Larangan Front Holeshot Device di Assen Ubah Peta Persaingan

Jumali
Jumali Selasa, 23 Juni 2026 10:07 WIB
Larangan Front Holeshot Device di Assen Ubah Peta Persaingan

Foto ilustrasi Motogp. - Freepik


Harianjogja.com, JOGJA—Gelaran MotoGP Belanda di Sirkuit Assen akhir pekan ini berubah drastis setelah Komisi Grand Prix mengambil langkah cepat melarang penggunaan front holeshot device. Keputusan mendadak ini langsung mengguncang persiapan tim dan pembalap dalam menghadapi sesi start yang selama ini menjadi salah satu momen paling krusial di balapan.

Perubahan aturan tersebut diumumkan pada Senin (22/6/2026) dan langsung berlaku mulai seri Belanda, lebih cepat dari rencana awal yang seharusnya baru diterapkan pada akhir musim 2026.
Dilansir dari Crash, kebijakan ini muncul setelah rangkaian insiden berbahaya di tikungan pertama pada seri MotoGP Catalunya dan Balaton Park Grand Prix, yang memicu evaluasi menyeluruh terhadap sistem perangkat ketinggian suspensi.

Front holeshot device selama ini digunakan untuk membantu motor mendapatkan traksi maksimal saat start dengan menekan bagian depan agar tidak terangkat. Namun, risiko muncul ketika perangkat tersebut dinonaktifkan di tengah akselerasi. Pembalap harus melakukan pengereman ekstrem untuk mengembalikan posisi suspensi ke normal, yang dalam beberapa kasus menciptakan efek kejutan di lintasan dan meningkatkan potensi tabrakan di barisan belakang.

Situasi ini membuat Komisi Grand Prix mengambil langkah percepatan regulasi meski masih menuai pro dan kontra. Sebagian pembalap menilai kebijakan ini dapat meningkatkan aspek keselamatan di fase start, namun sebagian lainnya menyoroti potensi risiko baru terutama pada kondisi lintasan basah atau grip rendah yang belum sepenuhnya teruji dalam skenario balapan penuh.

Uji coba simulasi start tanpa perangkat depan tersebut sebenarnya sudah dilakukan dalam sesi latihan tambahan di Brno Circuit akhir pekan lalu. Namun, hasilnya belum cukup meyakinkan seluruh pihak di paddock, sehingga perdebatan masih berlanjut hingga menjelang balapan di Assen.

Tak hanya soal perangkat start, Komisi Grand Prix juga memperkenalkan perubahan besar pada tata letak grid yang akan mulai diberlakukan pada MotoGP Jerman pertengahan Juli 2026. Regulasi ini berlaku untuk seluruh kelas di bawah naungan MotoGP, mulai dari Moto3, Moto2, hingga kelas utama MotoGP.

Formasi tetap mempertahankan pola 3x3, namun jarak antar baris kini diperlebar dari 9 meter menjadi 12 meter, sementara jarak antar pembalap bertambah dari 3 meter menjadi 4 meter. Perubahan ini membuat grid start tampak lebih panjang dan memberi dampak besar pada strategi kualifikasi, karena posisi terdepan kini memiliki keuntungan lebih signifikan saat menuju tikungan pertama.

Dampaknya terasa langsung bagi pembalap yang memulai dari posisi belakang, karena mereka harus menempuh jarak lebih panjang dalam kondisi padat sebelum mencapai racing line ideal. Kondisi ini diprediksi akan mengubah pendekatan strategi tim dalam menentukan setelan motor dan taktik kualifikasi di seri-seri berikutnya.

Selain itu, MotoGP juga telah mengumumkan regulasi jangka panjang terkait kuota motor untuk musim 2028. Setiap pabrikan nantinya hanya diperbolehkan menurunkan maksimal enam motor di lintasan, yang mencakup tim pabrikan serta maksimal dua tim satelit.

Kebijakan ini muncul sebagai upaya menjaga keseimbangan kompetisi di grid dan mencegah dominasi berlebihan dari satu pabrikan. Saat ini, Ducati menjadi salah satu contoh pabrikan yang sempat mendominasi dengan jumlah motor lebih banyak di grid pada musim sebelumnya, sehingga regulasi ini dipandang sebagai langkah korektif untuk menjaga persaingan tetap seimbang dalam jangka panjang.

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Share

Jumali
Jumali Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online