Comeback Dramatis! Timnas Voli Putri Indonesia Taklukkan Vietnam
Timnas Voli Putri Indonesia menang comeback 3-2 atas Vietnam di SEA V Cup 2026 leg 2. Medi Yoku jadi bintang usai tertinggal dua set, skor akhir 15-9 di set kel
Ilustrasi wasit./freepik
Harianjogja.com, JOGJA—Asosiasi Sepak Bola Korea Selatan atau Korea Football Association (KFA) menghadapi sorotan tajam setelah dokumen audit pemerintah mengungkap dugaan pembiayaan layanan seksual bagi wasit asing yang memimpin pertandingan internasional tim nasional Korea Selatan.
Temuan tersebut pertama kali dipublikasikan media Korea Selatan, JTBC, yang memperoleh dokumen audit komprehensif dari Kementerian Kebudayaan, Olahraga, dan Pariwisata Korea Selatan (MCST). Dilansir dari VnExpress, audit itu disusun pada 2016 namun belum pernah dipublikasikan secara luas hingga kini kembali mencuat ke ruang publik.
Berdasarkan hasil audit, praktik yang disebut sebagai "jamuan tidak pantas" itu terjadi dalam rentang Maret 2011 hingga Maret 2012. Pemerintah Korea Selatan menyimpulkan terdapat sedikitnya tujuh kesempatan di mana fasilitas tersebut diberikan kepada wasit dan pengawas pertandingan asing yang bertugas dalam laga tim nasional Korea Selatan.
Tujuh pertandingan yang masuk dalam temuan audit terdiri atas tiga pertandingan kualifikasi Piala Dunia dan Olimpiade serta empat laga persahabatan internasional. Lebih dari 10 wasit dan pengawas pertandingan internasional disebut menerima fasilitas tersebut.
Kartu Kredit Resmi KFA Digunakan
Laporan audit mengungkap pembayaran dilakukan menggunakan kartu kredit resmi milik KFA. Transaksi tercatat dilakukan di sejumlah tempat pijat dan lokasi hiburan dewasa di Korea Selatan.
Nilai transaksi bervariasi, mulai dari beberapa ratus ribu won hingga lebih dari 1 juta won atau sekitar US$700 untuk setiap kunjungan.
Salah satu kasus yang tercantum dalam laporan terjadi pada 29 Februari 2012 saat Korea Selatan menjamu Kuwait di Seoul World Cup Stadium dalam laga kualifikasi Piala Dunia 2014.
Menurut catatan audit, kartu kredit KFA digunakan pada dini hari untuk membayar 500.000 won di sebuah tempat pijat di kawasan Gangnam, Seoul.
Setelah mencocokkan keterangan staf Komite Wasit KFA, data transaksi kartu kredit, dan dokumen pendukung lainnya, tim audit menyimpulkan pengeluaran tersebut digunakan untuk menyediakan layanan seksual bagi dua perangkat pertandingan.
Pertandingan itu dipimpin wasit asal Jepang, Yuichi Nishimura.
Seorang staf Komite Wasit KFA yang diperiksa auditor mengakui biaya yang dibayarkan di tempat pijat tersebut mencakup layanan seksual. Dalam keterangannya, staf tersebut juga menyebut permintaan serupa kerap disampaikan wasit asing saat berada di bandara maupun hotel.
Menurut hasil audit, KFA kemudian mengatur fasilitas tersebut dan praktik itu disebut cukup lazim terjadi pada periode tersebut.
Dugaan Terjadi pada Kualifikasi Olimpiade
Kasus lain tercatat pada 22 September 2011 setelah Korea Selatan mengalahkan Oman dalam babak final kualifikasi Olimpiade London 2012 di Changwon.
Sekitar dua setengah jam setelah pertandingan berakhir, seorang pegawai KFA tercatat melakukan pembayaran sebesar 760.000 won di sebuah tempat pijat setempat.
Hasil pemeriksaan menyimpulkan dana tersebut digunakan untuk menjamu empat perangkat pertandingan yang bertugas dalam laga tersebut.
Wasit utama pertandingan itu adalah Ravshan Irmatov dari Uzbekistan yang dikenal sebagai salah satu wasit paling berpengalaman di Asia.
Tak hanya itu, laporan audit juga menemukan transaksi yang dilakukan ketika pertandingan masih berlangsung.
Pada 14 Maret 2012, saat Korea Selatan menghadapi Qatar dalam laga kualifikasi Olimpiade London 2012, kartu kredit KFA digunakan untuk membayar 198.000 won di sebuah tempat pijat bergaya China di kawasan Gangnam.
Temuan tersebut semakin memperkuat dugaan adanya pola penggunaan dana organisasi untuk keperluan yang tidak berkaitan dengan penyelenggaraan pertandingan.
Belum Ada Respons Resmi
Hingga saat ini, KFA maupun FIFA belum memberikan pernyataan resmi terkait isi laporan audit tersebut.
Munculnya kembali dokumen audit ini berpotensi mencoreng reputasi sepak bola Korea Selatan yang selama ini dikenal sebagai salah satu kekuatan utama sepak bola Asia dan langganan tampil di putaran final Piala Dunia.
Kasus ini juga memunculkan kembali perdebatan mengenai tata kelola organisasi sepak bola dan pengawasan penggunaan anggaran dalam federasi olahraga.
Selain berdampak pada citra KFA, temuan audit tersebut menjadi pengingat penting bahwa integritas sepak bola tidak hanya ditentukan oleh apa yang terjadi di lapangan, tetapi juga oleh tata kelola dan perilaku para pemangku kepentingan di balik layar.
Apabila terbukti melanggar aturan etika maupun regulasi internasional, kasus semacam ini dapat memicu investigasi lanjutan serta evaluasi terhadap sistem pengawasan yang diterapkan dalam federasi sepak bola.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Timnas Voli Putri Indonesia menang comeback 3-2 atas Vietnam di SEA V Cup 2026 leg 2. Medi Yoku jadi bintang usai tertinggal dua set, skor akhir 15-9 di set kel
Hasil Seleksi Kompetensi PPPK Sekolah Rakyat 2026 resmi diumumkan Kemensos. Cek kelulusan melalui link s.kemensos.go.id/1i3n atau portal SSCASN BKN.
Vietnam memastikan diri sebagai juara Grup A Piala AFF 2026 setelah mengalahkan Kamboja 3-1. The Golden Stars finis dengan 10 poin dan melaju ke semifinal.
Tidur 12 jam saat akhir pekan tidak bisa menghapus utang tidur selama seminggu. Ahli menjelaskan dampak kurang tidur dan cara yang tepat menjaga kesehatan.
Nadin Amizah merilis single Moonlight yang ditulis sejak SMA. Lagu berbahasa Inggris ini menjadi pembuka album ketiga bertajuk Laika, Yang Ditinggalkan.
Timnas Indonesia gagal lolos ke semifinal Piala AFF 2026 setelah hanya bermain imbang 1-1 melawan Singapura. Garuda dominan, tetapi gol Ilhan Fandi memastikan t