Starting XI Final Championship PSS vs Garudayaksa: Riko-Andik Starter
PSS Sleman dan Garudayaksa FC menurunkan kekuatan terbaik pada final Pegadaian Championship 2025/2026 di Stadion Maguwoharjo.
Pelatih Kepala PSS Sleman, Ansyari Lubis (tengah) dalam Pre Match Press Conference pada Minggu (16/11/2025)./Harian Jogja -- Catur Dwi Janati
Harianjogja.com, SLEMAN— PSS Sleman berhasil mengamankan tiga poin krusial seusai menundukkan Persiku dalam laga yang berlangsung pada Senin (20/4/2026). Walaupun sukses menjaga tren positif, tim berjuluk Super Elja ini harus bekerja ekstra keras untuk membongkar pertahanan rapat lawan yang menguras stamina para pemain.
Pelatih Kepala PSS Sleman, Ansyari Lubis, mengungkapkan bahwa timnya sebenarnya tidak menemui kendala berarti pada paruh pertama pertandingan. Namun, strategi bertahan total yang diterapkan Persiku dengan menempatkan lima pemain di lini belakang membuat ruang gerak serangan PSS menjadi sangat terbatas.
“Sebenarnya bukan kesulitan ya. Artinya mereka kan pakai lima bek gitu. Jadi mereka bermain sangat rapat,” jelas Ansyari dalam konferensi pers seusai pertandingan.
Kunci Kemenangan dari Bola Mati Kebuntuan PSS baru terpecahkan menjelang berakhirnya babak pertama, tepatnya pada menit ke-40. Gol semata wayang tersebut lahir dari skema bola mati yang dieksekusi dengan sempurna. Riko Simanjuntak melepaskan sepak pojok akurat yang disambut oleh Terens Puhiri.
Meski bola sempat membentur tiang gawang, Frederic Injai dengan sigap menyambar bola liar lewat sundulan yang menggetarkan jala lawan. Ansyari menegaskan bahwa pemanfaatan set piece merupakan bagian krusial dalam sepak bola modern yang berhasil dimaksimalkan oleh timnya.
“Dalam sepak bola set piece itu sudah menjadi satu tren sepak bola. Jadi itu yang bisa kami manfaatkan,” tambahnya.
Evaluasi Efektivitas dan Ritme Meski mendominasi dan menciptakan banyak peluang di babak pertama, lini depan PSS dinilai kurang klinis dalam penyelesaian akhir. Ketidakmampuan mengonversi peluang menjadi gol tambahan memaksa para pemain terus melakukan tekanan tinggi, yang pada akhirnya berdampak pada terkurasnya stamina.
“Peluang kami banyak, tapi tidak bisa dikonversi gol. Itu yang membuat tenaga kami banyak terkuras,” tandas Ansyari.
Menatap laga selanjutnya, tim pelatih akan fokus memperbaiki pengaturan ritme permainan agar penggunaan energi lebih efisien. Ansyari menekankan pentingnya keseimbangan antara bermain cepat dan melakukan pressing agar pemain tidak mudah kelelahan sebelum laga berakhir.
“Sehingga mungkin kami evaluasi, kami lebih harus bisa punya ritme. Jadi kapan kami main cepat, kapan kami pressing, ini yang ke depan harus kita perbaiki kembali,” tutupnya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
PSS Sleman dan Garudayaksa FC menurunkan kekuatan terbaik pada final Pegadaian Championship 2025/2026 di Stadion Maguwoharjo.
Komdigi meminta seluruh platform digital menyelesaikan self assessment PP Tunas sebelum 6 Juni 2026 untuk perlindungan anak di ruang digital.
Pemkot Yogyakarta kembangkan Program Bule Mengajar di kampung wisata untuk memperkuat pariwisata berbasis masyarakat dan UMKM lokal.
Keluarga korban romusha asal Belanda mengunjungi Monumen Kereta Api Pekanbaru untuk mengenang tragedi kerja paksa era Perang Dunia II.
Pasar motor listrik di Jogja terus tumbuh. Indomobil eMotor menyebut Sleman menjadi pasar terbesar dengan penjualan menjanjikan.
Jadwal terbaru KRL Solo-Jogja Jumat 15 Mei 2026 lengkap dari Palur hingga Yogyakarta dengan tarif Rp8.000 dan perjalanan sejak pagi.