Gaji Wantimpres Rp76,5 Juta per Bulan, Ini Aturannya
Gaji Wantimpres ditetapkan Rp76,5 juta per bulan. Selain hak keuangan, anggota Wantimpres mendapat fasilitas sesuai ketentuan bagi menteri.
Shaun Evans/ AFC
Harianjogja.com, JOGJA—Kontroversi muncul di ajang Piala Dunia 2026 setelah seorang analis Video Assistant Referee (VAR) asal Australia, Shaun Evans, terekam kamera melakukan gestur tangan yang memicu perdebatan di kalangan pemerhati sepak bola dan organisasi antirasisme internasional.
Insiden tersebut terjadi menjelang pertandingan Grup E antara Jerman dan Curacao pada Minggu (14/6/2026). Saat siaran resmi menampilkan ruang kerja tim VAR, Evans terlihat membentuk simbol "OK" dengan tangan kanannya di bawah pinggang. Cuplikan singkat itu kemudian menyebar luas di media sosial dan memunculkan beragam interpretasi.
Organisasi Fare, yang selama ini bekerja sama dengan FIFA dan UEFA dalam memantau tindakan rasisme, diskriminasi, dan ujaran kebencian di sepak bola, menilai gestur tersebut memiliki kemiripan dengan simbol yang dalam beberapa tahun terakhir dikaitkan dengan kelompok supremasi kulit putih.
Dalam pernyataannya, Fare menyebut para ahli yang mereka konsultasikan menganggap simbol tersebut menyerupai gestur "OK" terbalik yang pernah digunakan oleh kelompok ekstrem sayap kanan sebagai penanda identitas.
"Pendapat para ahli kami menyatakan gestur tersebut jelas menyerupai simbol tangan ‘OK’ terbalik yang digunakan sebagai simbol ‘white power’ di kalangan kelompok sayap kanan ekstrem global," demikian pernyataan Fare, seperti dikutip dari The Guardian, Senin (15/6/2026).
Atas dasar itu, organisasi tersebut mendesak FIFA untuk mengambil langkah tegas dan mengevaluasi keterlibatan Evans dalam sisa turnamen.
Namun demikian, interpretasi terhadap gestur tersebut tidak sepenuhnya tunggal. Sejumlah pengguna media sosial di Australia menyebut tindakan Evans kemungkinan merupakan bagian dari permainan populer yang dikenal sebagai "Circle Game" atau "Gotcha".
Permainan yang telah lama dikenal di berbagai negara itu dilakukan dengan membentuk simbol "OK" di bawah pinggang. Seseorang yang tanpa sengaja melihat simbol tersebut dianggap kalah dalam permainan iseng tersebut.
Perdebatan semakin berkembang karena simbol yang sama juga pernah menjadi perhatian organisasi antikekerasan dan anti-ekstremisme.
Pada 2019, Anti-Defamation League (ADL) memasukkan simbol "OK" dalam basis data simbol kebencian mereka. Meski demikian, ADL juga menegaskan bahwa konteks penggunaan menjadi faktor utama dalam menentukan apakah simbol tersebut digunakan sebagai ekspresi kebencian atau sekadar gestur biasa.
Direktur Center on Extremism ADL, Oren Segal, sebelumnya menjelaskan bahwa simbol tersebut memiliki penggunaan yang beragam dan tidak selalu bermakna politis. Karena itu, penilaian terhadap suatu insiden harus mempertimbangkan latar belakang, tujuan, dan konteks penggunaannya.
Fare mempertanyakan alasan gestur tersebut dilakukan ketika kamera siaran resmi tengah menyorot ruang VAR yang disaksikan jutaan penonton di seluruh dunia.
Organisasi itu juga mencatat bahwa dalam beberapa pertandingan berikutnya, tayangan yang menampilkan panel VAR sebelum laga tidak lagi muncul seperti sebelumnya, meskipun belum ada konfirmasi apakah hal tersebut berkaitan dengan insiden tersebut.
Hingga Senin (15/6/2026), Shaun Evans belum memberikan pernyataan resmi terkait kontroversi yang berkembang. FIFA juga belum mengeluarkan tanggapan atau mengumumkan adanya penyelidikan terhadap insiden tersebut.
Evans sendiri merupakan salah satu dari sekitar 30 analis video yang ditunjuk FIFA untuk bertugas selama Piala Dunia 2026 yang berlangsung di Amerika Serikat, Kanada, dan Meksiko. Turnamen ini menjadi pengalaman pertamanya bekerja di ajang Piala Dunia.
Kasus tersebut kembali menunjukkan bagaimana simbol atau gestur yang tampak sederhana dapat memunculkan interpretasi berbeda di ruang publik global. Di era media sosial, peristiwa singkat yang terekam kamera dapat berkembang menjadi kontroversi internasional dan memicu tuntutan klarifikasi dari berbagai pihak.
Kini perhatian tertuju pada langkah FIFA dalam merespons polemik tersebut, terutama untuk memastikan komitmen penyelenggara turnamen terhadap upaya melawan diskriminasi dan segala bentuk simbol kebencian dalam sepak bola.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Gaji Wantimpres ditetapkan Rp76,5 juta per bulan. Selain hak keuangan, anggota Wantimpres mendapat fasilitas sesuai ketentuan bagi menteri.
Kemenkeu masih mengkaji Whoosh untuk menjaga keberlanjutan layanan sekaligus mencari cara meminimalkan dampaknya terhadap beban fiskal.
UGM mencatat 35 komersialisasi paten dengan nilai royalti Rp15 miliar, tertinggi di Indonesia, disusul ITB dan IPB.
Komdigi menegaskan tak semua paket internet wajib rollover, tetapi sisa kuota harus tetap dilindungi tanpa biaya tambahan.
Pendaftaran Pelatihan Vokasi Nasional 2026 Tahap 6 dibuka hingga 14 Oktober. Simak jadwal seleksi, pengumuman, dan pelatihannya.
Pemuda Mojosongo Solo YD diduga ditangkap Densus 88. Keluarga mempertanyakan perkara dan meminta penjelasan terkait proses hukum.