Beauty Enthusiast Rasakan Sensasi Meracik Lulur Mandi ala Keraton
Konsep ini menghadirkan cara baru bagi para beauty enthusiast untuk menikmati perawatan tubuh tanpa harus menjalani rangkaian perawatan yang rumit.
Suporter tim nasional Argentina membentangkan bendera negara mereka di depan Stadion Atlanta, Amerika Serikat, Rabu (15/7/2026). (Antara/Michael Siahaan)
Harianjogja.com, JAKARTA—Timnas Argentina sekali lagi menunjukkan bahwa gelar juara dunia bukan hanya ditentukan oleh kualitas pemain, tetapi juga kekuatan mental. Ketika Inggris memilih bertahan setelah unggul lebih dulu, Albiceleste justru menemukan momentum untuk bangkit dan memastikan tiket ke final Piala Dunia 2026 dengan kemenangan 2-1 pada semifinal yang berlangsung di Stadion Atlanta, Amerika Serikat, Kamis (16/7/2026).
Keberhasilan Argentina membalikkan keadaan menjadi bukti bahwa mereka mampu menjaga intensitas permainan hingga menit-menit akhir pertandingan. Sebaliknya, Inggris gagal mempertahankan agresivitas yang sempat membawa mereka unggul pada awal babak kedua.
The Three Lions membuka keunggulan melalui Anthony Gordon pada menit ke-55 setelah memanfaatkan kerja sama apik Harry Kane, Declan Rice, dan Morgan Rogers. Gol tersebut sempat menempatkan Inggris di atas angin untuk melangkah ke partai puncak.
Namun, keputusan bermain lebih defensif setelah unggul justru menjadi titik balik pertandingan. Inggris yang sebelumnya mendominasi lini tengah dan tampil agresif mulai lebih banyak bertahan di wilayah permainannya sendiri.
Kondisi itu memberikan ruang bagi Argentina untuk mengambil alih kendali pertandingan. Tim asuhan Lionel Scaloni secara perlahan meningkatkan intensitas serangan dan memaksa lini belakang Inggris bekerja lebih keras sepanjang babak kedua.
Lionel Messi kembali membuktikan kualitasnya sebagai otak permainan Argentina. Dua assist yang diciptakannya menjadi pembeda dalam laga tersebut. Kapten Albiceleste itu juga tercatat melepaskan tujuh umpan silang sepanjang pertandingan, dengan sebagian besar berhasil mengancam pertahanan lawan.
Ketika kawalan terhadap Messi mulai mengendur, gelandang Argentina, Enzo Fernandez, tampil dominan di lini tengah. Pemain Chelsea tersebut mencatatkan 87 operan dan empat percobaan tembakan, termasuk satu gol yang menghidupkan harapan Argentina untuk membalikkan keadaan.
Argentina juga memperlihatkan kematangannya dalam menghadapi tim yang menerapkan strategi pertahanan garis rendah atau low-block. Situasi tersebut bukan hal baru bagi Albiceleste sepanjang Piala Dunia 2026.
Sebelum semifinal berlangsung, Argentina telah menjadi tim paling produktif di turnamen dengan koleksi 17 gol dan memiliki nilai expected goals (xG) tertinggi sebesar 13,9. Statistik tersebut menunjukkan efektivitas mereka dalam menciptakan peluang dan menyelesaikannya menjadi gol.
Pada babak pertama, Inggris sebenarnya mampu meladeni permainan agresif Argentina. Bahkan, pernyataan asisten pelatih Anthony Barry saat jeda pertandingan yang menyebut Inggris akan terus bermain agresif sempat terlihat sesuai dengan jalannya pertandingan.
Namun, situasi berubah drastis setelah Inggris unggul. Thomas Tuchel memilih memperkuat pertahanan dengan melakukan sejumlah pergantian pemain yang lebih berorientasi menjaga keunggulan.
Di sisi lain, Lionel Scaloni merespons dengan memasukkan Rodrigo de Paul, Gonzalo Montiel, Nicolas Otamendi, dan Lautaro Martinez untuk menjaga agresivitas permainan Argentina. Pergantian tersebut terbukti efektif meningkatkan tekanan kepada Inggris.
Puncaknya terjadi pada lima menit terakhir waktu normal pertandingan. Dua umpan Lionel Messi berhasil dikonversi menjadi gol oleh Enzo Fernandez dan Lautaro Martinez untuk mengubur mimpi Inggris tampil di final.
Semifinal ini kembali menunjukkan bahwa Argentina bukan hanya memiliki pemain-pemain berkualitas, tetapi juga mental juara yang mampu membawa mereka bangkit dalam situasi sulit. Ketika Inggris memilih bermain aman, Argentina justru semakin percaya diri untuk terus menyerang hingga peluit akhir dibunyikan.
Menghadapi tim dengan mentalitas seperti Argentina membutuhkan keberanian untuk terus bermain menyerang dan mampu mengelola tekanan sepanjang pertandingan. Pelajaran itu menjadi sangat mahal bagi Inggris pada semifinal Piala Dunia 2026.
Kini, Albiceleste tinggal selangkah lagi untuk mempertahankan gelar juara dunia yang mereka raih pada edisi sebelumnya. Dengan performa dan mentalitas yang ditunjukkan sepanjang turnamen, Argentina kembali membuktikan bahwa mereka merupakan salah satu tim yang paling siap menghadapi tekanan di panggung terbesar sepak bola dunia.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Sumber : Antara
Konsep ini menghadirkan cara baru bagi para beauty enthusiast untuk menikmati perawatan tubuh tanpa harus menjalani rangkaian perawatan yang rumit.
Pemerintah mempercepat pembangunan KSPEAN Papua Selatan melalui kolaborasi pusat dan daerah untuk memperkuat ketahanan pangan nasional.
Bapanas menyiapkan 997,2 ribu ton bantuan pangan beras untuk 33,24 juta keluarga penerima manfaat yang akan disalurkan mulai Agustus 2026.
Menteri Koperasi Ferry Juliantono menegaskan pengelolaan tambang dan sektor strategis bukan diperuntukkan bagi Koperasi Desa Merah Putih.
Leandro Trossard resmi meninggalkan Arsenal dan bergabung dengan Besiktas. Penyerang Belgia itu dikontrak selama tiga tahun oleh klub Liga Turki.
Argentina membalikkan keadaan dan menyingkirkan Inggris 2-1 di semifinal Piala Dunia 2026. Mental juara Albiceleste kembali menjadi pembeda.