Advertisement
Laga PSIM Jogja vs Persija Jakarta Dipindah, Jakmania Kecewa
Logo BRI Super League. / Ist
Advertisement
Harianjogja.com, JOGJA—Pertandingan antara PSIM Jogja melawan Persija Jakarta pada pekan ke-29 Super League 2025/2026 dipastikan tidak lagi digelar di Stadion Sultan Agung, Bantul. Laga tersebut dipindahkan ke Stadion Kapten I Wayan Dipta, Bali, dan berlangsung tanpa penonton.
Keputusan ini langsung memicu kekecewaan, terutama dari kelompok suporter The Jakmania yang telah mempersiapkan perjalanan sejak jauh hari. Banyak di antara mereka sudah membeli tiket, memesan transportasi, hingga mengatur penginapan untuk mendukung tim secara langsung di Yogyakarta.
Advertisement
Pemindahan venue tertuang dalam surat resmi operator kompetisi I.League tertanggal 18 April 2026. Alasan yang disampaikan berkaitan dengan faktor keamanan dan kenyamanan setelah koordinasi antara panitia pelaksana PSIM, aparat keamanan, dan pihak operator.
Panitia pelaksana menilai tingginya animo penonton membuat kapasitas dan kesiapan Stadion Sultan Agung belum optimal untuk menggelar pertandingan dengan risiko yang ada.
BACA JUGA
Namun, pihak The Jakmania menilai keputusan tersebut terlalu mendadak dan berdampak luas. Dalam pernyataan resminya, mereka menyebut bahwa dengan perencanaan dan koordinasi yang lebih matang, pertandingan seharusnya tetap bisa digelar di lokasi awal dengan kehadiran penonton.
“Kami memahami bahwa pertimbangan utama adalah menjaga situasi kondusif. Namun, kami meyakini dengan mitigasi yang tepat, pertandingan tetap bisa berjalan aman dan terkendali,” tulis pernyataan Pengurus Pusat The Jakmania.
Pernyataan Resmi The Jakmania
— the Jakmania (@InfokomJakmania) April 19, 2026
Kami menyayangkan pemindahan laga PSIM Yogyakarta vs Persija Jakarta ke Bali tanpa penonton.
Keputusan ini merugikan banyak pihak—materi maupun emosional—dan kembali menjauhkan sepakbola dari suporternya.
Kami mendesak Federasi dan Operator Liga… pic.twitter.com/SO8DhXaQlq
Dampak keputusan ini tidak hanya dirasakan secara materi, tetapi juga emosional. Banyak suporter yang kehilangan kesempatan untuk hadir langsung sekaligus menjalin silaturahmi dengan pendukung tuan rumah.
“Kerugian yang timbul bukan hanya materi, tetapi juga emosional. Pertanyaannya, siapa yang akan bertanggung jawab?” lanjut pernyataan tersebut.
The Jakmania juga menyoroti fenomena laga tanpa penonton atau “laga usiran” yang dinilai merugikan perkembangan sepak bola nasional karena menjauhkan suporter dari tim yang mereka dukung.
Meski demikian, mereka tetap menghormati keputusan yang telah diambil. Namun, mereka meminta federasi dan operator kompetisi untuk bertanggung jawab atas dampak yang muncul akibat kebijakan tersebut.
Ke depan, mereka berharap tidak ada lagi keputusan mendadak yang merugikan suporter, terutama dalam hal pengelolaan risiko yang seharusnya bisa diantisipasi sejak awal.
Situasi ini menjadi pengingat bahwa dalam sepak bola modern, kehadiran suporter bukan hanya pelengkap, tetapi bagian penting yang ikut menentukan atmosfer dan keberlangsungan kompetisi.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Berita Lainnya
Berita Pilihan
Advertisement
Jalur Rel Cibeber-Lampegan Terganggu Perjalanan KA Siliwangi Disetop
Advertisement
Advertisement
Berita Populer
- Jadwal KRL Solo-Jogja 20 April 2026, Cek Jam Berangkat Terbaru
- Tanpa Perluasan Lahan, TPST Modalan Bantul Tingkatkan Daya Olah
- Strategi DIY Tekan Anak Putus Sekolah, Libatkan Desa
- Jadwal KRL Jogja-Solo 20 April 2026, Berangkat dari Tugu ke Palur
- Kemarau Mendekat, Akses Air Bersih di Gunungkidul Digenjot
Advertisement
Advertisement






