAM) menantikan keputusan penting dari FIFA terkait banding atas hukuman yang dijatuhkan kepada tujuh pemain naturalisasi mereka. Keputusan FIFA tersebut diprediksi akan diumumkan pada 30 Oktober 2025.
Prediksi tanggal tersebut disampaikan oleh Serge Vittoz, kuasa hukum FAM dari Charles Russell Speechlys, yang ditugaskan menangani persoalan sanksi terkait naturalisasi pemain ini.
"Keputusan [FIFA] kemungkinan besar akan diberitahukan kepada para pihak pada hari yang sama [30 Oktober 2025] atau segera setelahnya," kata Vittoz, seperti dilansir dari New Strait Times.
Serge Vittoz menegaskan bahwa tujuan utama FAM mengajukan banding ke FIFA adalah untuk meluruskan tuduhan pemalsuan dokumen serta melindungi karier profesional ketujuh pemain dari sanksi yang dijatuhkan.
Jika ada pihak yang tidak puas dengan hasil keputusan FIFA, Vittoz menambahkan bahwa mereka memiliki opsi untuk mengajukan permohonan kasus ke Pengadilan Arbitrase Olahraga (CAS).
Kepala Eksekutif Harimau Malaya, Rob Friend, menegaskan bahwa baik FAM maupun Tunku Ismail Sultan sama sekali tidak terlibat dalam dugaan pemalsuan dokumen pemain naturalisasi Malaysia tersebut.
"Penting untuk menjelaskan peran kami dalam proses naturalisasi. Sanksi FIFA menyangkut dokumentasi, dan dari perspektif tim nasional, kami tidak terlibat," ujar Friend, Jumat (17/10).
Friend menjelaskan bahwa peran timnas selama ini hanya sebatas mengidentifikasi pemain berbakat. FAM dan tujuh pemain naturalisasi Malaysia sebelumnya dijatuhi denda dan hukuman oleh FIFA atas tuduhan pemalsuan dokumen, tuduhan yang keras dibantah oleh kedua belah pihak.
Dikutip dari laman FIFA, FAM dilarang memainkan 7 pemain Timnas Malaysia, yakni Gabriel Felipe Arrocha, Facundo Tomás Garces, Rodrigo Julian Holgado, Imanol Javier Machuca, Joao Vitor Brandao Figueiredo, Jon Irazabal Iraurgui, dan Hector Alejandro Hevel Serrano. Ketujuh pemain itu juga dilarang beraktivitas sepak bola secara global.
Selain itu, FAM wajib membayar denda sebesar 350.000 franc Swiss (sekitar Rp7,3 miliar) kepada FIFA. Tujuh pemain yang terlibat dikenai denda masing-masing 2.000 CHF (sekitar Rp42 juta).
Selain denda fantastis, tujuh pemain asing yang membela Timnas Malaysia juga dijatuhi hukuman larangan beraktivitas sepak bola secara global.
Kasus ini bermula setelah pertandingan Kualifikasi Piala Asia 2027 melawan Vietnam pada 10 Juni 2025. FIFA menerima aduan mengenai kelayakan sejumlah pemain naturalisasi Harimau Malaya yang tampil dalam laga yang berakhir 4-0 untuk kemenangan Vietnam tersebut.
FIFA menyebutkan bahwa FAM mengajukan permohonan verifikasi kelayakan pemain dengan menggunakan dokumen yang telah direkayasa atau dipalsukan. Dari hasil penyelidikan ternyata, tujuh pemain yang terlibat dan diupayakan dimainkan melalui dokumen palsu. Komite Disiplin FIFA juga menyatakan FAM bersalah melanggar Pasal 22 Kode Disiplin FIFA (FDC) terkait pemalsuan dan kecurangan dokumen.
FIFA telah menyerahkan status kelayakan para pemain ini kepada Badan Tribunal Sepak Bola FIFA untuk dipertimbangkan lebih lanjut. FAM dan para pemain masih memiliki peluang untuk mengajukan banding ke Komite Banding FIFA sesuai mekanisme yang berlaku.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
AirAsia hentikan rute langsung Jakarta–Singapura mulai Juli 2026. Penumpang harus transit dan waktu tempuh bisa lebih dari 10 jam.
Pemkab Gunungkidul kaji listrik tenaga surya untuk antisipasi mati lampu, PLTS di Puskesmas Paliyan terbukti hemat hingga 50%.
Momen haru Soekarno Run 2026 Solo, Ahmad Luthfi dorong putranya di ajang lari, kirim pesan kuat tentang inklusivitas.
Prabowo targetkan BUMN tinggal 250 perusahaan tanpa PHK. Perampingan berpotensi hemat hingga Rp50 triliun per tahun.
Sebanyak 2.935 atlet ikuti Gubernur Jateng Cup Taekwondo 2026 di Semarang, jadi ajang pembinaan atlet muda berprestasi.