Maracana ke MetLife: Perjalanan Pahit Messi di Tiga Final

Jumali
Jumali Senin, 20 Juli 2026 16:57 WIB
Maracana ke MetLife: Perjalanan Pahit Messi di Tiga Final

Lionel Messi/Instagram: Reuterssport

Harianjogja.com, JOGJA—Lionel Messi kembali menjadi pusat perhatian dunia setelah Argentina gagal mempertahankan gelar Piala Dunia. Kekalahan 0-1 dari Spanyol di final Piala Dunia 2026 memunculkan pemandangan emosional ketika sang kapten meneteskan air mata di lapangan, memicu spekulasi bahwa turnamen ini bisa menjadi penampilan terakhirnya di panggung sepak bola terbesar dunia.

Bagi banyak penggemar Argentina, tangisan tersebut bukan hanya tentang hasil akhir pertandingan. Momen itu menjadi simbol perjalanan panjang seorang pemain yang selama lebih dari satu dekade harus menghadapi tekanan, ekspektasi, kegagalan, hingga akhirnya mencapai puncak kejayaan bersama negaranya.

Pada partai final yang berlangsung di New York New Jersey Stadium, Minggu (19/7/2026), Argentina harus mengakui keunggulan Spanyol setelah pertandingan berlangsung hingga babak tambahan waktu.

Gol tunggal Ferran Torres pada menit ke-106 memastikan kemenangan La Roja sekaligus menggagalkan upaya Argentina mempertahankan trofi yang diraih pada Piala Dunia 2022 di Qatar.

Kegagalan tersebut terasa semakin menyakitkan karena terjadi ketika Messi masih mampu memberikan kontribusi besar sepanjang turnamen. Di usia 39 tahun, ia tetap menjadi motor permainan Argentina dan membuktikan dirinya belum kehilangan pengaruh di level tertinggi sepak bola dunia.

Namun, kekalahan di final bukanlah pengalaman baru bagi Messi.

Sepanjang karier internasionalnya, ia beberapa kali harus menerima kenyataan pahit ketika berada sangat dekat dengan gelar.

Salah satu luka terdalam terjadi pada final Piala Dunia 2014.

Saat itu Argentina menghadapi Jerman di Stadion Maracana, Brasil.

Messi yang sedang berada pada puncak performa berhasil membawa Argentina melaju hingga partai puncak.

Ia mencetak empat gol sepanjang turnamen dan menjadi figur sentral dalam perjalanan Albiceleste menuju final.

Meski tampil dominan dalam beberapa fase pertandingan, Argentina gagal memaksimalkan sejumlah peluang emas yang tercipta.

Peluang dari Gonzalo Higuain, Rodrigo Palacio, hingga Messi sendiri tidak mampu dikonversi menjadi gol.

Petaka datang ketika Mario Gotze mencetak gol pada menit ke-113 dan membawa Jerman menang 1-0.

Messi kemudian menerima penghargaan Golden Ball sebagai pemain terbaik turnamen, tetapi ekspresinya menunjukkan kekecewaan mendalam karena gagal mengangkat trofi yang paling diidamkan.

Dua tahun berselang, luka baru kembali muncul di Amerika Serikat.

Pada final Copa America 2016, Argentina menghadapi Chile di MetLife Stadium, East Rutherford, stadion yang kini kembali menjadi saksi kesedihan Argentina. Pertandingan berakhir imbang tanpa gol dan harus ditentukan melalui adu penalti.

Messi yang menjadi penendang pertama gagal menjalankan tugasnya setelah bola melambung di atas mistar gawang.

Chile akhirnya menang 4-2 dalam adu penalti.

Kekalahan itu membuat Argentina menelan kegagalan di tiga final besar secara beruntun.

Momen tersebut menjadi salah satu titik emosional paling berat dalam karier Messi.

Selepas pertandingan, ia menangis dan bahkan mengumumkan pensiun dari tim nasional Argentina.

"Saya sudah mencoba segalanya, tetapi tidak bisa," katanya saat itu.

Meski demikian, keputusan tersebut tidak berlangsung lama.

Messi kembali memperkuat Argentina dan perlahan mengubah jalan ceritanya bersama tim nasional.

Perjuangan panjang itu akhirnya terbayar ketika Argentina menjuarai Copa America 2021, kemudian meraih Piala Dunia 2022, dan kembali mengangkat trofi Copa America 2024.

Kesuksesan tersebut mengubah narasi yang selama bertahun-tahun melekat pada Messi. Dari sosok yang sering dikaitkan dengan kegagalan di final, ia menjelma menjadi kapten yang berhasil membawa Argentina memasuki salah satu periode paling sukses dalam sejarah modern mereka.

Namun, final Piala Dunia 2026 menghadirkan kenyataan berbeda.

Argentina kembali terhenti satu langkah sebelum gelar juara.

Di sisi lain, usia Messi yang kini menginjak 39 tahun membuat peluang tampil pada Piala Dunia berikutnya menjadi semakin kecil.

Karena itu, banyak pendukung Argentina memandang tangisan Messi di New York bukan sekadar ekspresi kekalahan, melainkan kemungkinan penutup sebuah perjalanan panjang yang penuh pengorbanan.

Bagi sepak bola Argentina, hasil akhir di Piala Dunia 2026 memang menyisakan kekecewaan.

Namun bagi para penggemar, warisan Messi tidak akan diukur dari satu pertandingan atau satu trofi semata.

Selama hampir dua dekade, ia telah menjadi wajah Argentina di panggung dunia dan memberikan berbagai momen yang akan terus dikenang, mulai dari kegagalan yang menyakitkan hingga kejayaan yang akhirnya berhasil diraih bersama La Albiceleste.

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Share

Jumali
Jumali Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online