Lurah Condongcatur Sleman Jadi Tersangka, Kasus TKD Rp1 Miliar
Lurah Condongcatur RCS jadi tersangka kasus korupsi TKD Sleman. Penyewaan tanpa izin rugikan negara hingga Rp1 miliar.
Bek PSS Sleman, Saiful Djoge ditemui usai laga pada Senin (20/4/2026)./Harian Jogja -- Catur Dwi Janati
Harianjogja.com, SLEMAN—Di balik kemenangan PSS Sleman atas Persiku Kudus pada Senin (20/4/2026) di Stadion Maguwoharjo, tersemat satu nama yang menjadi kunci di sisi kanan pertahanan Super Elja.
Ia adalah Saiful Djoge, bek muda berusia 20 tahun yang meredam agresivitas tim tamu lewat penampilan lugas dan tanpa kompromi. Di sepanjang laga, Djoge tampil di bawah tekanan tinggi, namun justru di situ menjadi panggung keperkasaannya sebagai defender muda yang siap menghadapi pemain cepat seperti Hugo Samir.
Melawan skuad Persiku yang kerap mengandalkan tempo cepat dan pergerakan di sayap, Djoge bermain spartan dan tidak memberikan celah mudah. Di sisi kanan pertahanan PSS, ia menghalau setiap gelombang serangan lawan demi menjaga keutuhan lini belakang, sekaligus memastikan Maguwoharjo tetap menghasilkan tiga poin.
Selama 90 menit bermain, Djoge jatuh bangun, menebas bola, menyapu peluang, serta melakukan intersepsi demi intersepsi tanpa mengenal lelah. Misi pemain kelahiran Maluku Utara itu sederhana: memberikan yang terbaik untuk lambang PSS yang melekat di dadanya. “Alhamdulillah, diberikan kepercayaan oleh Coach, kami memberikan yang terbaik saja,” ungkapnya usai pertandingan.
Di sayap kanan, tanggung jawab Djoge tidak hanya kepada penyerang sayap, tetapi juga kepada sokongan full back Persiku yang kerap bergerak maju membantu penyerangan. Menghadapi Hugo Samir yang lincah dan berlari kencang membuat Djoge harus terus waspada, menjaga jarak, dan memilih momen tepat untuk menekel dan memutus permainan lawan.
Saat ditanya soal tantangan menghadapi pemain cepat Persiku, Djoge merendah. Baginya, menghadapi lawan lincah adalah bagian dari tugas rutin seorang bek. “Ya, sudah biasa itu,” katanya dengan nada tenang, seolah ingin menegaskan bahwa ia memang dilatih untuk menghadapi skenario seperti ini.
Namun di balik kesederhanaan jawabannya, motivasi Djoge terbaca jelas dari sikap lapangannya. Selain faktor taktis dan profesionalisme, ada satu dorongan tambahan yang membuatnya tampil lebih berapi: kehadiran suporter dan penonton yang memadati Stadion Maguwoharjo.
Bagi Djoge, bermain dengan sorakan suporter menjadi kebanggaan tersendiri dan dorongan mental untuk menunjukkan bahwa dirinya layak dipercaya di pos krusial tersebut. “Soalnya suporter juga nonton, semua nonton, [sebuah] kebanggaan, kan,” tandasnya, menegaskan bahwa ia tidak sekadar tampil demi poin, tetapi juga demi kebanggaan kolektif PSS Sleman.
Kemenangan atas Persiku memberi Djoge dan rekan‑rekan satu langkah lebih dekat dengan ambisi promosi ke Liga 1. Dalam pandangan pemain yang tampil di 21 dari 25 laga PSS itu, peluang promosi kini terbuka lebar, apalagi jika tim bisa konsisten mengumpulkan poin di sisa pertandingan.
“Semakin besarlah peluang promosi. Semoga kita menang dua laga terakhir ini,” ujarnya, menyiratkan target realistis sekaligus ambisius. Djoge pun menegaskan keinginan kuat untuk meraih poin saat PSS bertandang ke markas Persiba Balikpapan di Stadion Batakan.
“Semoga bisa mencuri poin di Balikpapan, semoga tiga poin, semoga kami promosi ke Liga 1,” katanya, mencerminkan optimisme yang dibangun atas kinerja kolektif dan kerja keras di Maguwoharjo.
Secara statistik, peran Djoge di Pegadaian Championship tercatat cukup mentereng untuk usia seumuran dia. Di situs resmi liga, ia tercatat tampil 21 kali dari 25 laga yang dijalani PSS, menyumbang satu gol dengan rincian empat tembakan dan dua shot on target.
Selain itu, akurasi distribusi umpannya tergolong tinggi dengan 433 umpan sukses dari 570 percobaan. Di sisi pertahanan, catatan tekel dan intersepnya terbilang solid: 21 tekel, 48 intersepsi, dan 26 kali sapuan ke dalam. Di laman Transfermarkt, nilai pasar Djoge diperkirakan mencapai sekitar Rp1,3 miliar, angka yang menandai potensi besar bagi bek muda tersebut di level kompetitif.
Performa Djoge di laga kontra Persiku pun tak lepas dari pengawasan dan apresiasi pelatih kepala PSS Sleman, Ansyari Lubis. Menurut Ansyari, sebelum menghadapi Kudus, Djoge sudah berjanji akan tampil habis‑habisan guna membantu tim meraih kemenangan. Janji itu dijawab dengan penampilan tegas di lini pertahanan, yang turut menjadi fondasi solid bagi tiga poin yang diraih Super Elja di Maguwoharjo.
“Jadi sebelum kami bermain lawan Kudus dia sudah janji sama kami, dia akan bermain full. Dan hari ini terbukti dia bisa melaksanakannya dengan baik,” ujar Ansyari.
“Jadi ya poin [tersendiri] dan mudah‑mudahan motivasi dia di pertandingan hari ini nanti di pertandingan selanjutnya juga sama seperti ini,” tegasnya, sekaligus menegaskan bahwa Djoge bukan sekadar bek cadangan, tetapi poros penting yang diproyeksikan sebagai pilar jangka panjang PSS di Liga 1.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Lurah Condongcatur RCS jadi tersangka kasus korupsi TKD Sleman. Penyewaan tanpa izin rugikan negara hingga Rp1 miliar.
Cek jadwal KRL Jogja-Solo Rabu 10 Juni 2026 lengkap dari pagi hingga malam, tarif murah Rp8.000 dan bebas macet.
Sekda DIY soroti alih fungsi lahan dan pentingnya data dalam kebijakan untuk menjaga ketahanan pangan dan pembangunan berkelanjutan.
Instalasi Sunflower Angel di Candi Prambanan viral, hadirkan wisata estetik dan pengalaman seni unik yang diserbu ribuan pengunjung.
BI DIY dan TPID luncurkan MRANTASI PKK 2026 untuk tekan inflasi lewat budidaya cabai dan ketahanan pangan rumah tangga.
Menag dorong kurikulum ekoteologi di pesantren untuk bangun kesadaran cinta alam, manusia, dan Tuhan secara utuh.